Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Rudy Ronald Sianturi

Sejak kuliah sangat berminat pada jurnalisme apalagi kala memimpin tabloid mahasiswa Sanata Dharma, Yogyakarta. Kini selengkapnya

Mengukur Kepemimpinan Jokowi-Ahok

OPINI | 18 November 2012 | 11:36 Dibaca: 1411   Komentar: 0   1

Salah satu cara mengenal dan menyibak efektivitas pemimpin adalah dengan mengukur seberapa kuat atau lemah reaksi dan respon yang diterimanya.

Cukup gampang menilai — paling tidak sebelum ada riset yang lebih mendalam — bagaimana reaksi publik pada Jokowi-Ahok. Biasanya kita bisa mendistribusikan kuesioner berisi sejumlah pertanyaan terkait sepak-terjang duo pemimpin DKI Jakarta ini. Kali ini, yang aku tawarkan adalah dengan mencermati berbagai komentar dalam setiap berita yang langsung atau tak langsung terkait keduanya di berbagai media massa online.

Pertama-tama, terlihat jelas bahwa praktis setiap berita tentang Jokowi-Ahok selalu mendapat perhatian besar dari publik pembaca. Bukan saja banyak media menempatkan keduanya dalam rubrik khusus, banyak orang setia mengikutinya — terbukti dengan banyaknya komentar. Hal ini bisa dibandingkan dengan berbagai media seperti facebook atau twitter yang sifatnya personal namun juga menunjukkan animo besar pemilik akun untuk membicarakan dan menyoal model kepemimpinan yang memang masih amat langka di Republik ini.

Yang kedua adalah kategorisasi opini, analisa atau komentar yang masuk. Ada begitu banyak respon online yang aku pribadi sudah amati di berbagai media baik profesional, jurnalisme warga maupun cyber media. Menyangkut hal ini, barangkali bisa kita golongkan secara umum ke dalam dua kelompok besar yaitu (1) yang kontra (yang adalah sangat kecil dan tidak signifikan) serta (2) yang pro alias mendukung termasuk mendukung habis-habisan.

Mencermati golongan kedua ini, kita bisa menarik beberapa kesimpulan:

Pertama, kebanyakan rakyat sudah muak stadium empat dengan korupsi dan kebobrokan lembaga-lembaga yang harusnya menjadi penjaga moral dan penegak hukum. Ada rasa tidak percaya yang begitu meluas di kalangan masyarakat soal kompetensi anggota-anggota DPR, kabinet, pemerintah-birokrasi dan lembaga-lembaga sosiobudaya bahkan religius. Ada begitu banyak kasus yang merefleksikan di negeri ini bukan oknum tapi kejahatan berjamaah yang sudah begitu mengakar sampai dianggap normal belaka.

Kedua, rakyat sangat percaya bahwa bangsa dan negeri ini sebenarnya punya semua untuk menjadi terkemuka dan solid bahkan menjadi pemimpin setidaknya di tingkat regional. Ada begitu banyak komentar yang mengkaitkan Jokowi-Ahok dengan kebangkitan Republik ini dari puing-puing kemelaratan moral dan nasiolisme. Bahkan sebagian menghubungkannya dengan kemampuan bersaing dengan negara-negara lain seperti Malaysia termasuk gemas bahwa negeri jiran sudah mengirim astronot sedangkan punya sendiri tak jadi-jadi terbang jua.

Ketiga, rakyat sesungguhnya tidak apolitik namun lebih tepatnya malas dan sudah tak sabar lagi menantikan gebrakan di level kepemimpinan nasional. Ini berbeda dengan banyak analis sosiopolitik bahwa negeri ini sudah malas tau dengan nasibnya sendiri. Tidak benar itu! Banyak komentar atau respon terhadap berita menunjukkan sebaliknya. Bahwa rakyat sangat muak bahkan merasa frustasi, itu benar. Akan tetapi, tidak sama dengan rakyat apatis dan tak peduli. Rakyat justru sangat peduli dan selalu mengikuti haru-biru perpolitikan tanah air. Kalau ada fenomena golput, itu lebih merefleksikan pilihan rasional rakyat karena sadar benar mereka berjudi dengan baik itu pilkada ataupun pilpres.

Keempat, kehadiran Jokowi-Ahok membuktikan bahwa harapan rakyat itu bukan mustahil diwujudkan. Sebaliknya, begitu banyak komentar yang mendoakan, yang mendukung, yang menitip harapan serta berupaya menggalang dukungan publik yang jauh lebih besar lagi terhadap duo Jakarta ini agar menjadi model kepemimpinan dan inspirasi tekanan publik pada proses pilkada. Artinya, kebanyakan orang masih tidak anarkhis (walau mungkin emosi sebenarnya sudah di ubun-ubun!) namun masih mempercayakan proses perubahan via proses demokrasi dan rekrutmen politik. Ini adalah wujud ekspresi politik praktis publik, wujud kepedulian serta kecerdasan publik terhadap adanya secercah perubahan yang — mereka sangat harapkan — bakal menggelinding bak bola salju. Sebagian pembaca bahkan sudah memvisualisasikan RI-1, RI - 2, untuk pilpres 2019. Terlihat jelas bahwa rakyat bukan opurtunis namun berani melakukan investasi politik untuk tujuh, aku ulangi, tujuh tahun ke depan! Sangat bertolak belakang dengan deskripsi apatisme politik selama ini.

Menilik empat hal di atas, sudah jelas mengapa Jokowi-Ahok mendapat begitu banyak simpati publik. Dan sudah jelas bahwa sejauh ini, respon publik terhadap mereka sangat suportif.

Melebarkan kesimpulan kita, jelas bahwa model kepemimpinan yang pasti mendapat dukungan publik adalah yang berada dalam rentang pola Jokowi-Ahok: tegas, transparan, pro rakyat, populis serta mengambil sejumlah tindakan konkret untuk memangkas korupsi dan membuat birokrasi efisien dan modern.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 9 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 11 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 13 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 13 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sepotong Asia di Jakarta Street Food …

Syaifuddin Sayuti | 8 jam lalu

Negeri Para Pezina …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Indonesia Gagal Raih Keajaiban di Vietnam …

Abd. Ghofar Al Amin | 8 jam lalu

Swasembada Medis …

Harfina Finanda Anw... | 8 jam lalu

Sepakbola bukan Matematika …

Guntur Cahyono | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: