Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Palti Hutabarat

Hanya ingin berbagi reportase dan opini. Semoga bermanfaat bagi semua kompasianer. Staf Perkantas Riau. Inisiator Jaringan selengkapnya

Soetan Bhatoegana Melecehkan Gus Dur

OPINI | 26 November 2012 | 08:10 Dibaca: 2621   Komentar: 0   1

Sutan Bhatoegana dalam Dialog Kenegaraan DPD RI bertema “Pembubaran BP Migas untuk Kemakmuran Rakyat?” di lobi Gedung DPD di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta (21/11), menyebut Gus Dur dilengserkan karena terlibat skandal korupsi, Buloggate dan Bruneigate. Saat itu, Sutan Bhatoegana berang ketika Adhie Massardi, koordinator Gerakan Indonesia Bersih, mengatakan migas Indonesia jadi ajang korupsi mafia migas yang dilindungi rezim SBY.

Adhie, yang adalah mantan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu pun menilai petinggi Partai Demokrat Soetan Bhatoegana melecehkan Gus Dur, karena menyatakan Presiden RI ke-4 itu dilengserkan karena terlibat skandal korupsi Buloggate dan Bruneigate.

“Memang, tuduhan Soetan Bhatoegana bahwa Gus Dur korup sungguh kelewatan. Tendensius. Itu cara keji dia melindungi pemerintah SBY dari isu sebagai rezim korup. Sebab kenyataannya, Gus Dur tak terlibat kasus Buloggate maupun Bruneigate. Makanya Kejaksaan Agung menerbitkan SP3,” kata Adhie di Jakarta, Ahad (25/11).

Menurut Adhie, Sidang Istimewa MPR 2001 yang digelar untuk melengserkan Gus Dur, dalam undangannya kepada seluruh anggota MPR yang ditandatangani Ketua MPR Amien Rais ketika itu, karena Presiden menetapkan Wakil Kepala Polri Komjen Chaeruddin Ismail sebagai Pemangku Sementara Jabatan Kepala Polri menggantikan Jenderal (Pol) Soerojo Bimantoro.

“Hal ini menurut Amien Rais Cs menyalahi Tap MPR No VII/MPR/2000,” tutur Adhie.

Sedangkan diterbitkannya Maklumat Dekrit oleh Gus Dur, tambah Adhie, merupakan langkah ekstrakonstitusional yang bisa dilakukan Presiden untuk menghentikan tindakan inkonstitusional Amien Rais Cs. Namun dalam perkembangannya, Amien Rais Cs malah mengubah alasan SI MPR yaitu karena Presiden mengeluarkan dekrit.

“Padahal kalau ditelaah secara seksama, kemelut politik di masa itu meruncing karena Menko Polsoskam (Susilo Bambang Yudhoyono) yang ditugasi Presiden Gus Dur memimpin Crisis Center guna menjembatani pertentangan Parlemen dan Presiden tidak menjalankan tugasnya dengan benar. Itu sebabnya Presiden kemudian melantik Jenderal Agum Gumelar menjadi Menko Polsoskam menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono,” kata Adhie.

+++++++++++

Mengatakan hal yang tidak-tidak, melecehkan, dan berbicara hal yang kurang baik merupakan ciri khar dari politis Partai Demokrat Soetan Bathoegana. Hal-hal kontroversi sering muncul karena omongan Soetan yang “asbun” (asal bunyi). Sering sekali Soetan tidak memikirkan dampak ucapannya sebelum berbicara.

Pernyataan Gus Dur dilengserkan karena skandal korupsi merupakan bentuk pelecehan yang luar biasa. Sebagai seorang wakil rakyat, Soetan harus mengetahui terlebih dahulu fakta sejarah yang terjadi sebelum mengeluarkan pernyataan. Karena pernyataan itu bisa melukai perasaan keluarga Gus Dur, serta komunitas yang lebih luas lagi.

Pernyataan Soetan ini pun secara tidak langsung menyatakan Gus Dur adalah seorang koruptor. Hal yang bagi banyak orang tidak mungkin dilakukan oleh seorang Kyai seperti Gus Dur. Apalagi sepanjang hidupnya Gus Dur tidak pernah divonis korupsi.

Semoga Soetan bisa belajar lagi dalam berbicara. Lambat berbicara, cepat berpikir. Agar orang tidak jadi mencela dirinya sebagai orang yang tidak tahu sejarah dan tidak punya etika.

Salam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat! Surabaya Meraih Socrates Award …

Ilyani Sudardjat | | 17 April 2014 | 11:14

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 7 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 8 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 8 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 9 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: