Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Haedi Noor

Tetap Biasa dan tak Ingin menjadi luar biasa

Ratu Atut Vs Mulyadi Jayabaya : Pertarungan Dua Kerajaan

OPINI | 04 January 2013 | 04:31 Dibaca: 4977   Komentar: 5   0

Ada yang menarik dari liburan akhir tahun saya kemarin. Bukan soal tempat wisata pantai sawarna-nya yang indah namun terkait dengan memanasnya panggung politik di kabupaten Lebak, Banten. Kabupaten Lebak merupakan salah satu kabupaten yang ada di provinsi Banten. Semenjak terpisahnya dari kekuasaan “negeri pasundan”, Banten terkenal sebagai negeri para jawara. Itulah yang kemudian memunculkan stigma di masyarakat bahwa terpilihnya Ratu Atut Choisyah sebagai Gubernur Banten selama 3 periode karena ada bala bantuan dari para jawara. Ratu Atut Choisyah sang penguasa Banten telah mempimpin selama 3 periode, 1 periode sebagai Wakil Gubernur yang kemudian menjadi PJS karena sang Gubernur kala itu dimasukan ke-bui akibat melakukan tindak pidana korupsi dan 2 periode berikutnya sebagai Gubernur Banten.

Terpisahnya Banten dari Jawa Barat ternyata telah berdampak pada muncul nya raja-raja kecil, sebenarnya mereka tak bisa dibilang kecil karena memiliki pengauruh yang luar biasa di tingkat nasional. Sebut saja Ratu Atut, di Nasional sana, dia telah mengirimkan 2 orang utusannya untuk duduk di kursi senayan. Hikmat Tomet sang suami sebagai anggota DPR RI dan Andika Hazrumy sang putra mahkota sebagai anggota DPD RI dari provinsi Banten. Lain lagi dengan mantan Bupati Pandeglang, kalaupun terindikasi korupsi sebesar 200 Miliar, sang jenderal kabupaten Pandeglang Dimyati Natakusumah berhasil lolos dari jeratan hukum dan duduk di kursi empuk DPR RI. Tak ingin kalah saing sebagai Sang Raja, Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya pun ikut mengirimkan putri kesayangannya yang juga digadang-gadangkan akan mewarisi tahta kerajaan lebak yaitu Itti Octavia sebagai anggota DPR RI. Masih bisa di bilang raja kecil?. Itu baru dari kekuasaanya saja, belum dari harta mereka. Saya sendiri tak sanggup menghitungnya.

Menjelang perhelatan akbar pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Lebak, pertarungan panggung politik pun semakin memanas. Alih-alih ingin meneruskan pembangunan, Sang raja Mulyadi Jayabaya kembali mengususng putri nya Itti Octavia sebagai calon Bupati Kabupaten Lebak. Dilihat dari baligho yang bertebaran di sepanjang jalan kabupaten Lebak, putri mahkota ini akan disandingkan dengan Ketua DPRD Lebak. Meneruskan pembangunan yang telah di lakukan ayahanda nya tentu saja itu baik, tapi pembangunan seperti apa yang akan dilakukan?, hanya bapak dan kroni-kroni nya lah yang tahu. Toh, selama bapaknya memimpin saja kabupaten Lebak masih saja menjadi daerah tertinggal.
Tak puas dengan hanya menguasai Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Serang, Kota Serang dan kabupaten Pandeglang serta provinsi Banten sendiri, Sang Ratu pun ikut mengirimkan kroni-nya bertarung pada PilBup Kabupaten Lebak. Sang menantu yang merupakan istri dari Andika Hazrumy yaitu Ade Rossi Chairunnisa diusung sebagai wakil Bupati Lebak yang akan berdampingan dengan Wakil Bupati Lebak yang sekarang yaitu Amir Hamzah. Ade Rossi sendiri merupakan salah satu Anggota Legislatif Lokal. Kalaupun popularitasnya tak sehebat Itti Octavia, dengan kekuatan uang sang mertua yang tak tak ada nomor serinya, keluarga sang Ratu tentu saja akan sedikit lebih mudah merebut mahkota Kabupaten Lebak.

Dengan adanya pertarunga 2 Kerajaan tersebut ini jelas telah memangkas demokrasi yang ada. Orang yang berada diluar lingkaran kerajaan yang bercokol tersebut tentu saja akan susah mengikuti kompetisi itu. Dan ini jelas tidak baik karena akan mematikan orang-orang yang lebih ber kualitas ketimbang orang yang hanya mengandalkan kekuatan uang semata.

Melihat itu semua, akhirnya bagi saya pribadi, menjadi tidak penting siapa yang akan menang nantinya. Toh dua-duanya bukan benar-benar akan membangun kabupaten Lebak. Yang satu hanya ingin mewariskan mahkota Kerajaan dan yang satu hanya ingin merebut mahkota itu guna melebarkan sayap kekuasaannya saja. baik Ratu Atut dan Mulyadi jayabaya bagi saya dua-dua nya sama saja. Sampai hari ini saya belum merasakan perubahan berarti baik di tingkat kabupaten maupun tingkat Provinsi. Toh, saat ini kawasan Provinsi Banten tekecuali Tangerang raya (Kab/Kota Tangerang dan Kota Tangsel) masih jauh dari kata MAJU.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Demonstrasi KM ITB: Otokritik untuk …

Hendra Wardhana | 7 jam lalu

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 12 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 13 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 14 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: