Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Daniel H.t.

Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat. Twitter @danielht2009

Rhoma Irama, Capres Paling Berbahaya bagi NKRI

REP | 29 November 2012 | 09:56 Dibaca: 30905   Komentar: 74   10

1354157620203289012

“Pemirsa, bursa RI-1 semakin ramai ketika Rhoma Irama menyatakan bersedia maju sebagai calon presiden. Apakah ini suatu keseriusan ataukah suatu dagelan politik di akhir tahun?” Demikian pembuka kata dari Najwa Shihab sebelum memulai wawancaranya dengan Rhoma Irama di acara Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, yang berjudul “Mendadak Capres.”

Ya, apakah kesediaan Rhoma Irama maju sebagai salah satu capres 2014 itu adalah suatu keseriusan, ataukan suatu dagelan politik di akhir tahun? Indikasinya bisa dilihat di percakapan Najwa Shihab sebagai host acara itu dengan dengan salah satu tamu utamanya itu: Rhoma Irama.

Menurut Rhoma keputusannya untuk bersedia maju sebagai capres 2014 itu karena ada faktor desakan dari sejumlah politisi dan umat, serta ada faktor keterpanggilan dari dalam dirinya untuk memperbaiki nasib bangsa Indonesia, yang saat ini semakin jauh dari tujuan reformasi. Memperjuangkan dan memperbaiki nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan persatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Tetapi dalam pernyataan-pernyataan selanjutnya apa yang disampaikan di awal pembicaraan tersebut sangat jauh bertolak belakang. “Visi dan misi” capres Rhoma Irama ini justru sangat berbahaya bagi persatuan dan keadilan sosial bangsa ini. Sangat bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Rasialis/SARA dengan nuansa sektarianisme yang kental. Bertentangan pula dengan semangat reformasi.

Apakah Rhoma Irama merasa punya kualifikasi untuk menjadi seorang presiden?

Dengan penuh keyakinan, Rhoma menjawab dia yakin akan hal itu. Dasarnya bahwa selama 40 tahun sebenarnya dia sudah melakukan langkah-langkah tersebut melalu lagu-lagu yang dinyanyikan dan melalui tablik-tablik akbar di seluruh Indonesia. Dia sudah terbiasa untuk mengarah bangsa ini, mengarahkan umat.

Apa dasar pemikirannya yang mengkorelasikan menjadi penyanyi (dangdut) selama 40 tahun dan tablik-tablik akbar dengan kualisifikasi untuk menjadi seorang presiden di NKRI ini?

Rhoma hanya menjelaskan perbedaan antara pemimpin yang formal dan pemimpin yang nonformal. Tokoh agama, tokoh masyarakat adalah pemipin nonformal, sedangkan birokrat adalah pemimpin yang formal. Anda melihat korelasinya?

Seberapa besar desakan dari “beliau-beliau” yang menurut Rhoma Irama sebagai representasi dari umat, supaya dirinya maju sebagai capres 2014?

Menurut Rhoma desakan tersebut bermula dari kondisi politik yang baru saja terjadi di Jakarta, yang ektrem,  telah membuat dia dianggap sebagai  ikon Islam di Indonesia oleh tokoh-tokoh umat Islam itu. Mereka bilang,  “Oleh karena itu anda harus maju (sebagai capres) untuk membawa aspirasi umat Islam sebagai mayoritas bangsa ini!”

Apa yang dimaksud dengan situasi politik di Jakarta ekstrem dan tidak biasa itu?

Awalnya Rhoma menghindar untuk menjawabnya, tetapi setelah didesak dia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan situasi ektrem di Jakarta itu adalah soal pilkada gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dan hasilnya baru-baru ini. Yakni, adanya satu etnis yang tidak biasa menjadi birokrat, kini menjadi birokrat.

“Anda mengacu kepada Basuki Tjahaja Purnama yang saat ini menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta?” Tanya Najwa Shibab.

“Ya, saya rasa, memang seperti itu,” jawab Rhoma.

Situasi ekstrem yang bagaimana?

Rhoma menjawab, saat ini telah terjadi kegelisahan dan kecemasan umat Islam terhadap terpilihnya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Wakil Gubernur Jakarta.

“Kebetulan saya berada di dalam pusaran ini. Dengan diadilinya saya di Panwaslu, umat telah menilai bahwa ini telah mengadili agama, mengadili Al-Quran.”

Najwa: “Jadi, anda merasa sebagai representasi umat Islam? Bahkan anda merasa representasi dari orang yang diadili karena kasus yang kemarin mengucapkan kampanye SARA?”

Rhoma: “Barangkali bukan itu ucapannya. Bukan saya yang merasakan. Beliau-beliau yang mengatakan hal itu.”

Najwa: “Dan, anda menyetujuinya?”

Rhoma: “Kenapa?”

Najwa: “Anda sependapat dengan apa yang diucapkan oleh beliau-beliau yang tadi anda sebut?”

Rhoma: “Hmmm, saya rasa, saya tidak dalam kapasitas itu, ya.”

Najwa terus mendesak dengan mengatakan, “Dengan anda mengutarakan hal ini berarti anda menyetujui perkataan mereka?”

Akhirnya Rhoma tidak bisa mengelak lagi, dengan menjawab: “Oke, saya setuju!”

Rhoma mengatakan, ada kekhawatiran anak bangsa, umat Islam saat ini akan peran etnis tertentu (etnis Cina) yang semakin agresif dalam dunia politik Indonesia. Selama ini mereka telah mengdominasi di bidang ekonomi. Sekarang mereka, mulai masuk lagi ke bidang politik. Ini mencemaskan dan mengelisahkan umat Islam.

“Ada suatu kelompok etnis, yang secara ekonomi sudah sangat mengdominir perekonomian Indonesia. Dan, kali ini secara politik mereka juga mulai agresif. Nah, inilah yang mencemaskan anak bangsa, khususnya umat Islam. Karena melihat situasi politik sudah mulai tidak proporsional. Dan, ini juga mengacu pada demokrasi ini terlalu dini untuk mencapai demokrasi liberal seperti di Amerika.”

Dari argumen-argumen Rhoma Irama  yang sangat kental rasialis/SARA, dan bahkan cenderung sektarian tersebut, jelaslah bahwa meskipun Rhoma mengatakan akan memperjuangkan Pancasila dan UUD 1945, dalam kenyataannya wawasannya sangat bertolak belakang dengan semangat kemajemukan bangsa ini, bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 itu, yang menjamin kesamaan hak dan kewajiban semua WNI tanpa memandang etnis apapun dia, dan agama apapun dia.

Benarkah kondisi Jakarta waktu itu menjadi ekstrem gara-gara Ahok mau menjadi wakil gubernur Jakarta? Bahkan saat ini, kata Rhoma Irama, gara-gara Ahok sudah menjadi Wakil Gubernur Jakarta, anak bangsa khususnya umat Islam menjadi resah, cemas, dan gelisah? Tidak bisa menerima kenyataan ini?

Umat Islam manakah yang Rhoma Irama maksudkan resah, cemas dan gelisah, tidak bisa menerima Ahok sebagai Wakil Gubernur Jakarta, gara-gara dia Cina (dan Kristen)?

Mayoritas warga DKI Jakarta itu Islam, mayoritas yang memilih Jokowi-Ahok sebagai pimpinan baru mereka, sudah pasti juga mayoritas Islam.  Najwa Shihab, si tuan rumah Mata Najwa itu juga Islam. Yang sudah pasti juga adalah mereka tidak berwawasan sesempit Rhoma Irama itu, jadi sudah pasti bukan mereka yang tidak bisa terima, cemas dan gelisah dengan terpilihnya Ahok sebagai Wakil Gubernur Jakarta.

Dari sini pulah dapat disimpulkan bahwa salah satu misi dan visi Rhoma Irama yang ingin menjadi presiden adalah menghilangkan kecemasan dan kegelisahan umat Islam versinya itu. Bagaimana caranya, ya, dengan tidak memberi kemungkinan lagi etnis Tionghoa untuk masuk ke dunia politik. Menghilangkan hak WNI etnis Tionghoa untuk menjadi bagian dari pemerintahan negara ini. Mulai dari jajaran paling bawah sampai dengan paling atas. Menjadi wakil gubernur saja tidak akan diperbolehkan, apalagi jadi presiden. Ingat pula bahwa dalam ceramahnya itu Rhoma juga menyinggung soal agama. Agama Ahok yang Kristen pun disinggung, sebagai alasan tidak bisa menerima Ahok sebagai Wakil Gubernur Jakarta. Jadi, menurut capres Rhoma Irama ini, etnis Cina dan Kristen tidak punya hak yang sama dengan WNI lainnya. Apabila dia menjadi presiden, hak-hak asasi WNI  itu akan dihapuskan. Berarti pula, Pancasila dan UUD 1945 harus diamandemen lagi agar sesuai dengan “visi dan misi Presiden Rhoma Irama.”

Betapa berbahayanya  capres seperti ini untuk Negara Kesatuan republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Untungnya, meskipun Rhoma Irama menganggap pencalonannya sebagai capres itu serius. Saya yakin, bagi sebagian besar WNI, ini hanyalah dagelan di akhir tahun. “Joke on the pilpres 2012.”

Ketika percakapan antara Najwa Shihab dan Rhoma Irama berlanjut ke perihal isu-isu publik yang penting dan yang sedang ramai dibicarakan saat ini, terjadilah adegan-adegan dagelan di Matanajwa itu. Karena ternyata, Rhoma Irama tidak menguasai hal-hal yang ditanyakan oleh Najwa secara sederhana dan umum itu.

Rhoma mengeles dengan mengatakan kepada Najwa, “untuk jadi presiden tidak perlu harus menjadi superman yang mengerti semuanya,” “saya bukan ahli perminyakan.” “ini kan masih wacana sebagai capres. Nanti kalau sudah masuk ke tahapan lebih lanjut, baru kami akan mendalaminya,” … ketika Najwa menanyakan soal subsidi BBM, APBN, pembubaran BP Migas.

Lebih konyol lagi ketika Najwa bertanya soal poligaminya Rhoma, yang membuat Rhoma kelihatan gusar.

Saya akan membuat tulisannya tersendiri***

Artikel lain terkait:

Rhoma Irama Mendadak Capres, Dagelan di Mata Najwa

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membuat KTP Baru, Bisa Jadi Dalam Sehari! …

Seneng | | 22 October 2014 | 10:00

Angka Melek Huruf, PR Pemimpin Baru …

Joko Ade Nursiyono | | 22 October 2014 | 08:31

Nangkring “Special” bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:44

FFI, Hajat Insan Film yang Tersandera Tender …

Herman Wijaya | | 22 October 2014 | 14:35

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 7 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 7 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 7 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 8 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 8 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: