Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Tri Budhi Sastrio

SENANTIASA CUMA-CUMA LAKSANA KARUNIA BAPA

Sumpah Kami Bagi Pemuda-Pemudi - Sebuah Catatan

OPINI | 25 October 2012 | 11:33 Dibaca: 97   Komentar: 0   0

Di Indonesia, di Belanda, di Jepang, dan bahkan di mana
saja di seluruh dunia, 28 Oktober akan selalu diperingati sebagai hari ’sumpah
pemuda’ dan ini tentu tidak apa-apa. Yang menjadi apa-apa jika hari ini hanya
diperingati saja. Diperingati tentu saja bagus – bahkan sangat bagus – tetapi
jika diperingati saja, tidak lebih dan tidak kurang, maka betapa konyolnya
peringatan ini. Mengapa? Karenanya umurnya paling lama tiga hari. Ya, hanya
tiga hari saja. Hari yang pertama untuk menyiapkan upacaranya. Hari kedua
upacara dan ramah-tamahnya. Sedangkan hari ketiga untuk menikmati kenangan yang
mungkin masih tersisa. Benar-benar sebuah bencaNa jika ’peristiwa yang begitu luar
biasa eh … umurnya hanya tiga hari saja. < ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />

 

Sumpah Pemuda adalah sumpah yang luar biasa. Sumpah yang
tidak hanya menjadi cikal bakal bersatu dan merdekanya ini negara, tetapi juga
’soko guru’ yang membuat negara bangsa ini tetap kokoh tegak berdiri dan
berdarma di tengah percaturan dan perubahan dunia. Walau seandainya Sumpah
Pemuda tidak ada, negara ini memang akan tetap merdeka juga, tetapi faktanya
Sumpah Pemuda itu ada. Sumpah Pemuda itu nyata. Pencetus dan para pelakunya
memang telah berpulang semua, tetapi semangat dan tujuannya tetap abadi
sepanjang masa, dan semangat ini terus akan menjadi warna ini negara, warna
para pemuda, warna kami semua.

 

Catatan ini dibuat tahun-tahun sebelumnya dan telah
dikibarkan di dunia maya untuk mengobarkan semangat kaum tua untuk menjaga apa
yang sebenarnya milik kaum muda. Nah, sekarang, menjelang peringatan hari
Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2012, dan dari negara yang warna dan bentuk
benderanya sama dengan negara kita – kecuali letaknya terbalik saja – kembali
catatan pengobar semangat untuk mereka yang tua-tua

akan dikibarkan. Harapannya tidak hanya di dunia maya
tetapi juga di dunia nyata, catatan ini tidak hanya menggetarkan jiwa tetapi
juga mampu mengubah paradigma jiwa.

 

Paradigma berkarya dalam semangat menyala-nyala, jujur,
lurus dan terbuka, memang milik semua. Paradigma berkarya yang bernas dan
cerdas, lugas dan tuntas, pikiran terbuka dan hati nurani luas, juga milik
siapa saja. Pemuda memilikinya dan yang tua-tua juga punya. Karenanya silahkan
saja wahai pemuda, teruskan langkahmu, gapai cita-cita, sejahterakan bangsa dan
negara, karena harapan memang milikmu juga.

 

Tetapi hari ini ijinkan kami yang tua-tua melangkah lebih
cepat, berjalan dengan dada lebih membusung, kepala lebih tengadah, mata lebih
berbinar, dan tekad lebih membaja. Bukan kami ingin mengambil alih peranmu anak
muda – apalagi itu memang tidak bisa – tetapi karena kami ingin berjanji pada
diri kami sendiri, bahwa sudah tiba masanya kami lakukan apa yang kami bisa
untuk kalian para remaja dan pemuda. Biarkan kami yang ucapkan sumpah itu
sekarang, dan biarkan juga kami yang menjalankannya.

 

Dusta tuna etika adalah sumber bencana yang melanda ini
negara. Dan kami yang tua-tua tentu saja pantas menyandang dosanya. Semoga saja
dengan tekad yang ada dalam catatan mulia, kami tidak hanya mampu menggetarkan
angkasa persada manakala upacara mencapai puncaknya, tetapi gaung dan gemanya
akan terus berkumandang dan membahana di hari-hari selanjutnya. Kami akan jaga
dan wariskan ini negara pada kalian semua. Dan itu hanya bisa dilakukan jika
mulai sekarang dihentikan semua kebiasaan berdusta tuna etika. Salam sejahtera
untuk kalian semua remaja dan pemuda. Kami pastikan bahwa sumpah kalian adalah
sumpah kami juga. MERDEKA … MERDEKA … MERDEKA …!  

 

http://forum.kompas.com/nasional/45251-janji-kami-bagi-pemuda-pemudi.html

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membatik di Atas Kue Bolu bersama Chef Helen …

Eariyanti | | 02 October 2014 | 21:38

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Lidia Putri | | 02 October 2014 | 18:06

Kemacetan di Kota Batam …

Cucum Suminar | | 02 October 2014 | 17:06

Nasib PNPM Mandiri di Pemerintahan Jokowi …

Ali Yasin | | 02 October 2014 | 10:05

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 6 jam lalu

Emak-emak Indonesia yang Salah Kaprah! …

Seneng Utami | 8 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 10 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Dahsyatnya Ceu Popong! …

Aqila Muhammad | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kopi Gayo, Kini Jadi Daya Tarik Wisata …

Syukri Muhammad Syu... | 7 jam lalu

Gara-gara Incest di Jerman, Nginap di Hotel …

Gaganawati | 7 jam lalu

Usul Gw kepada Anggota Dewan …

Bhre | 7 jam lalu

PKC # 3: Kekasih Baru …

Ervipi | 7 jam lalu

Ini Baru #Shame On You# Jika PSC Off Ticket …

Aprindah Jh | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: