Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Jejep Falahul Alam

Aku adalah seorang yang hobi mencari sesuatu yang baru. Dan selalu berusaha menjadi cahaya dalam selengkapnya

Strategi Dasar Memenangkan Pemilukada

OPINI | 12 November 2012 | 15:55 Dibaca: 686   Komentar: 1   1

Gegap gempita pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada), saat ini sudah tidak asing lagi terdengar di telinga masyarakat. Pada tataran ideal pemilukada bertujuan untuk melakukan pergantian kekuasaan, dengan cara yang demokratis serta  mengikutsertakan rakyat secara langsung untuk memilih calon pemimpinnya. Sehingga diharapkan akan terpilih sosok penguasa terbaik pilihan rakyat, berkualitas dan ikhlas mengabdi untuk daerahnya. Namun kendati demikian, realitasnya masih banyak muncul distorsi, sehingga Pemilukada tidak lagi bisa diandalkan untuk memunculkan pimpinan daerah yang berkualitas. Tetapi cenderung hanya untuk menjadi raja-raja kecil di  daerah kekuasaanya.

Terlepas dari semua motif itu, menjadi seorang kepala daerah tentunya hampir menjadi dambaan semua pihak, termasuk saya sendiri. Tetapi karena keterbatasan kemampuan, keinginan itu baru sebatas anggan-angan di dalam hati.  Belajar dari pengalaman saat duduk di bangku kuliah, saya mencoba meramu konsep strategi  di lapangan dengan dicampur aduk dengan literatur buku yang berkaitan dengan pemenangan kepala daerah. Saya mencoba menyimpulkan itu dalam beberapa langkah strategis. Sebenarnya ada banyak cara untuk mengoalkan suatu pasangan calon yang diusung menang dalam pemilukada, baik secara legal maupun ilegal. Karena harus kita akui, di dalam pertarungan perebutan kursi kekuasaan, apapun harus dilakukan yang terpenting kemenangan bisa didapat. Ibarat bermain sepak bola, meskipun tidak mampu bermain secara terbuka dan memilih stratategi bertahan, kalau itu kunci kemenangan harus dilakukan. Ingat, dalam permainan politik itu bukan hanya
permainan cantik yang diperagakan, tetapi hasil akhir pertandingan untuk menentukan sang juara.

Uang Bukan Segala-galanya
Sebelum perang dimulai, langkah yang harus dilakukan dengan melakukan pemetaan kekuatan parpol. Karena jangan sampai menumpangi perahu yang tidak jelas dan tidak memiliki kekuatan di masyarakat.  Langkah ini bertujuan agar pencalonan tidak hanya menghabiskan uang tanpi hasil yang diharapkan.  Selanjutnya, sudah bukan rahasia umum lagi, di dunia ini tidak ada yang gratis. Apalagi hidup di kota-kota besar, mau buang air kecil saja ada tarifnya. Apalagi mau mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Untuk itu, bagi calon kandadita, iming-imingi parpol dengan uang. Mainkan opini itu, bahwa calon memiliki simpanan dana yang besar, atau paling tidak ada sponsor yang siap menyiapkan dana besar untuk modal Pemilukada. Tak hanya itu, kenyataan di lapangan bahwa kekuatan uang juga sangat dominan. Itu fakta yang tidak bisa dihindari. Masyarakat menjadi pragmatis ini, sebenarnya terjadi berkat pendidikan dan kesalahan para pelaku politik sendiri yang tidak menempati janji-janji politiknya. Pertanyaan mengapa masyarakat sudah dibutakan dengan uang? ini terjadi karena masyarakat sudah tidak percaya akan komitmen calon kepala daerah dengan slogan untuk memperbaiki kesejahteraan mereka. Yang sudah-sudah, kacang lupa kulitnya. Sehingga memontum itulah dimanfaatkan oleh masyarakat, untuk meminta kompensasi baik dalam bentuk uang maupun imbalan lainnya sebelum pemilukada dilaksanakan. Logis permintaan itu, karena rakyat sekarang sudah cerdas dan selalu berpikir siapa pun yang jadi pemenang, tidak bakal berpengaruh bagi kehidupan mereka. Karena itu, mereka meminta imbalan suara terlebih dulu. Karena itu, lakukanlah pemahaman uang bukanlah segala-galanya, meski manusia semuanya butuh uang, kecuali binatang.
Contoh ini bisa terlihat dari biayaya kampanye Jokowi-Ahok dalam Pilgub DKI Jakarta. Pasangan kotak-kotak ini tidak terlalu menghabiskan banyak dalam memikat hati rakyat. Terutama figur Jokowi yang digambarkan sebagai sosok dewa penyelamat masyarakat. Maka dari itu, ketika akan mencalonkan harus memiliki sosok figur harapan
rakyat dan tim sukses harus mampu menjualnya ke publik.

Membentuk Citra Positif
Langkah selanjutnya, memetakan kecenderungan politik di masyarakat. Masyarakat atau pemilih pada umumnya belum mengetahui track record calon, sehingga perlu dibentuk opini yang baik tentang kandidat yang diusung. Caranya dengan memberikan jawaban dan solusi atas permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat.  Itu dilakukan baik oleh tim sukses, relawan maupun oleh kandidat tersebut. Misalnya, permasalahan di Kabupaten A, yang paling menonjol adalah kurangnya perhatian di dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Sebagai calon kepala daerah, harus mampu memberikan jalan keluar untuk agar keluar dari cengkreman masalah yang membelit masyarakat setempat. Singkatnya, bentuk tim yang mengatur manajemen isu baik untuk calon maupun untuk lawan. Pantau terus perkembangan isu tersebut baik dalam opini masyarakat maupun pemberitaan di media.

Bentuk Tim Sukses
Tak hanya itu, untuk mempromosikan calon, tidak mungkin bisa berjalan sendiri atau meniru manajamen tukang bakso. Sehingga perlu dibentuk tim yang profesional, solid, bisa dipercaya, cerdas, komunikatif dan menguasai lapangan serta menguasi bidang-bidang yang dibutuhkan. Tim Pemenangan bisa dibentuk baik dari partai pengusung maupun Tim Khusus sendiri.Pasanglah orang yang tepat untuk menjadi anggota tim berdasarkan pengaruh kewilayahan dan mobilitasnya di masyarakat. Contoh ada tim yang bergerak mengawal dari proses hingga akhir di KPU, PPK atau PPS.  Bukan hanya sekedar itu, tim sukses, relawan juga harus bisa memantau selalu situasi yang berkembang di masyarakat. Tempat paling strategis untuk menyebarkan isu maupun memantaunya, adalah tempat-tempat keramaian, pasar, kantor, warung kopi, pos kamling, perkumpulan warga.

Manfaatkan Media Sosial
Dan juga untuk media komunikasi-sosialisasi jangan bukan hanya mengandalkan media televisi, iklan di koran, spanduk, baligo, dan media alat peraga lainnya.  Tetapi manfaatkan kemajuan teknologi dewasa ini. Seperti media jejaring sosil, twitter, facebook, blogspot, BBM, websate dll. Tujuan semua ini untuk memberi akses informasi kepada masyarakat melalui dunia maya. Bangun image yang baik tentang calon dalam setiap kesempatan yang ada, baik saat bertatap muka dengan masyarakat maupun melalui berbagai media.  Lihat Jokowi saat berkampanye sekedar contoh. Ia mampu memikat media massa hingga gerak-geriknya selalu menjadi bahan berita (kampanye gratis melalui berita). Bahkan gurauannya juga menilai bobot berita.  Di samping bermain di media.  Calon juga harus banyak berinteraksi dan melakukan pertemuan langsung dengan masyarakat secara langsung. Tujuan semua ini agar  mampu mendongkrak popularitas calon di masyarakat. Karena salah satu kunci kemenangan juga terukur dari popularitas dan elektabilitas (keterpilihan) calon.  Jangan pernah lumpa membaca karakteristik pemilih.
Karena biasanya antara daerah satu dengan wilayah lainnya terjadi perbedaan. Dengan mampu meneropong itu akan memudahkan jagoan kita masuk merebut hati pemiilih setempat.

Strategi Lawan Petahana (incumbent)
Bila lawan incumbent, maka perlu tenaga ekstra dan kecerdikan luar biasa. Masalahnya berkaca pada pengalaman data menunjukkan hampir 75 persen pemilukada dimenangkan oleh incumbent. Ini terjadi karena kekuatan finansial dan pengaruh ke urat nadi masyarakat lebih memadai. Karena itu, gunakan semua peluang untuk mengurangi pengaruh itu. Lalu setelah itu, buat isu yang mampu menjatuhkan dan image buruk di tengah masyarakat, sehingga masyarakat merasa antipati.  Lalu selanjutnya sebelum peperangan di lakukan jangan lupa juga untuk melakukan analisis  SWOT. Untuk membaca kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan dari masing-
masing kandidat yang akan berlaga. Setelah itu terpetakan, akan mudah bagi pasangan calon untuk melakukan penyerangan.

Penutup
Tentunya masih banyak lagi cara untuk memenangkan Pemilukada ini. Ini sekedar hanya diskusi ringan,  terutama bagi tim sukses yang saat ini tengah berlangsung di Provinsi Jawa Barat dengan empat kota dan kabupaten lainnya yang secara secara serentak akan dilaksanakan pada pada 24 Februari 2012 mendatang. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan bukan satu-satunya sumber referensi untuk memangkan pemilukada. Karena masih banyak cara selain yang dipaparkan di atas. Bagi Provinsi Jawa Barat selamat bertarung para jagoan. Dari kelima calon tersebut, sudah barang pasti yang tampil menjadi pemenang itu hanya satu. Jadilah pemimpin sesuai dengan harapan rakyat. Dan kepada masyarakat jangan memilih pemimpin seperti kucing dalam karung. Karena hal ini hanya akan menyengsarakan rakyat selama lima tahun mendatang. ***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

“Blocking Time” dalam Kampanye …

Ombrill | | 24 April 2014 | 07:48

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 8 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 10 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 10 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 11 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: