Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Bang Nasr

Bangnasr. Masih belajar pada kehidupan, dan memungut hikmah yang berserakan. Mantan TKI. Ikut kompasiana ingin selengkapnya

Noam Chomsky: AS Tidak Ingin Demokrasi di Negara Arab Spring

OPINI | 27 October 2012 | 08:17 Dibaca: 436   Komentar: 0   0

AS dan Barat hanya mendukung demokrasi yang menguntungkan bagi kemaslahatan dan kepentingannya saja. Bila tidak ada kepentingan baginya, maka Barat dan AS tidak peduli atas musibah yang terjadi. AS takut bila demokratisasi melanda negara-negara Timur Tengah yang mencerminkan opini dan world of view rakyat Arab, khususnya dalam kerangka hegemoni AS di dunia secara umum. Demikian ungkap Prof. Noam Chomasky dalam stadium general di The American University, Cairo Mesir baru-baru ini. Prof Choamsky adalah Guru Besar Emeritus Linguistik dan Filsafat di Massachusetts Institute of Technology, AS merupakan tokoh yang banyak menentang kebijakan Israel dan AS dalam berbagai kebijakannya khususnya menyangkut persoalan Timur Tengah. Bisa kita ambil contoh nyata dalam hal ini bagaimana sikap AS dan Barat dalam menangani persoalan kasus Libya dalam revolusi menggulingkan Gaddafi dan Syria saat ini. Fakta bahwa Syria dan Presiden Bassar Assad saat ini sudah lebih dari 30 ribu membantai rakyat sipil namun Barat dan AS tidak bergeming, apalagi intervensi karena Syria tidak punya minyak bumi dan energy, sedangkan Libya sangat kaya raya SDA tersebut. Maka, dalam kasus Libya, hanya beberapa hari saja AS dan Barat dengan menggunakan PBB sebagai otoritas legal untuk melakukan intervensi dan mempercepat penggulingan Kol. Gaddafi, orang yang paling anti-Barat dan AS. Demikian juga terhadap Irak sebelumnya, karena Irak juga sangat kaya raya akan sumber daya minyak dunia dan energy. Jadi, tepat sekali apa yang dikatakan oleh Prof. Noam Chomsky.

Berbicara dengan tema besar, “Orde Dunia dan Arab Spring”, lebih lanjut Prof. Chomsky mengatakan bahwa menjadi persoalan berat bagi AS jika kebebasan berpendapat dan arus demokratisasi menggema di dunia Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Para perancang kebijakan politik AS sudah menyadari hal ini sejak  era empat puluhan abad lalu bahwa hegemoni atas kekuatan cadangan ekonomi dan SDA di kawasan Timur Tengah yang sangat kaya di dunia tersebut menjadi target untuk menguasainya secara penuh. Siapa yang menguasainya maka dia akan menjadi hegemoni dunia. Dan AS tetap konsisten melakukan ini.

Boleh jadi apa yang diungkapkan oleh Prof. Chomsky menjadi terang benderang bagi yang memperhatikan peta politik Timur Tengah, khususnya menyakut sikap dan perilaku AS di kawasan. Hanya barangkali ‘kebodohan para pemimpin negara-negara Arab saja sehingga AS dapat masuk lebih dalam ke kawasan sehingga menguasai ekonomi dan dunia industri khususnya energi dan perminyakan. Atau barangkali bukan kebodohan, tapi sesungguhnya para pemimpin Arab tersebut faham namun tidak berani ‘keras kepala’ terhadap AS karena takut dijungkalkan seperti Saddam Husain dan Gaddafi atau minimal negaranya dijadikan Republik. (Siapa yang mau membuat resiko ini dari mereka?).

Bagi beberapa negara Arab yang bersistem kerajaan, seperti di negara Teluk (GCC) seperti Arab Saudi, UAE, Qatar, Oman, Bahrain dan Kuwait tentunya secara global perlu untuk berlindung di belakang AS dari ancaman-ancaman luar dan asing, khususnya Iran yang selama ini diisukan dengan perbedaan ideologi agamanya antara Syiah dan Sunni. Bila kita mengikuti alur pemikiran Trita Parsi boleh jadi ada ‘persekongkola busuk’ yang sifatnya rahasia dibina antara Iran, Israel dan AS’ (lihat bukunya, “Aliansi Busuk: Rahasia Deal antara Israel, Iran dan AS” ‘Treacherous Alliance: The Secret Dealings of Israel, Iran, and the United States). Boleh jadi, Israel dan AS hanya perang mulut di depan, namun dibalik itu semuanya ada deal-deal rahasia yang disepakati sebagaimana ditulis Trita. Wallahu A’lam.

Atau boleh jadi para Pemimpin Negara Arab tersebut menikmati kekuasaannya lebih lama karena bergelimang harta dan kekayaan memang mengasyikkan dan meninabobokkan bagi siapa saja, termasuk kita juga tentunya. Tapi, terlepas apapun teori dan pendapat para pakar, tentunya kita mengharapkan tata kelola dunia yang lebih baik dan negara besar macam AS tidak arogansi dan preman dalam menyikapi negara-negara yang membandel kepadanya; atau rakyatnya yang menuntut menikmati kekayaan alamnya seperti Indonesia dalam kasus Freeport.

Sala damai,

sumber: Al-Arab, 25 Oktober 2012. Kok kenapa gitu yah hasil tulisannya?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

Pojok Ngoprek: Tablet Sebagai Pengganti Head …

Casmogo | | 24 April 2014 | 04:31

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Nonton Pengumpulan Susu Sapi di Kampung …

Merza Gamal | | 24 April 2014 | 08:30

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 3 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 4 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 5 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 9 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: