Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dedi Irawan

Seorang pecinta negeri dan blogger

Pemekaran Brebes, Mimpi Empat Dekade

OPINI | 30 October 2012 | 09:48 Dibaca: 255   Komentar: 0   1

“Suatu saat, Brebes Selatan yang beribukota Bumiayu akan didatangi oleh presiden republik Indonesia. Maka semua rakyat dengan amat senang menyambut pemimpinnya. Lalu, sang pemimpin akan berpidato di lapangan Asri Bumiayu, guna memuji kemajuan pembangunan yang dilakukan oleh kabupaten yang dulunya bergabung dengan Brebes ini.”

Empat dekade alias 40 tahun lebih mimpi di atas menemui jalan buntu nan tak tertembus. Meski undang-undang pemekaran bisa saja meloloskan lantaran syarat mekarnya sebuah wilayah kabupaten cuma membutuhkan dukungan minimal 5 kecamatan. Kebetulan Brebes Selatan, kini didukung oleh enam kecamatan. Salem, Bantarkawung, Paguyangan, Bumiayu, Sirampog dan Tonjong siap memuluskan jalan. Namun, ibarat sang anak hendak membuat rumah baru, beragam rintangan selalu ada sehingga menunda mimpi.

Salah satu yang jadi biang kerok kenapa Brebes Selatan ingin jadi kabupaten sendiri adalah minimnya perhatian Brebes. Lihat saja insfratruktur di daerah ini. Jalanan layak adalah barang mewah. Hanya jalur nasional yang melintang dari Brebes ke Purwokerto yang mulus. Sisanya adalah jalanan yang siap-siap membuat pengemudi sakit badan jika melintas.
Jalur Bumiayu – Salem yang setiap harinya memboyong warga Salem dan Bantarkawung membelanjakan uang di Bumiayu adalah jalur nista. Jalur ini paling lama bertahan setahun kemulusannya akibat padatnya volume yang berbanding terbalik dengan kualitas. Belum lagi tru-truk besar pembawa getah pinus dan kayu pinus yang hilir mudik mengangkut hasil gunung-gunung di Salem dan Bantarkawung untuk kemudian dibawa ke utara Brebes.
Masih kurang melihat derita warga Brebes Selatan? Maka bawalah motor trail dan perbekalan secukupnya. Tengoklah daerah-daerah pedesaan yang berbatasan dengan Cilacap di Kecamatan Bantarkawung. Jika kurang puas naiklah kea rah paling barat di Kecamatan Salem. Disana peran pemerintah nyaris tiada.
Itu jika hanya meninjau fasilitas transportasi. Fasilitas kesehatan tentu tak jauh berbeda buruknya. Dokter adalah makhluk langka di pelosok Brebes Selatan. Hanya ada mantri dan bidan yang akhirnya bertugas menjadi dokter. Urusan melahirkan, ada dukun beranak yang biasa disebut paraji siap membantu. Jika sakit parah, Puskesmas Bantarkawung bolehlah jadi rujukan buat warga miskin. Tapi karena fasilitas minim, maka rumah sakit swasta yang berlokasi di Bumiayu jadi tumpuan. Sayangnya biaya yang begitu mahal membuat warga lebih banyak pergi ke dukun atau bahkan cuma bisa urut dada dan berdoa.
Selain rasa sakit hati dianaktirikan, apakah yang bisa dibanggakan Brebes Selatan? Pada tahun 2005 Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Brebes bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Teknologi Bandung(LPPM-ITB) pernah mengadakan penelitian terkait kondisi SDA yang terkandung di daerah SWP III ini, dan hasilnya di daerah ini terkandung banyak potensi SDA, mulai dari batu bara, batu apung, tanah liat, dan basir dan batu (Sirtu), bahkan minyak bumi sempat terdekteksi meskipun hasilnya dibawah standar.
Pertanian tentu menyumbang penghasilan tak sedikit karena memang kegiatan itulah yang saat ini paling banyak dilakukan warga Brebes Selatan. Perkebunan juga tak sedikit meski hampir semuanya dikelola perhutani. Lihat saja deretan bukit yang dipenuhi pinus atau jati. Tengok juga perkebunan teh yang menghampar di selatan Bumiayu.
Cuma segitu? Ya, PAD daerah ini sendiri tergolong kecil. Pada tahun 2002-2003 tercatat hanya 4,5 Milyar yang bisa ditangguk daerah ini. Kini, angka 9 Milyar konon sudah bisa dihasilkan Brebes Selatan. Jika PAD cuma segitu, naga-naganya pemerintahan baru jika terbentuk amat tergantung pada DAU yang bisa mencapai 100 Milyar.
Pada masa Indra hendak berkuasa, Brebes Selatan mulai dielus agar ia duduk dengan mulus. Sayang, penerusnya cuma datang dan memberi janji saat kampanye. Kini, pasca pilkada Brebes dimana pasangan IDJO jadi pemenang, ide memekarkan diri kian merebak.
Selain PAD yang minim, Kabupaten Brebes sendiri PAD-nya hanya menyumbang 6% dari seluruh pendapatan daerah, beranikah “wong” Brebes Selatan menentang Joko Poleng untuk membentuk kabupaten baru? Ingat, Joko Poleng masih “sakti” dan konon dialah yang membuat kenapa Brebes seluas seperti sekarang.
Artikel ini dipublikasikan juga di blog saya http://geholgaul.blogspot.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 11 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 12 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: