Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Siti Nur Cholidah

Mahasiswi IAIN Sunan Ampel Surabaya

Sejatinya, Rhoma Irama Sudah Menjadi “Presiden” di Indonesia Ini

OPINI | 25 November 2012 | 15:31 Dibaca: 919   Komentar: 10   1

Siapa yang tak kenal dengan sosok yang dijuluki “Satria Bergitar” Rhoma Irama? Jika anda tidak mengenal, maka perlu untuk dikenal karena pepatah berkata :” tak kenal maka tak sayang. Tak kenal maka tak cinta”. Mengutip lirik lagu “Pangeran Dangdut” pencipta Abiem Ngesti :

‘Akulah pangeran dangdut yang akan mengguncang dunia,

Lewat lagu yang ku nyanyikan, lewat musik yang ku mainkan,

Setelah aku besar nanti, akan jadi si Raja Dangdut’

Sepertinya sangat cocok untuk menyematkan nama “Si Raja Dangdut” bagi bang Rhoma, orang yang mengapresiasi / pencipta lagu lewat lirik-lirik dangdutnya yang tak semata musik yang mengisahkan goyangan, apalagi berbau sensual. Dangdut lebih dari sekadar urusan raga dan erotika, membuat orang terkesima dengan lirik lagunya. Gema dangdut lewat tangan Rhoma Irama menjadi denting bunyi yang bukan semata urusan asmara, namun juga titian doa, nasionalitas, luapan agama, penghormatan, pengorbanan, serta kritik sosial. Lewat dangdut Rhoma, masyarakat seolah menemukan oasis yang menyegarkan dalam mengisahkan pelik dan susahnya impitan kehidupan. Jangan heran jika kemudian Begadang (1978) serta Perjuangan dan Doa (1980) lagu yang begitu populer bagi masyarakat Indonesia.

Di dalam lirik itu, Rhoma banyak berkisah tentang Indonesia, jejak peradaban bangsa Indonesia, bekal itulah yang ‘konon’ dianggap layak sebagai kalangan untuk mencalonkan sebagai Presiden Republik Indonesia 2014 mendatang karena Rhoma dianggap mampu mengerti seluk-beluk masalah Indonesia yang tercermin lewat ziarah lagunya. Apa yang terbesit dalam pikiran anda jika Rhoma Irama mencalonkan Presiden RI ini? Memang benar dikatakan artis Syahrini “Uwh..LaaLaa Cetar Membahana”. Apa karena berkat lagu Gelandangan, Kiamat, dan Gali Lubang Tutup Lubang contohnya yang menjadi kendaraan imajinasi dalam usaha meraih supremasi kehidupan yang lebih baik, dangdut ala Rhoma juga mengisahkan Islam. Banyak liriknya yang berkisah doa sehingga yang membuat kalangan ulama banyak yang merangkulnya. Dakwah lewat lagunya dirasa lebih mengena daripada orasi seratus ulama. Karena itu kultur musik dangdut yang begitu kuat tersebut berpengaruh terhadap visi dan misi Rhoma sebagai calon Presiden.

Tetapi Rhoma kini seolah mengalami kemandulan dalam mengisahkan Indonesia lewat lagunya. Jejak-jejak perjalanan sejarah Indonesia kini banyak terbuang dan tidak begitu menarik lagi sebagai titian ide dan rangsangan cipta. Justru disibukkan oleh kisah pelik politik yang berusaha melenakan dirinya dari dunia musik dangdut mutakhir. Tak dijumpai lagi Gelandangan, Begadang, Judi. Yang tampak hanya menjelma menjadi Cinta Satu Malam, Keong Racun, Hamil duluan dan lain sejenisnya. Keadaan yang seharusnya menjadi kesempatan bagi Rhoma untuk meluruskan musik ini lewat kisah sejarah yang dibuatnya sedia kala.

Rhoma, tak harus menjadi Presiden Indonesia, karena tanpa disadari, dia sejatinya sudah menjadi “Presiden” di Indonesia ini. Andai Rhoma Irama memang benar-benar siap mencalonkan diri menjadi Presiden, tak segan-segan suara celetukan akan menjawab :

  • Lembur akan dilarang karena “BEGADANG” Tiada artinya.
  • Buat PNS, PP larangan tentang poligami akan di cabut.
  • Akan ada tunjangan istri I, II, III, dan IV.
  • President akan sering “BERKELANA”
  • Kredibilitas Indonesia di mata negara investor meningkat karena strategi “GALI LUBANG TUTUP LUBANG”
  • Penduduk Indonesia akan tetap dipertahankan menjadi “135 juta jiwa”
  • BNN berubah jadi BAM = Badan Anti Mirasantika.
  • “SATRIA Bergitar” Diusulkan menjadi pahlawan Nasional.
  • TNI berubah kembali jadi ABRI = Anak Buah Rhoma Irama.
  • Tiap Upacara Bendera diiringi “PIANO”
  • NKRI menjadi ”Negara Kesatuan Rhoma Irama”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nasib Buruh Migran di Pintu Akhir …

Eddy Mesakh | | 19 December 2014 | 12:57

Dengan Google Street Kita Bisa …

Daniel H.t. | | 19 December 2014 | 09:34

Tim “Hantu” Menpora Berpotensi …

Erwin Alwazir | | 19 December 2014 | 12:47

Tiga Seniman “Menguak Takdir” …

Ajinatha | | 19 December 2014 | 09:08

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 9 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 16 jam lalu

Meramu Isu “Menteri Rini Melarang …

Irawan | 16 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: