Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dao Yunias

"Tidak-kah kita merasa kehilangan orang-orang yang selama ini kita andalkan? mari kita melawan lupa,

Degradasi Nasionalisme Pemuda di Tengah Realitas Bangsa

OPINI | 21 November 2012 | 14:19 Dibaca: 916   Komentar: 0   0

Reformasi yang digelorakan pada tahun 1998 oleh pemuda dan mahasiswa secara substantive adalah tuntutan perubahan pada struktur system, nilai dan actor baik dalam bidang ekonomi, social, politik, budaya serta pertahanan dan keamanan. Secara teoritis, perubahan tersebut diupayakan supaya tatanan Negara dan masyarakat baru Indonesia akan menjadi lebih bermartabat, demokratis dan sejahtera. Pemuda sebagai pelopor perubahan memerlukan roh dan semangat yang menjadi landasan utamanya. Nasionalisme Indonesia pada hakekatnya adalah roh dan semangat yang menggerakan untuk bangkit melawan penindasan yang sekarang ini menjadi realitas bangsa.

Di Indonesia, nasionalisme yang mendasarkan diri pada nilai-nilai kemanusiaan (perikemanusiaan) yang hakiki dan bersifat asasi. Tujuannya, mengangkat harkat, derajat, dan martabat kemanusiaan setiap bangsa untuk hidup bersama secara adil dan damai tanpa diskriminasi di dalam hubungan-hubungan sosial. Sebenarnya rasa nasionalisme itu sudah dianggap telah muncul manakala suatu bangsa memiliki cita-cita yang sama untuk mendirikan suatu negara kebangsaan.

Jika kita gambarkan, nasionalisme saat ini berada di titik rendah, dimana semua kebijakan berkiblat pada neoliberalisme, sehingga kesejahteraan rakyat jauh dari cita- cita Funding Father bangsa ini. Terpuruknya kedaulatan bangsa dan nasib rakyat bukanlah suatu fenomena yang dating dengan sendirinya. Kondisi ini tidak lepas dari fenomena global yang berkembang pesat, dalam dan luas dewasa ini yakni ketidaksiapan dan kemampuan mental dalam menghadapi ancaman globalisme dan neoliberalisme. Menurut Soepriyatno (2008), dalam pandangan ekonomi dan politik, kepentingan globalisasi adalah sebuah proses sistematis untuk merombak struktur negaa-negara miskin, terutama dalam pengkerdilan peran Negara dan peningkatan peran pasar, sehingga memudahkan pengintegrasian perekonomian Negara-negara miskin itu ke dalam genggaman para pemodal negara-negara kaya.

Pada saat ini juga, moralitas Indonesia mencapai titik kritis terendah. Korupsi bukan hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga telah menjadi bagian dari mata pencaharian untuk mendapatkan tambahan bagi biaya hidup yang semakin membumbung tinggi. Sedangkan bagi yang sudah hidup layak, korupsi merupakan bagian dari kekuasaan, bahkan sekarang ini dalam prakteknya justru semakin tersistematis dan laten. Kekuasaan yang dimiliki dalam prakteknya bukan lagi untuk mensejahterakan dan memakmurkan segenap rakyat melainkan penindasan-penindasan secara terselubung. Uang telah menjadi berhala yang paling berharga, melalui uang dan kekuasaan melakukan perampasan harapan dan peri kehidupan rakyat. lalu peran wakil rakyat sudah terganti, sudah bukan lagi milik rakyat. Rakyat yang semestinya subyek bagi para penguasa telah dijadikan sekedar obyek bagi kepentingan-kepentingan sesaat, rakyat kecil hanya menjadi bintang iklan kampanye dan setelah itu terlupakan. Lalu melihat realitas ini, kebobrokan dari dalam dan tekanan serta pengaruh dari luar, lantas muncul pertanyaan : “Sedang apa dan dimanakah, pemuda Indonesia?, sebagai pelopor reformasi, dimana gaung-nya dulu?

Sejumlah pemerhati sosial menilai prinsip nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia pada umumnya telah mengalami degradasi dan hal diakibatkan oleh terus menerus tergerus oleh nilai-nilai dari luar. Kondisi ini terlihat semakin parah karena belum adanya pembaharuan atas pemahaman dan prinsip nasionalisme dalam diri pemuda. Jika kondisi dilematis itu tetap dibiarkan, bukan tidak mustahil degradasi nasionalisme akan mengancam generasi muda sebagai penerus bangsa. Pemuda Indonesia umumnya belum sadar akan ancaman arus global yang terus menerus menggerogoti identitas bangsa. Jika kita melihat sjarah ke belakang puluhan tahun yang lalu, bagaimana pemuda Indonesia berusaha dengan gigih menyatakan keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia dalam satu wadah yaitu “ Indonesia”.

Namun pada saat ini kita diperhadapkan pada kenyataan yang menjadi problema dan dilematis. Kita bisa melihat banyak pemuda yang tidak perduli dengan kondisi keterpurukan yang melanda bangsa ini, dimana sekarang pemuda lebih tertarik pada hal-hal yang merupakan nilai luar Indonesia, lantas memproklamasikan keyakinanya akan dongeng-dongeng Cindrella tentang “The end of nations states yang serba imajiner, serba ilusif dan tentu pula delusive, bahkan dengan mudah kita membiarkan kebudayaan bangsa kita diambil oleh bangsa lain, kalangan pemuda semestinya sadar, masa depan negara ini tergantung pada kita, apa jadinya negara ini jika kita tak peduli?.

Potret buram kondisi pemuda kita saat ini nampak jelas di depan kita, tidak sedikit pemuda- pemudi bangsa dengan berbagai masalah yang mereka anggap sudah lumrah dan biasa terjadi di kalangan pemuda, seperti tawuran, seks bebas, penyalahgunaan narkoba dan sebagainya. Mereka berlomba- lomba berkiblat pada dunia barat. Tampaknya westernisasi telah menyulap pemuda negeri ini menjadi lupa akan jati diri mereka sebagai bangsa Indonesia yang masih memegang teguh budaya timur. Selain itu, munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarvperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsanya.

Dengan berjalannya waktu, semangat heroik dalam janji yang terkenal dengan Sumpah Pemuda itu mengalami pergeseran arti maupun pemahamannya. Arti Sumpah Pemuda tentu berbeda dari saat perjuangan dulu. Bila dulu dijadikan sebagai alat pemersatu, maka seharusnya kini dijadikan sebagai cambuk bagi pemuda Indonesia untuk berbuat yang lebih baik demi kemajuan negara. Kenegaraan Indonesia berkembang sesuai dinamika perubahan yang amat besar terutama berkaitan dengan globalisasi dan reformasi. Dalam perubahan ini setiap komponen bangsa termasuk pemuda dituntut kontribusinya sesuai kemampuan, kompetensi, dan profesinya. Pemuda dituntut untuk mengembangkan sikap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya bangsa, sikap keteladanan dan disiplin. Di sisi lain, perlu diciptakan suasana yang lebih dinamis dan demokratis yang mendorong pemuda untuk berkiprah dalam transformasi pembangunan baik regional maupun skala global.

Pemuda sebagai sumber kekuatan moral reformasi perlu tetap terbina agar selalu berlandaskan pada kebenaran yang bersumber pada hati nurani serta sikap moral yang luhur, berkepribadian nasional dan berjiwa patriotisme. Optimisme, spirit, kepedulian dan juga bangunan intelektual keindonesiaan kaum muda sebagai generasi bangsa akan selalu menjawab problematika bangsa ini. Gagasan-gagasan yang orisinil disertai langkah yang progresif dan kepekaan terhadap kondisi bangsa merupakan salah satu langkah utama dalam yang harus dipelopori oleh kaum muda sebegai penerobos dan pembawa era baru bangsa yang bermartabat dan berdaulat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 8 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 16 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 18 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 11 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 11 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 11 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: