Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Benny Malem

Hidup itu dinamis. Semangat adalah motor penggerak. Berbuat adalah manifestasi. Berkarya adalah amal ibadah.

Ngangkang itu..Indah

OPINI | 11 January 2013 | 00:17 Dibaca: 592   Komentar: 0   0

Gara-gara ngangkang ramai jadi berita heboh di berbagai media, membuat penasaran untuk rembugan. Pertama yang dicari adalah KUBI WJS Poerwadarminta. Ternyata, kata ngangkang tidak ada dalam kamus di atas. Dekat dengan kata ngangkang adalah nganga yang berarti terbuka (tt mulut dsb). Karena ngangkang yang diramaikan berkaitan dengan kegiatan pinggang ke bawah, maka kita sepakati saja bahwa ngangkang itu adalah akronim dari nganga selangkangan. Tidak bedanya dengan akronim ojeg, ongkos jègang. Jègang dulu, baru bayar ongkos. Kira-kira begitu.

Ngangkang pada Suku tertentu berhubungan dengan aksi yang kurang pantas, lebih-lebih bila dilakukan oleh perempuan dewasa pada saat duduk diam. Ibu akan marah atau anak kena tegur, bila ada anak gadis duduk ngangkang, lebih-lebih lagi ada tamu. Takut terlihat dan bisa dapat malu. Pokoknya ngangkang itu posisi yang tidak elok bagi perempuan bila sedang duduk. Ngangkang aman bagi perempuan bila dilakukan di kamar tidur, sendirian.

Bagaimana kalau ngangkang dijadikan Perda?. Nah…ini baru berita, atau berita baru. Di era reformasi ini, sah-sah saja setiap orang membuat aksi sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan, undang2 dan norma2 yang berlaku di masyarakat. Keinginan Pemda Lhokseumawe untuk membuat perda atau apa nanti namanya untuk mengatur ngangkang bagi perempuan bersepeda motor, bisa saja terwujud bila masyarakat menerima aturan itu.

Ide Walikota Lhokseumawe sebenarnya bukan hal yang aneh dan nyeleneh. Pangkal ramainya pemberitaan, barangkali penggunaan kosa kata “ngangkang” saja yang tidak terdapat dalam KUBI dan berefek multitafsir. Lepas pro dan kontra, sebaiknya pemda Lhokseumawe lebih giat lagi  menertibkan disiplin berlalu lintas karena masih banyak pula warga kota yang berkendara motor (kereta) tidak menggunakan helm, berboncengan tiga orang, tidak menyalakan lampu, dsb. Kalau semua ini belum tertib, bagaimana peraturan ngangkang mau diterapkan?. Apa kata dunia?.

Kita akhiri saja dengan permakluman bersama supaya kita, satu bangsa dan satu bahasa, bisa hidup rukun dan damai, dengan satu kata : NGANGKANG ITU……..INDAH.

Jakarta, 10 januari 2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pesona Pasar Legi Kotagede: Kerukunan …

Sulfiza Ariska | | 19 December 2014 | 17:43

Jangan Mau Mengajar Mahasiswa …

Giri Lumakto | | 20 December 2014 | 00:33

(Maaf) Ngupil Pun Ada Etikanya …

Find Leilla | | 19 December 2014 | 14:04

Sang Penabuh Kabar …

Muhammad Armand | | 19 December 2014 | 10:18

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Mau Lihat Orang Jepang Antri Bensin? …

Weedy Koshino | 9 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 10 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 10 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 12 jam lalu

Media Online, “Pelahap Isu Hoax” …

Ajinatha | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: