Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Valerian Libert Wangge

Menulis Itu Cara Merawat Ingatan !

Fenomena Melki Laka Lena dalam Pilgub NTT 2013

REP | 08 December 2012 | 09:59 Dibaca: 3383   Komentar: 0   0

13549354931715446099

“ Panggilan dan perutusan ini datang begitu saja … “ (Melki Laka Lena, Cawagub NTT )

Emanuel Melkiades Laka Lena sontak menjadi buah bibir, setelah secara mengejutkan ditetapkan menjadi Calon Wakil Gubernur NTT dari Partai Golkar. Keputusan penunjukan politisi muda berusia 36 tahun ini, menjadi anti klimaks polemik Partai Golkar dalam menentukan pendamping Ibrahim Agustinus Medah sebagai Calon Gubernur NTT periode 2013-2018.

Sebuah kejutan tentunya, sebab sehari menjelang penetapan Ibah-Lakalena, sebagian besar media (NTT, red) justru melangsir paket Ibrahim Agustinus Medah-Hugo Kalembu, bahkan prosesi penjemputan mereka telah dipersiapkan  serius di Kota Kupang NTT belum lama ini.

Penunjukan Ibrahim Agustinus Medah dan Emanuel Melki Laka Lena tertuang dalam surat DPP Golkar No R 406/GOLKAR/XII/2012 tentang Pengesahan pasangan calon Kepala Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang ditanda tangani Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie dan Sekjen Idrus Marham (06/12).

Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham mengatakan “Golkar menyadari regenerasi dan kaderisasi dalam tubuh partai sangat penting. Penunjukan Melki Laka Lena sebagai cawagub sudah dipertimbangkan matang-matang. Ini dilakukan Golkar untuk Indonesia. Sudah saatnya anak muda yang bersih dan memiliki visi ditampilkan dalam sejarah bangsa,”Ditambahkan, “Kita semua harus menyadari juga bahwa setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Apa yang dilakukan Golkar adalah upaya menyelamatkan bangsa dari ketiadaan kepemimpinan. Ini semua dilakukan demi Indonesia satu yang tak terbagi,”

MELKI, FENOMENA KEPEMIMPINAN KAUM MUDA

Zaman sepertinya sedang memberikan tempat dan ruang menjadi pemimpin bagi generasi baru kelahiran tahun 1970 an. Generasi ini bisa disebut sangatlah aktif belajar dan berjuang dalam era peralihan rezim, dari Orde Baru ke era Reformasi (1996 – 2000 an). Kala itu, generasi ini bertekun di bangku-bangku kuliah, menimba idealisme lewat kelompok studi dan aksi- aksi unjuk rasa mahasiswa. Kini rata-rata usia mereka diatas 30 hingga 38 tahun.

Secara nasional figur generasi ini ada dalam diri Budiman Sudjatmiko (PDIP), Nusron Wahid (Golkar), Usman Hamid (KontraS), Sebastian Salang (FORMAPPI) hingga M.Restu Hapsari (PDIP). Mereka hingga kini masih aktif melakukan pergerakan melalui LSM, Pers, Akademisi, bahkan ada yang mulai merangsek masuk ke ruang kekuasaan politik untuk memimpin, seperti yang kini tengah dilakoni Emanuel Melkiades Lakalena.

Melki dilahirkan di Kupang, NTT 10 Desember 1976, kini usianya baru 36 tahun. Melki meluluskan Sekolah Menengah Farmasi (SMF) Kupang tahun 1992, lalu melanjutkan studinya ke Yogyakarta dan lulus Farmasi tahun 1996 di Universitas Sanata Dharma. Suami dari Mindriyanti Astiningsih ini cukup populer di kalangan aktivis muda. Beberapa tahun lalu, Melki banyak pula terlibat bersama almarhum Franky Sahilatua mengkampanyekan Pancasila Rumah Kita secara Nasional.

Karir politik Laka Lena diawali di Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Yogyakarta, yang mengantarnya kemudian menjadi Sekretaris Jendral Pengurus Pusat PMKRI periode 2002-2004.  Dalam Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) di Manado, Melki memilih maju menjadi Calon Ketua Presidium PP PMKRI meggantikan Maria Restu Hapsari, namun sayang, Melki kalah suara dalam pertarungan ini. Pasca PMKRI, Melki akhirnya memutuskan untuk berkiprah di ranah Politik praktis bersama Partai Golkar.

Karirnya di dunia Politik memang tidak terlampau mulus, pada Pemilu Legislatif 2009 Melki maju menjadi Calon Legislatif DPR RI mewakili Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), namun nasibnya juga belum beruntung. Tak berselang lama, Melki kembali berkibar, dimana bersama sejumlah Tokoh Nasional saat itu membidani kelahiran Ormas Nasional Demokrat (NASDEM). Melki tercatat sebagai salah seorang Deklarator Nasdem. 

Lima Paket Dalam PILGUB NTT 2013

Dari sejumlah berita di media yang berhasil dilangsir, hingga kemarin (6/12) praktis telah ada 5 pasang Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) NTT periode 2013-2018.

Kelima pasangan calon ini akan bertarung merebut hati 3,5 juta pemilih pada tanggal 18 Maret 2013 mendatang. Dimana dalam waktu bersamaan akan dilangsungkan pula Pemilukada Bupati-Wakil Bupati Sikka, NTT.

Sekedar informasi, meskipun belum resmi ditetapkan KPUD NTT, namun ke-lima pasang Cagub-Wagub yang sudah memperoleh lampu hijau dari parpol pengusung atau melalui jalur perseorangan (independen) yakni: (1) Frans Lebu Raya-Beni Litelnoni (paket PDIP), (2) Esthon Foenay-Paul E Tallo (paket Gerindra-PDS), (3) Benny K Harman-Wilhem Nope (paket Demokrat), (4) Christian Rotok-A.Paul Lianto (paket Independen) dan (5) Ibrahim A.Medah-Melky Laka Lena (paket Golkar)

Jika merujuk DP4 (Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu), yang dilansir KPUD NTT bulan Oktober 2012 lalu, terdapat 3.555.182 orang pemilih. Jumlah pemilih ini didominasi pemilih perempuan sebanyak 1.799.179 orang dan laki-laki 1.756.003 orang. Sayang, dominasi jumlah pemilih perempuan ternyata tak satupun pasangan calon yang berjenis kelamin perempuan.

Sebaran pemilih terbanyak ada di Pulau Flores dan Pulau Timor, selanjutnya Pulau Sumba, Rote, Sabu Raijua, Lembata, Alor dan Pulau-Pulau kecil lainnya. Saat ini NTT memiliki 21 Kabupaten dan Kota, serta 297 Kecamatan.

Jika dicermati, kelima pasang Cagub-Wagub NTT kali ini, masih mengikuti rumus umum pola rekruitmen pemimpin NTT yakni Flores-Timor, Timor-Flores, Katolik-Kristen dan Kristen-Katolik.

Dimana figur Cagub asal Flores yakni Frans Lebu Raya, Benny K Harman dan Chris Rotok. Figur Cagub asal Pulau Timor yakni Esthon L Foenay dan Ibrahim A Medah. Sementara di posisi Cawagub asal dari Pulau Flores yakni Paul E Tallo dan Melky Lakalena, sementara dari Pulau Timor Beni Litelnoni, Wilhem Nope dan Paul Lianto.

Semoga seluruh pasangan Cagub-Cawagub NTT, mampu memerankan diri sebagai pemimpin NTT atas seluruh asal dan golongan. Lebih mengutamakan program-program yang visioner dan berdaya ubah. Juga kiranya pemilih mampu mencermati jejak langkah (track record) setiap kandidat dengan baik. (f)


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 10 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 11 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Program ‘Haji Plus Plus’: Bisa …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Sampai Kapan Hukum Indonesia Mengecewakan …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

ISIS di Indonesia …

Irham Rajasa | 8 jam lalu

Sampai Kapan Polwan Dilarang Berjilbab? …

Salsabilla Hasna Mu... | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: