Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ismail Elfash

orang biasa yang sedang belajar menulis, mengungkapkan isi hati dan sekedar berbagi

Bupati Garut Hanya Mikirin Perut

OPINI | 30 November 2012 | 11:12 Dibaca: 1305   Komentar: 0   0

13542486671432728302

foto bupati garut

Publik terperangah, geleng-geleng kepala sekaligus geram. Betapa tidak ulah Aceng Fikri, mengusik naluri publik. Sebuah kelakuan  snewen yang dilakukan oleh seorang Bupati Garut. Pernikahan 4 hari. Wow! Bukan cuma itu yang dinikahi siri Pak Bupati adalah anak ABG  18 tahun, namanya Fani Oktaria. Dan gilanya lagi, perceraian hanya dilakukan lewat SMS, setelah menuduh istrinya tidak perawan. Benar-benar gila, bagaimana perawan? Toh, dia yang sudah merebut keperawanannya.

Kasus ini menjadi ramai. Kerena pelakunya adalah orang no.1 di Garut. Bahkan Mendagri Pun, Gamawan Fauzi ikut mempertanyakan moralitas Bupati Garut, dan memerintahkan Gubernur Jawa Barat untuk memanggilnya.

Dicky Chandra adalah mantan wakilnya. Tapi di tengah jalan Dicky Chandra mengundurkan diri. Waktu itu, Dicky Chandra tidak memberikan alasan yang jelas. Publik pun bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang terjadi? Tapi kasus ini dengan sendirinya, memberikan jawaban yang terang-benderang tentang alasan   Dicky Chandra mundur. Ada persoalan moralitas.

Seorang Bupati, sebagai pimpinan  daerah harusnya menjadi c0ntoh dan teladan masyarakat. Mengurus masyarakat bukan berarti mengeceng gadis cantik untuk dijadikan selir melalui nikah siri. Kekuasaan yang hanya dipakai untuk memuaskan hawa nafsu, akan berakhir dengan keserakahan dan kesewenang-wenangan. Betul, urusan nikah adalah urusan pribadi. Tapi apa jadinya kalau melalui pernikahan harus ada korban yang merasa di dzolimi dan sakit hati.

Ulama NU KH Sirojul Munir menyamakan pernikahan yang dilakukan oleh Aceng serupa dengan Syekh Puji. “Apa yang terjadi serupa dengan kasus Syekh Puji. Sewaktu dinikahi (Aceng) 14 Juli, usia Fani masih di bawah 18 tahun,” kata Munir di pesantren Al-Fadilah, Garut, Sabtu 24 November 2012.

Ulama NU ini juga menilai pernikahan yang tengah menjadi kontroversi hingga Senin (26/11/2012) ini melanggar syariat agama. “Menikah adalah syariat Islam yang tidak boleh dipermainkan. Namun yang dilakukan ini adalah sebuah permainan,” kecam Munir. (liputan6.com)

Jelas, Pak Bupati Garut ini cacat moral. Dan sudah tidak layak menjadi seorang pemimpin. Bagaimana bisa memimpin masyarakat banyak, kalau memimpin dirinya saja tidak mampu. Mengendalikan syahwatnya saja tidak bisa, sehingga menjadikan pernikah sebagai permainan.

Menjadi pemimpin adalah amanah, yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Nya.  Tugas seorang pemimpin adalah mensejahterakan masyarakat. Pak Bupati Garut, jangan hanya mikirin perut dan kanjut saja.

Salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tak Selamanya Penggusuran Pedagang dengan …

Wisnu Aj | | 30 January 2015 | 14:21

Jokowi & Pendekatan Humanis dalam …

Ilyani Sudardjat | | 30 January 2015 | 09:58

Panglima TNI Berbeda dari “Panglima” di …

Mds Efron | | 30 January 2015 | 08:19

Mudahnya Jadi Wartawan Gadungan …

Choiron | | 30 January 2015 | 08:55

Mengenang Sinetron Era 90-an …

Mariam Umm | | 30 January 2015 | 06:38


TRENDING ARTICLES

Benarkah Pak Jokowi Meninggalkan PDI …

Kosmas Lawa Bagho | 9 jam lalu

Adu Kuat Jowoki dan Mega (Pecah Kongsi?) …

Ken Shara Odza | 11 jam lalu

Menebak Strategi dan Langkah Presiden …

Harry Purnomo | 12 jam lalu

Jokowi dan Lobi Trisakti; Lepasnya …

Imam Kodri | 13 jam lalu

BG “Pembukaan” Pro JK, …

Hendrik Riyanto | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: