Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Prayitno Ramelan

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, selengkapnya

Tugas Berat Dubes RI di Malaysia Marsekal Pur Herman Prayitno

OPINI | 12 November 2012 | 05:43 Dibaca: 1234   Komentar: 0   3

Dalam beberapa waktu terakhir penulis banyak mendapat ucapan selamat banyak teman melalui BB dan SMS, isinya ucapan selamat menjadi Duta Besar di Malaysia. Persoalannya karena diberitakan Dubes RI di Malaysia yang baru dilantik Presiden SBY dan kemudian menduduki jabatannya bernama Prayitno. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan menjelaskan bahwa yang menjadi Dubes adalah rekan sejawat yang sama-sama purnawirawan TNI AU yaitu Marsekal TNI (Pur) Herman Prayitno.

Sementara penulis saat ini bertugas sebagai Anggota Kelompok Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), disamping menjadi narasumber beberapa stasiun TV tentang  isu keamanan (terorisme). Tugas mulia  dan tugas sosial sebagai bagian ibadah penulis  menjadi  Ketua RT di Perumahan Tanjung Mas Raya.

Sedikit informasi tentang Marsekal TNI (Pur) Herman Prayitno yang dilahirkan di Yogyakarta, 9 Januari 1951, dengan jabatanformal di TNI adalah Kepala Staf TNI Angkatan Udara dari 13 Februari 2006 sampai 28 Desember 2007.  Ia dilantik Presiden SBY pada tanggal 13 Februari 2006. Herman Prayitno menggantikan Marsekal TNI Djoko Suyanto yang menggantikan Jenderal TNI Endriartono Sutarto menjadi Panglima TNI. Herman Prayitno adalah teman seangkatan Marsekal Djoko Suyanto, Laksamana Slamet Soebijanto (KSAL), Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto, Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen Endang Suwarya, maupun Presiden SBY. Mereka adalah lulusan Akabri 1973. Herman Prayitno diterima menjadi Calon Prajurit Taruna tahun 1970 dan dilantik Presiden RI tahun 1973.

Dalam perjalanan karir selanjutnya Herman mengikuti Pendidikan Sekbang dan dilantik tahun 1976. Yang bersangkutan kemudian menjadi penerbang pesawat OV-10 Bronco di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang. Penulis pernah bersama-sama Marsekal Herman dan Marsekal TNI (Pur) Djoko Suyanto (Menko Polhukam) dalam mengikuti pendidikan Seskoau, Lembang antara tahun 1989-1990. Baca artikel penulis “Keistimewaan Seskoau Angkatan Ke-26″ (http://ramalanintelijen.net/?p=206).

Setelah lulus masing-masing kemudian meniti karier, dan penulis pernah bersama-sama Herman bertugas di Markas Besar TNI AU Cilangkap, beliau menjabat sebagai Kepala Dinas Administrasi Personil TNI AU (Kadisminpersau)  dan penulis menjabat sebagai Kepala Dinas Pengamanan dan Sandi TNI AU (Kadispamsanau), dengan pangkat bintang satu (Marsekal Pertama). Sementara saat itu Marsekal Djoko Suyanto menjabat sebagai Komandan Pangkalan TNI AU Iswahyudi, Madiun.

Dubes Herman dan Masalah di Malaysia

Begitu menduduki jabatan sebagai Duta Besar RI Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Malaysia, Pak Dubes kita ini yang menggantikan Jenderal Pol (Pur) Dai Bachtiar (Akabri 1972), kemudian mucul beberapa masalah sebagai akibat ulah warga Malaysia dan ulah beberapa gelintir Warga Indonesia. Tercatat, Polisi Malaysia menembak empat Warga Indonesia di Ipoh Perak pada hari Jumat (6/9/2012) yang dikejar karena merampok Warga Negara Jepang.

Atase Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Kuala Lumpur Suryana Sastradiredja. Dikatakannya,”Semua tentang mereka telah dimuat di sejumlah media Malaysia dan mereka disebut sebagai geng hitam. Sidik jari mereka itu tercatat di kepolisian Malaysia karena tiga diantaranya pernah melakukan pembunuhan pada tahun 2003, 2004 dan 2005.” Menurut Migrant Care mereka adalah Mahno asal Madura, Diden, Hamid, Osnan dan Joni asal Batam.

Direktur Migrant Care, Anis Hidayah mengatakan, “Pemerintah Indonesia tidak boleh bersumber pada satu data saja dan harus cek silang kalau KBRI selalu diam maka penembakan terhadap WNI seperti ini tidak akan menemui titik akhir.” Dari data data yang dikumpulkan para aktivis HAM dan pekerja migran menyebutkan penembakan serupa terjadi pada 2005, 2009, dan 2010. Dari 279 orang yang tewas dalam sepuluh tahun terakhir, 113 di antaranya warga negara Indonesia.

Berita hangat yang dinilai menyesakkan bagi masyarakat Indonesia adalah adanya iklan di Malaysia “TKI on Sale.” Sangat menghina sekali TKI di sale, dihargai murah, bak barang dagangan yang sudah tidak laku. Iklan disebarkan oleh seseorang yang mengaku penyalur tenaga kerja bernama Rubini. Pejabat indonesia yang juga merasa dihina kemudian melakukan penelusuran.

Pelacakan yang dilakukan oleh staf Konsuler KBRI di Malaysia ke alamat yang ada di selebaran ternyata mengarah pada Kedai Tukang Cukur. ”Southern’s Guy, demikian  nama kedai tersebut. Pelacakan juga dilakukan terhadap nama “Rubini” yang tertulis di selebaran. Menurut info para tetangga yang dikumpulkan staf konsuler saat dilayani bercukur, Rubini adalah warga etnis India yg lebih dikenal sebagai pengelola tempat kebugaran ketimbang perekrut TKI domestik,” kata Juru Bicara Menakertrans, Dita Indah Sari.

Berita teranyar, adalah terjadinya pemerkosaan oleh tiga orang polisi Malaysia terhadap seorang TKW asal Indonesia berinisial SM. Pemerkosaan justru dilakukan ketiga polisi bejat itu di kantor polisi di Bukit Mertajam, Penang, Malaysia, pada hari Jumat (9/11/2012). Dalam kaitan ini Pak Dubes Herman Prayitno menyatakan “Saya sesalkan kasus (perkosaan) yang menimpa seorang wanita Indonesia. Saya juga telah sampaikan kepada pemerintah Malaysia agar pelakunya ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku,” katanya saat dijumpai wartawan di Wisma Duta, Kuala Lumpur, Minggu (11/11).

Dari penjelasan pihak Malaysia, ketiga polisi tersebut kini sudah ditahan untuk dimintai keterangan guna memperlancar proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Bahkan, dua diantaranya telah dipecat dari kepolisian Malaysia. Sementara itu, SM,  korban perkosaan berinisial saat telah ditangani oleh pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Penang dan telah dijaga dengan sebaik-baiknya sebagai bentuk perlindungan terhadap WNI yang memerlukan pertolongan dan bantuan.

Nah, itu secuil masalah yang harus ditangani dengan cepat dan bijak oleh Pak Dubes kita ini. Menjadi Duta Besar di Malaysia memang membutuhkan suatu sikap khusus dan Sense of Ambassador, karena warga Malaysia banyak yang sering mencari gara-gara, menyepelekan Warga Indonesia dan merasa diatas angin. Dalam beberapa kasus mereka merasa menang seperti kasus Sipadan Ligitan. Mengapa kita sering dilecehkan? Belum lagi beberapa budaya Indonesia diakui mereka sebagai budayanya.

Persoalannya mereka lebih nekat, dan kelemahan kita karena demikian banyak warga negara Indonesia yang mencari nafkah di Malaysia, khususnya sebagai TKI, sebagai pembantu rumah tangga. Sebagai akibatnya maka citra orang Indonesia secara umum dinilai bodoh, mudah dibodohi dan bisa diperlakukan seenaknya.

Lantas, bagaimana kita seharusnya? Indonesia mempunyai perwakilan, punya Menteri Tenaga Kerja, punya BNP2TKI. Apabila kita mau fokus bersikap  menghadapi Malaysia, lebih cerdas dan mau berfikir strategis, jauh kedepan, maka Malaysia tidak bisa apa-apa terhadap Indonesia khususnya warganya. Selama kita lembek, mengalah, maka kita akan terus dipecundangi orang Malaysia. Pada saat masih aktif, penulis mempunyai pengalaman tidak menyenangkan saat berlatih dengan Ranger Malaysia dan TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia). Penulis rekam dalam artikel baik di Ramalan Intelijen (http://ramalanintelijen.net/?p=1544) dan di Kompasiana (http://umum.kompasiana.com/2009/08/27/pengalaman-berlatih-kostrad-dan-ranger-malaysia/ .

Persoalannya bukan kita anti dengan Malaysia, tetapi beberapa kasus menunjukkan bahwa ada kesan menyepelekan dan memandang rendah Indonesia. Mestinya dalam hubungan antar warga negara adanya kesetaraan, saling menghormati, saling menghargai. Apalah arti kata serumpun apabila mereka tetap melecehkan seperti kasus SM yang diperkosa polisi Malaysia di kantor polisi pula. Tindakan itu adalah penghinaan tiada tara, menganggap TKW sangat rendah, takut dan pantas di perkosa. Sementara tidak ada warga Malaysia yang diperlakukan tidak senonoh di Indonesia.

Nah, semua ini kini menjadi bagian dari tugas Pak Dubes Herman Prayitno. Penulis ikut bangga karena salah satu keluarga besar “the blues” (istilah panggilan kepada perwira tinggi TNI AU) yang dipercaya menjadi Duta Bangsa di Kuala Lumpur. Selamat bertugas my friend, semoga selalu sukses dan mendapat ridho dan lindungan Allah Swt, Aamiin. Salam Pray untuk keluarga.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 8 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 8 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Patah …

Rahab Ganendra | 7 jam lalu

Taklukkan Ciputat Maka Kau Taklukkan …

Dzulfikar | 8 jam lalu

Upacara Peringaran HUT ke-69 PGRI Provinsi …

Aosin Suwadi | 8 jam lalu

Menteri Dalam Negeri dan Menko Polhukam …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Prasasti Galungung 1200M di Desa Panjerejo …

Siwi Sang | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: