Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Rullysyah

Mantan Anak Band. Pernah Kuliah di Ekonomi, pernah jadi Guru Matematika dan Guru Komputer. Senang selengkapnya

Manuver Dahlan Iskan

OPINI | 06 November 2012 | 14:19 Dibaca: 342   Komentar: 0   0

“Yang dibutuhkan saat ini dari negeri yang terpuruk ini adalah Politisi Yang Netral. Politisi/pemimpin yang punya dedikasi tinggi terhadap kepentingan bangsa. Yang selalu mengedepankan kebenaran dan tidak pernah takut akan konsekwensi kerugian nama baiknya, kerugian material pribadinya maupun golongannya/partainya baik di masa kini maupun di masa mendatang.”

Pertanyaan pertama adalah : Siapa orangnya yang percaya pada ketulusan anggota-anggota Dewan yang terhormat yang saat ini selalu berjas dan berdasi dan berjalan mondar-mandir di Gedung Rakyat di Senayan?

Pertanyaan ini tidak perlu ditanyakan kepada rakyat. Cukup tanyakan saja ke para anggota DPR yang ada saat ini. Percayakah mereka pada ketulusan hati rekan-rekan mereka untuk membangun bangsa yang sudah sangat terpuruk ini?

Dan pasti hanya dua kata dari jawaban mereka atau siapapun yang bersedia menjawab pertanyaan tersebut. Yaitu : Tidak Percaya !

Lalu apakah mereka yang ada di DPR saat ini merupakan gerombolan penjahat yang berusaha merampok uang rakyat atau kekayaan Negara? Tentu saja tidak. Tidak bias kita mengambil kesimpulan pukul rata demikian. Mereka yang ada di DPR saat ini adalah mereka yang KEBETULAN beruntung terpilih menjadi anggota Dewan. Tentu saja mereka manusia biasa yang mempunyai kebaikan dan mempunyai sisi yang buruk/jahat.

Sebagian dari mereka memang mempunyai kualitas dan sebagian lagi hanya mengandalkan uangnya, populeritasnya, kekuasaannya untuk meraih keuntungan.

Sebagian besar dari mereka (anggota DPR) memang bekerja. Mereka bekerja sesuai dengan tugasnya dan kemampuannya meski hampir sebagian besar rakyat berpendapat bahwa dalam bekerja mereka (anggota DPR) menuntut imbalan yang sangat besar dari sedikit pekerjaan yang telah mereka lakukan.

Yang jelas anggap saja mereka memang sudah bekerja meskipun kondisinya seperti itu.

Dan berkaitan dengan konflik yang terjadi antara anggota DPR dengan Dahlan Iskan sebaiknya kita melihat dari sudut pandang yang netral saja.

Siapa Dahlan Iskan? Siapa yang percaya pada seorang Dahlan Iskan?

Bila pertanyaan itu diberikan pada saya. Saya hanya menjawabnya. Setahu saya DI adalah mantan Dirut PLN sekaligus Pemilik jaringan Media Jawa Pos dan sekarang menjadi menteri BUMN.

Dan berbicara masalah kepercayaan, tentu saja saya tidak/belum percaya kepada DI. Dua tahun terakhir ini DI begitu ngetop di tanah air, begitu banyak berita-berita positif dari DI oleh media tetapi entah kenapa saya tidak pernah bisa mempercayai itu sebagai prestasi-prestasi DI.

Popularitas DI sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Popularitas Surya Paloh dari Metro TV maupun popularitas Harry Tanujaya (MNCTV) yang memang ribuan wartawan hidup mencari nafkah bergantung dari grup media tersebut. Dan mereka (para wartawan itu) bisa dibilang akan selalu meniupkan pencitraan positif untuk tokoh-tokoh mereka.

Untuk grup JPPN (Jawa Pos) mungkin sulit diragukan kesuksesan DI membangun grup media tersebut, tetapi untuk PLN maupun BUMN?

Setahu saya PT.PLN tidak bertambah baik setelah ditangani DI maupun setelah ditinggalkannya. Sama sekali bukan prestasi besar kalau orang sekelas menteri menangani manajemen perusahaan yang bersifat MONOPOLI.

Saya percaya bahwa Seorang sarjana ekonomi dengan pengalaman 10 tahun rata-rata juga akan bisa memanage sebuah perusahaan MONOPOLI seperti PLN, juga TELKOM, juga PERTAMINA dll. Jadi sekali lagi saya belum percaya kemampuan seorang DI.

Kembali ke laptop, Fokus pada berita pertikaian yang telah terjadi antara DI dan beberapa anggota DPR.

Kalau kita mau berpikir NETRAL, tidak ada yang salah dalam pemanggilan Komisi VII kepada DI selaku mantan Dirut PLN untuk menjelaskan In-efisiensi managemen PT.PLN yang diduga telah menimbulkan kerugian Negara puluhan Trilyunan rupiah.

Bila DI memang tidak bersalah, sekali lagi bila memang DI tidak merasa mempunyai kesalahan dalam pengelolaan managemen PLN, SEHARUSNYA DI langsung merespon apa yang ditanyakan oleh Komisi VII.

Seharusnya DI menceritakan saja semua langkah-langkah yang diambilnya dalam pengelolaan managemen PT. PLN.

TETAPI, sekali lagi tetapi. DI menolak panggilan tersebut berkali-kali.

DI kelihatannya mengulur waktu. Dan akhirnya DI bersuara bahwa banyak anggota DPR yang memeras BUMN-BUMN yang ada!

Hmmm….. Koq Jadi seperti ini ? Apa-apaan ini? Yang satu meributkan managemen PLN, yang satu mengungkit managemen BUMN?

Disinilah terlihat kualitas dari seorang DI.

Tidak ada kebijakan yang tergambar dari pertikaian ini. Yang ada hanyalah membuat kemelut. Yang ada hanyalah membuat Pro Kontra.

Belum usai sudah rakyat dibuat bingung dengan kemelut KPK Vs Polri, sekarang rakyat disuruh bingung lagi dengan ulah DI dan DPR. Siapa yang benar?

Mengapa DI melakukan hal seperti ini?

Seharusnya sebagai orang yang digadang-gadangkan para wartawannya untuk menjadi RI 1 yang katanya berjiwa seorang pemimpin, tidak melakukan hal yang KONYOL seperti ini. SEHARUSNYA Dahlan Iskan kalau memang sebagai seorang calon pemimpin, HARUS BIJAK dan berani bertanggung jawab atas semua tindakannya dalam pengelolaan managemen PLN. Bukannya malah membelokkan masalah ke Pemerasan BUMN oleh anggota DPR.

Sekali lagi,

“Yang dibutuhkan saat ini dari negeri yang terpuruk ini adalah Politisi Yang Netral. Politisi/pemimpin yang punya dedikasi tinggi terhadap kepentingan bangsa. Yang selalu mengedepankan kebenaran dan tidak pernah takut akan konsekwensi kerugian nama baiknya, kerugian material pribadinya maupun golongannya/partainya baik di masa kini maupun di masa mendatang.”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 9 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Menuju Organisasi Advokat Muda yang …

Valerian Libert Wan... | 7 jam lalu

Semoga Jokowi-JK yang Membuka Indonesia …

Bambang Trim | 7 jam lalu

Dialog Sunyi dari Hati ke Hati dengan Gus …

Puji Anto | 7 jam lalu

Satu Lagi Atlet Muslim Yang Di …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Eksposisi, Argumentasi, Deskripsi, Narasi, …

Sigit Setyawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: