Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Akky

Berusaha dan Berdoa. Mengagumi Pagi. Kadang Membaca Buku. www.beckinspiration.blogspot.com

Inspirasi Kepemimpinan Jokowi

OPINI | 22 December 2012 | 11:35 Dibaca: 3947   Komentar: 0   2

1356153825113846335

Semalam saya menonton beberapa video di youtube yang mengulas tentang  Jokowi-Ahok, sebagian dari video-video itu adalah liputan beberapa stasiun TV swasta nasional yang memaparkan sosok Jokowi-Ahok  sebelum dan sesudah memimpin DKI. Dari video tersebut saya merasa seperti menemukan sosok pemimpin seperti yang saya idealkan, merakyat, peduli, cekatan, cerdas dan menginspirasi orang lain.  Jokowi menjelma menjadi selebrity  (sangat terkenal) yang menjadi sosok idola bagian sebagian besar warga kota Jakarta, serta menginspirasi banyak orang di seluru Indonesia yang memimpikan sosok pemimpin berintegritas dan punya kepedulian tinggi.

Jokowi memang sosok fenomenal yang tampil sebagai gubernur Jakarta menggantikan Fauzi Bowo (Foke) melalui pemilihan langsung yang berlangsung  2 putaran. Sebelum pemilihan putaran pertama, hampir semua lembaga survey mengunggulkan pasangan Foke-Nara Fauz, dengan elektibilitas tertinggi di antara 5 pasangan yang bertarung dalam pemilihan gubernur Jakarta tersebut. Fauzi Bowo sebagai putra betawi asli memang di prediksi memenangi pemilu DKI Jakarta yang banyak di dukung oleh factor  primordialisme (suku dan agama).

Memang keberhasilan jokowi memenangi pemilu gubernur DKI Jakarta memperlihat sesuatu yang sangat radikal dalam dunia politik, tentunya melihat dari sudut pandang politik maenstream, di mana seorang calon di katakan berpeluang  besar jika di dukung oleh beberapa partai besar dan dana yang memadai. Jokowi memang tampil sebagai calon yang usung  dari 2 partai, PDI perjuangan dan partai Gerindra, partai yang  agak konsisten pada perjuangan kepentingan rakyat kecil. Tetapi ketika lolos keputaran kedua, otomatis tim pemenangan Jokowi-Ahok seakan di kepung oleh partai besar, walaupun menjadi pasangan yang banyak menuai pemilih pada putara pertama, tetapi pada putaran kedua hal itu seakan belum bisa memberikan kepastian, karena harus bertarung satu lawan satu dengan Petahana (Juara bertahan Foke) yang didukung oleh sebagian besar partai besar dan tentunya dana yang besar pula, sehingga sebelum putaran kedua tersebut di mulai, di berbagai media mengangkat topic hot Jokowi-Ahok di kepung partai besar. Sehingga suatu ketika,  pada saat  Ketua tim pemenangan Jokowi-Ahok di undang di sebuah acara pagi  sebuah TV swasta, dan di Tanya tentang peluang Jokowi-Ahok di tengah gempuran partai besar, Dia berkata dengan sangat diplomatis, bahwa dia Berkoalisi dengan Rakyat.

Mata Publik terbuka ketika Jokowi-Ahok keluar dari gempuran kepungan koalisi Partai besar Foke-Nara, sekaligus memastikannya sebagai pemenang pemilu Gubernur DKI Jakarta. Media dan masyarakat awam semakin tertarik dengan apapun tentang Jokowi-Ahok, terutama pada gaya  kepemimpinan Jokowi yang yang selalu di sorot media, terutama pada pembuktian kinerja Jokowi-Ahok pada 100 hari awal kepemimpinanya.

Yang Menarik untuk di lihat dari gaya kepemimpinan Jokowi-Ahok dalam masa 100 hari awal masa jabatannya.

Pertama : Cekatan, Sehari setelah di lantik, Jokowi langsung turun kelapangan melihat langsung kondisi masyarakatnya, sebagai langkah awal untuk memulai melakukan pembenahan dan penyelesaian  terhadap kendala dan masalah yang di hadapi warga jakarta. Hal yang berbeda dengan pemimpin yang ada dan pernah kita lihat, dimana seorang pemimpin ketika telah di lantik maka ia akan berkordinasi dahulu dengan unsur-unsur elit baik partai atau jajaran di pemerintahannya.

Kedua : Tak Puas, Jokowi adalah tipe pemimpin yang tak hanya puas pada laporan bawahannya akan masalah-masalah yangterjadi pada masyarakat bawah, terutama pada pelayanan publik yang cenderung amburadul dan tak menjadi prioritas di masa pemerintahan sebelumnya.

Ketiga : Differensiasi, harus diakui bahwa gaya kepemimpinan jokowi sangat berbeda dengan gubernur sebelumnya, ia mampu melakukan perbedaan yang baik, dalam kinerja dan cara memperlakukan bawahan. Ia juga merombak  aturan protokoler yang menjadi ciri khas pejabat publik, terutama ketika ia mengunjungi suatu tempat, dengan meniadakan Rider Force (Pasukan pengawal bermotor besar), menurutnya Rider force akan membuatnya lebih ribet, juga bukan gayanya menggunakan pengawalan ketat.

Keempat : Kepekaan, Keputusannya untuk tak menggunakan Rider Force (Pasukan pengawal bermotor besar) juga merupakan tanda/sinyal bahwa ia adalah sosok yang peka dengan masalah yang sering di hadapi masyarakat  pengguna jalan yang sering kali di hadapkan pada kemacetan yang menyebalkan, ia ingin turut merasakan bagaimana tersiksanya termanggu di jalan karena kemacetan, sehingga ia bisa mencarikan solusi yang pas bagi kemacetan yang kerap menjadi pemandangan di Jakarta. Penggunaan rider force bagi pejabat publik, Presiden, Gubernur, Bupati, selain untuk keamanan, juga turut melancarkan perjalanan sang pejabat ketika melakukan kunjungan, sehingga cenderung  arogan dan tak memperhatikan pejalan yang lain yang menggunakan jalan yang sama, dengan  menyerobot jalan, atau terkadang menutup jalan yang akan di lalui seorang atau rombangan pejabat.

Kelima : Konsisten, memasuki 100 hari masa kepemimpinannya, Jokowi-Ahok berusaha sekuat tenaga untuk konsisten dengan janji mereka semasa kampanye, salah satunya dengan mewujudkan KJS (kartu jakarta sehat) yang telah di luncurkan beberapa pekan yang lalu. Untuk  mengatasi banjir, dalam kepemimpinannya, sebagai langkah awal dengan melakukan pengerukan endapan sampah dan sedimen pada bantaran kali yang juga merupakan penyebab utama banjir, karena badan sungai menjadi menyempit dan menjadi dangkal. Juga bagian Dalam programya mengatasi banjir, ia juga berusaha merelokasi penduduk di sekitar bantaran kali ketempat yang lebih nyaman, ia juga berusaha melakukan sosialisasi pada penduduk sekitar sungai  untuk menggugah kesadaran mereka, supaya  tidak membuang sampah kesungai.

Keenam : Menginspirasi, sosok pemimpin yang baik adalah seorang yang punya kemampuan menginspirasi dan memotivasi bawahannya dan sekitarnya, tentu dengan tindakan dan ucapannya, seperti yang selama ini dia lakukan dalam masa 100 hari kepemimpinannya.

Saya kira banyak hal yang bisa kita ceritakan tentang sosok Jokowi ini, apa yang saya ceritakan dalam point-poit diatas merupakan satu-kesatuan dari sikap dan karakter seorang Jokowi, sehingga kita hanya bisa berharap bahwa apa yang sedang dan akan di lakukannya nanti  merupakan bagian dari pengabdiannya sebagai pemimpin yang amanah, sebuah tipe kepemimpinan yang sudah jarang kita dapat dan temukan, karena hanya tipe kepemimpinan seperti itulah yang bisa membawa masyarakat kearah yang lebih baik, sebuah  karakter kepemimpinan yang lebih condong pada fungsi (kinerja) dari pada sebuah status (pencitraan).


Saya juga memuatnya disini,  dan sumber gambar disini,

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 16 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 18 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 18 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 19 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: