Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ardi Nuswantoro

Citizen of the Cosmos that believe in Diogenes and Cartier-Bresson, Author, Find me at stolentruth.wordpress.com selengkapnya

Agenda Reformasi 1998 Dikhianati

OPINI | 08 November 2012 | 09:38 Dibaca: 424   Komentar: 1   1

Menarik membaca judul headline Kompas hari ini. Judulnya persis seperti judul postingan ini, “Agenda Reformasi 1998 Dikhianati”.Headline Kompas tersebut seakan menggambarkan kegalauan publik terhadap agenda reformasi 1998 yang belum tuntas hingga saat ini. Memang, setelah 14 tahun reformasi berjalan, praktik korupsi, kolusi dan nepotisme masih terus terjadi. Imajinasi publik yang waktu itu mendominasi wacana reformasi seakan secara minimalis terwujud. Ada capaian reformasi yang memang tidak bisa dinegasikan. Sekarang kita memiliki sistem politik yang lebih terbuka. Kita diakui sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar namun moderat dan demokratis. Kebebasan pers dan kebebasan individu sudah lebih baik dan dijamin negara melalui berbagai instrumen. Namun ironisnya, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dulu menjadi kegalauan publik, kini juga mengalami demokratisasi.

Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme kini dilakukan oleh elit politik yang 14 tahun lalu meneriakkan jargon-jargon reformasi. Idealisme yang dulu menjadi panglima, kini agaknya hilang ditelan nikmatnya kekuasaan. Elite politik yang dulu memimpin agenda reformasi kini seakan lupa tugas utama mereka. Mereka terlena pada kekuasaan. Akibatnya, memang agenda reformasi seakan dikhianati. Agenda reformasi dulu seakan hanya dijadikan alat untuk merebut kekuasaan dari rezim. Agenda reformasi dijadikan sebagai alat untuk menjungkalkan penguasa yang sudah tidak mendapat tempat di hati rakyat.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana kita bisa mengembalikan agenda reformasi? Adakah intelektual organik yang mampu menahan hasrat kekuasaan? Elit politik tokoh yang dulu pernah dipuja publik ketika menjadi motor reformasi 1998 kini sudah tidak dapat dipercaya. Publik semakin pintar dan terus belajar, bahwa kekuasaan nyaman digenggam. Publik sudah belajar bahwa tidak mungkin idealisme dijunjung terus. Sekali kekuasaan didapat, mereka, para intelektual organik akan lupa pada agenda awal reformasi. Lalu, bagaimana kita harus bersikap?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penjelajah Kuburan, Mencintai Indonesia …

Olive Bendon | | 23 October 2014 | 03:53

Batik Tanpa Pakem …

Agung Han | | 23 October 2014 | 07:31

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Putri Presiden Jokowi Ikut Tes CPNS, Salah …

Djarwopapua | | 23 October 2014 | 14:08

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 8 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 10 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 10 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Cerpenku : Setrika Antik Ibu Mertuaku …

Dewi Sumardi | 9 jam lalu

Menemanimu Diruang Persalinan …

Toras Lubis | 9 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 9 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 9 jam lalu

Menunggu Hasil Seleksi Dirut PDAM Kota …

Panji Kusuma | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: