Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Pradhabasu Bhayangkara

Berani ngomong benar, bukan berani ngomong salah

Mengapa Capres Demokrat 2014 Bukanlah Anas ?

OPINI | 27 December 2012 | 18:27 Dibaca: 939   Komentar: 0   0

Salam Republik Wayangku tercinta. Bagaimana? Masih bersemangat dalam menyoroti dunia politik kita ini? Pastinya. Tak lupa saya sampaikan terimakasih pada senior-senior politik yang baru-baru ini mulai merambah kompasiana dan menjadi spectator dalam tulisan saya. Sungguh heboh, saya terkejut melihat respon dadakan para senior politik saya ini yang sudah mulai bangun dari tidur nyenyaknya. Tulisan saya kali ini sekaligus menjawab keraguan dan tantangan dari para punakawan yang ria jenaka untuk memberi masukan kepada saya agar berani menulis hal berbalik mengenai Anas Urbaningrum. Mari kita mulai dengan bertanya. Mengapa saya menulis Anas bukanlah capres idaman bagi Demokrat? Bukankah banyak orang mengatakan jika dia sosok titisan SBY? Atau karena Anas tak punya kekuatan? Yang saya tekankan adalah ini berbeda dengan tulisan saya lampau. Jika saya kemarin membahas sulitnya mengkudeta Anas, sekarang saya akan menyoroti kekurangkapabilitasan Anas dalam mencalonkan diri sebagai capres Demokrat. Akan saya paparkan poin-poin indikasinya.

Pertama, Demokrat is SBY, bukan Anas. Terlalu naif jika mengesampingkan sosok SBY dari Demokrat. Sentralitas SBY terlalu kuat di Demokrat. Peluang Anas Urbaningrum sangat kecil untuk mencalonkan diri sebagai capres Demokrat. Anas memang kuat di Demokrat, itulah yang menyebabkan sulitnya dia untuk dikudeta dari posisi Ketum. Namun Anas tak boleh bermimpi untuk menjadi Capres 2014 bersama Demokrat. Dikala desas-desus yang mengatakan ketidakharmonisannya dengan SBY, Anas adalah sosok penurut. Anas tak akan berani membangkang kepada titah SBY. Jikalau SBY tak menghendakinya menjadi capres mau apa Anas? Meskipun dukungan mengalir dari kader di daerah, tetapi jika SBY sudah memberikan perintah, semua kader akan diam seribu bahasa. Demokrat is SBY, itulah realitanya. Kesepuhan dan popularitas Anas dibandingkan SBY sangat berbeda jauh. Sentralitas SBY yang demikian dan diiringi dengan penokohannya yang kuat ketika memunculkan Demokrat sebagai partai politik yang sensasional dalam dua periode membuat para kader tak akan pernah melupakan sosok SBY. Partai Demokrat identik dengan SBY, dan SBY sudah committed akan kampanye untuk Demokrat. Di tengah anjloknya elektabilitas Partai Demokrat karena banyak kadernya yang tersangkut kasus korupsi, Demokrat kini tidak memiliki pilihan lain kecuali kembali menjual figur Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam menghadapi pemilu 2014. Salah satu strategi Demokrat kembali memenangkan suara rakyat adalah dengan menjual kembali figur SBY yang diyakini masih menjual dan dipercayai rakyat. Setelah menjalani dua periode, SBY memang tidak bisa lagi masuk dalam bursa pemilihan presiden. Namun, SBY dinilai masih bisa merebut simpati rakyat sehingga Demokrat dapat kembali menggenjot elektabilitasnya. SBY disebut juga meminta Demokrat segera mengorganisasi dan merencanakan strategi, taktik, dan teknis pemenangan pemilu serta menjaga kekompakan. SBY-lah The King Maker Demokrat, bukan Anas.

Anas tak berasal dari militer. Indonesia baru dipimpin oleh 2 orang Presiden dari Militer yaitu Jenderal Soeharto dan Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono. Selebihnya adalah Presiden dari Sipil. Namun dari segi stabilitas di segala aspek, kedua presiden dari sosok militer ini mengalahkan semua presiden dari golongan sipil. Dari segi umur pun keduanya memimpin Indonesia dengan sangat lama. Ada anggapan dan mitos yang berkembang di masyarakat dan dunia politik kita, meskipun kebenarannya diragukan tetapi banyak yang mempercayai mitos ini. 1. Presiden RI harus dari kalangan militer 2. Presiden RI harus etnis Jawa 3. Presiden RI harus beragama Muslim 4. Presiden RI sebaiknya punya wajah rupawan. Dari 4 kualifikasi tersebut, Anas hanya memenuhi 2 kriteria. Pertama Anas bukanlah sosok dari kalangan militer. Anas berasal dari golongan sipil. Anas hanyalah sosok biasa yang tak mempunyai pengaruh besar. Bukan rahasia jika sosok dari militer selalu menjadi prioritas karena sikap orang militer yang mandiri, kuat, tahan mental, taktis, strategis dan berdaya juang. Sehingga sosok militer selalu menjadi harapan bagi kepemimpinan di negeri ini. Yah, seperti itulah “katanya”. Jangankan bersiap tegas, dari tampilan luar saja Anas kurang begitu meyakinkan. Jika dikatakan golongan muslim yang memiliki pengaruh kuat Anas hanya sosok muslim biasa, bukan seorang ulama yang memiliki charisma dan ketokohan agama yang kuat. Anas memang orang Jawa, tapi orang masih ragu apakah dia mempunyai wahyu cakraningrat sebagai syarat utama menjadi raja. Wajah yang rupawan? Silahkan Anda nilai sendiri.

Anas tak punya materi. Yang meiliki uang, dia yang berkuasa. Idiom yang menunjukkan skeptisme demokrasi tapi itulah realitas dunia politik saat ini. Mau berbicara partisipasi dan demokrasi, pemilih akan lebih memilih orang yang memberi mereka “sesuatu” daripada hanya jaminan kapabilitas. Menjadi pemimpin atau raja selain harus memiliki modal politik dan modal sosial, seseorang harus memiliki modal materi. Kriteria yang harus dimiliki seorang presiden adalah materi yang melimpah ruah. Presiden Indonesia 2014 harus kaya raya. Karena untuk mengatasi masalah Indonesia, satu-satunya hanya dengan uang. Hal itu karena realitas yang terjadi saat ini, banyak pejabat dan politisi tergelincir dengan uang. Perlunya modal materi bagi seorang capres akan membuat kinerjanya menjadi jauh lebih baik karena tak perlu bingung mencari uang bagi dirinya sendiri. Mari kita lihat sosok Anas? Apakah dia memiliki materi yang kuat? Bandingkan dengan orang-orang macam Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Dahlan Iskan, Mahfud MD, SBY, Boediono, Chaerul Tanjung atau bahkan Hari Tanu Sudibyo? Jauh dari harapan. Bermodalkan kesederhanaan atak akan cukup bagi Anas untuk memimpin negeri ini. Tengok saja rumahnya, jauh dari kesan berkelebihan. Dengan modal materi yang minim, semua orang akan mudah dalam menyingkirkan Anas, karena Anas dipandang tak akan mampu membeli media, atau bahkan konsultan politik.

Tak mengakar di elit Demokrat. Mayoritas anggota Dewan Pembina Partai Demokrat menginginkan kongres luar biasa untuk melengserkan Anas Urbaningrum dari kursi ketua umum. Desakan ini muncul setelah Anas santer diduga terlibat kasus suap dalam proyek Wisma Atlet. Keinginan mencopot Anas muncul karena kekhawatiran turunnya popularitas partai akibat sorotan publik kepada Anas. Selama beberapa bulan belakangan ini, nama Anas memang sering muncul di media massa dalam berita kasus Wisma Atlet setelah bekas Bendahara Demokrat, Muhammad Nazaruddin, menyebut Anas ikut menikmati fee proyek senilai Rp 191 miliar itu. Adjeng berharap kongres luar biasa diadakan secepatnya supaya kepercayaan konstituen tak tergerus. Anas boleh mengakar kuat di daerah. Tapi pemangku kebijakan tetaplah ada di pusat. Anas tak memiliki dukungan yang mumpuni di kalangan elit. Bahkan muncul rumor jika berdasarkan para sesepuh dan dewan pertimbangan PD, Anas akan digusur dari posisi Ketum. Dari kalangan elit, yang bisa dijadikan sebagai pendukung Anas mungkin hanya Hadi Utomo. Yang lainnya hanya akan menuruti apa perintah SBY. Sosok Anas memang sangat mengakar dan dikagumi di level menengah dan grass-root Partai Demokrat. Kepiawaiannya dalam merangkai kata serta intelektualitasnya yang mumpuni, membuatnya menempati posisi istimewa di kalangan kader partai itu. Dan, itu pulalah yang menjadi value added-nya, sehingga secara tidak terduga mampu mempecundangi Marzuki Alie dan Andi Mallarangeng (yang secara tersirat didukung SBY) pada Kongres Demokrat lalu. Dengan konstelasi seperti itu, nama Anas memang tidak terlalu bersahabat di kalangan anggota Dewan Pembina. Selama ini, hanya seorang anggota Dewan Pembina saja (Ahmad Mubarok) yang selalu getol memberikan pembelaan kepada mantan Ketua Umum PB HMI itu. Kini, posisi Anas boleh disebut berada di ujung tanduk. Masa depan politiknya akan benar-benar tamat, jika KPK sampai ‘tega’ menetapkannya sebagai tersangka. Elite Demokrat terkesan sudah pasrah dan meninggalkannya. Semua kini terpulang kepada Anas seorang. Karier dan posisi ketua umum-nya hanya bisa terselamatkan, jika dia mampu membuktikan, bahwa semua tudingan Nazaruddin sebuh kebohongan belaka. Jika demikian rasanya sangat sulit mencalonkan Anas sebagai capres dari Demokrat jika elitnya tak menghendaki. Yang ada malah menimbulkan friksi internal yang hanya akan merusak partai.

HMI tak sesolid dulu. Pengalaman Anas Urbaningrum menjadi Ketua Umum HMI pasti menjadi modal besar untuk membenahi demokrat agar menjadi partai modern dan tidak hanya mengandalkan figur SBY semata. Namun pengalaman di HMI masih terlalu sederhana untuk diaplikasikan begitu saja di PD. Sebagai mantan Ketua Umum Pengurus Besar organisai elit, PB HMI, Anas punya pengalaman mengkondisikan massa. Organisasi ini telah mengajarkan banyak hal kepada Anas, termasuk menjalin hubungan dengan kekuatan-kekuatan lain. Saya percaya bahwa di belakang Anas ada senior-senior HMI yang mendukung. Dan ini membuat Anas percaya diri. Bisa saja para seniornya diyakinkan Anas bahwa dia tidak terlibat kasus apa pun sehingga para seniornya percaya dan memberi dukungan moral. Sebelum tersangkut kasus dugaan korupsi, dukungan kader HMI sangatlah kuat. Bahkan Anas mencalonkan diri sebagai Ketum berdasarkan dorongan dari senior-senior politiknya sesama alumni HMI. Banyak tokoh politik yang notabene alumni HMI tetapi berbeda partai dengan Anas selalu memuji dan mendukung Anas. Bagaimana dengan HMI Connection dalam dukungan terhadap dakwaan kasus korupsi? Kita tahu Anas Urbaningrum adalah mantan Ketua PB HMI Periode 1997-1999. Jawabannya, sama saja. Kekuatan politik dan jaringan bisa digunakan untuk meraih kekuasaan dan uang, tapi diragukan berguna untuk menghindari proses hukum yang mendapat sorotan luas masyarakat, apalagi proses hukum di KPK. Orang akan senang membantu jika soal kekuasaan dan uang, tapi tidak menyangkut korupsi. Dukungan HMI terhadap Anas mulai memudar seiring semakin kencangnya angin dugaan kasus Hambalang mengarah kepada Anas. HMI connection juga bisa diindikasikan pecah ketika senior politik Anas seperti Akbar Tanjung mulai ikut-ikutan menyorot keterlibatan Anas. Pun ketika acara konggres pemilihan Presidium KAHMI, dukungan mengarah ke Mahfud MD dan ketika acara antara Mahfud-Anas-Akbar mulai terlihat jarang bersama-sama. Faktor lain yang membuat Anas tak layak dijagokan menjadi capres adalah kepercayaan masyarakat yang mulai pudar dan semakin detailnya bukti yang bisa mengarahkan Anas sebagai tersangka. So mari kita lihat ke depannya. Salam Republik Wayangku.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 8 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 13 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 13 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: