Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ada Apa? Elektabilitas Prabowo Selalu Nomor Satu

OPINI | 03 January 2013 | 20:04 Dibaca: 832   Komentar: 0   1

Topik ini merupakan jawaban atas pertanyaan DPP PAN Bima Arya yang menanyakan “Kenapa elektabilitas Prabowo selalu nomor satu, ada apa ini,.?”

Kita semua sudah tahu sejak zaman repormasi, terutama sejak zamannya SBY Negara ini seperti kapal induk tanpa ada nahodanya, berjalan tanpa arah yang jelas, semua anak buah kapal bisa menentukan arah kapal, misalnya FPI ormas yang kecil bisa mengendalikan Presiden sehingga kepolisian tidak bisa bertindak.

Ideologi Negara dan UUD-45 di obark-abrik, ekcekutif dan legislatif berkaloborasi memperkuat posisinya masing, sehingga terjadi geng dan mafia dalam badan2 pememrintahan yang sulit di berantas .

Rakyat sudah muak dengan kemunafikan presiden kita, hal itu ditunjukkan dengan presentase eletabilitas Prabowo yang meningkat, karena Prabowo paling diharapkan bisa mengembalikan wibawa Negara dimata rakyatnya.

Prabowo exs meliter mempunyai prinsip nasionalis yang jelas dan tegas dengan demikian diharapkan tidak kompromi dengan pelanggaran ideology Negara dan UUD-45 seperti penyerangan terhadap kelompok minoritas oleh kelompok mayorits. .

Bagaimana dengan Capres yang lainnya.,…?

Capres Nasionalis seperti Mega,.? Hanya suaranya yang tegas nasionalis, tertapi tidak berani bertindak, apalagi dikendalikan oleh T. Kimas.

Kita lihat sekarang MPR sudah dikebiri oleh SBY dengan memberikan kursi MPR kepada PDIP . Mega tutup mulut. Kalau Mega menjadi Presiden , T.Kimas adalah lubang besar utk mengobrak-abrik Panca-Sial dan UUD-45, sehingga presiden hanya sebagai simbul nasionalis.

Mega takut terhadap meliter seperti waktu dia berkuasa, dia tahu pemalak hutan dikalimantas para pejabat meliter, tetapi dia tidak berni bertindak. Maka itu korupsi tetap merajalela. .

Pengantinya SBY tidak takut sama meliter, tetapi takut sama politisi,sehingga sarung pedang yang sudah di hunus disarungkan kembali, malah menjadi bumper para koruptor dan menghukum Anthasari karena membrantas korupsi..

Bagaimana dengan Bakri atau Ical,..? Ideologinya adalah bisinis, bajunya Golkar, Ideologinya nasionalis , tetapi politiknya adalah lompromi demi kekuasaan. Masih ingat waktu pemilihan presiden Gus-Dur lawan Mega,..? golkar, kompromi dengan poros tengah menjatuhkan Nasionalis ( Mega) demi kekuasaan. Waktu pembahasan undang2 fornografi, golkar bergabung dengan partai agama melawan partai nasionalis.

Apa artinya ini,..? golkar akan menjual suara nasionalis demi mencapai kekausaan, oleh karena itu para pemilih golkar hendaknya sadar bahwa mereka di tipu dengan label nasionalis, tetapi isinya adalah kekeuasaan.

Partai2 agama juga hendaknya sadar akan kelicikan partai golkar, dia membagi-bagikan Alqur’an demi menarik sipatisan pemilih parpol agama, tetapi tidak berani secara terang-terangan meperjuangkan ideology agama. Capresnya Ical, tidak jelas ujung pangkalnya, pendukungnya demi duit.

Bagaimana dengan JK,..? Seorang idealis yang mempunyai istink kecepatan berpikr dan bertindak melebihi cpres2 lainnya, tetapi diplomasinya kurang licin, sebagai kelemahan pada umumnya seorang idealis. Yaitu mempertahankan harga diri yang tidak bisa ditawar-tawar.

Seandainya golkar atau parpol lainnya berani mengambil JK sebagai capres, bahkan sebagai wakil saja, eletabilitas partai itu pasti akan naik

Bagaimana dengan Surya-Palo,..?Dengan berdirinya partai Nasdem, dimana ketua umumnya adalah dari PAN , rakyat sdh menilainya sebagai partai banci, apakah partai agama atau partai nasionalis oleh karena itu sinarnya sudah mulai redup Hal tersebut juga berdampak terhadap penilain Capresnya Surya Palo seperti memilih kucing dalam karung.

Bagimana dengan capres sektarian, seperti MD, HNW, Rhoma.I dll ? Ideologi mereka sudah jelas ideology agama, yaitu mengatur Negara berdasarkan hukum2 agama, kekuasaan tertinggi berada pada para ulama. Hal2 itu bisa terjadi kalau Parpol2 agama mayoritas, bisa mengubah UUD45 dan dasar negara

Rakyat sudah ngeri melihat apa yang terjadi jika Negara diatur dengan hukum2 agama . Sejak berdirinya NKRI sdh bebas dari hukum2 agama, bagaimana mungkin rakyat sekarang bisa memilih mereka,.? Jadi mentri saja, seperti sekarang ini, sudah mengabaikan UUD45 menekan kelompok minorits, apalagi menjadi presiden.

Elektabilitas mereka secara nasional dapat dilihat dari elektabilitas parpol2 agama

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 17 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 19 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 20 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 21 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: