Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Acik Mdy

seorang ibu rumah tangga yang suka menulis

Saya Iri Dengan Warga DKI Jakarta, Punya Gubernur Seperti Jokowi

HL | 25 October 2012 | 18:17 Dibaca: 8271   Komentar: 33   7

13511721111061698998

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berdialog dengan pedagang di Pasar Abdul Gani, Jalan Abdul Gani, Galur, Jakarta Pusat, Rabu (24/10/2012). Kedatangan Jokowi untuk meninjau dan mendengarkan keluhan para pedagang yang berjualan di pasar tersebut. (KOMPAS IMAGES/ANDREAN KRISTIANTO)

Sebelumnya saya dan suami belum mengenal sesosok tokoh yang bernama Joko Widodo atau yang akrab disebut dengan panggilan Jokowi. Setelah ramai diberitakan tentang mobil Esemka melalui media online yang sering kami baca,waktu itu mobil Esemka  akan melakukan uji emisi di Jakarta, barulah perlahan kami mulai mengenal tokoh Jokowi. Karena Jokowi lah si pendukung mobil Esemka, sang model untuk mobil Esemka. Dan berharap  agar kelak mobil Esemka menjadi mobil nasional produksi dalam negeri. Dan saat itu Joko Widodo masih berstatus sebagai wali kota Solo.

Sosoknya bersahaja dan sederhana, tidak neko-neko kalau orang jawa bilang. Dengan dia mendukung mobil Esemka waktu itu, itu sudah menandakan bahwa betapa ia sangat mencintai produk dalam negeri dan sangan ingin memajukan produk itu sendiri. Kalau ada orang-orang yang beranggapan negative serta pesimis tentang mobil Esemka, justru kami ikut bangga seperti pak Jokowi. Mendukung produk dalam negeri. Memang untuk menjadi sebuah produk yang layak, dan bagus, itu tidak mudah, butuh perbaikan-perbaikan. Tetapi saya bangga dengan karya anak bangsa.

Ketika ditetapkan sebagai calon gubernur DKI Jakarta, ada rasa keyakinan tentang sosok seorang Jokowi. Mengapa? Sosoknya itu terlihat natural sederhana dari pembawaannya. Apalagi ketika saya melihat tayangan disalah satu stasiun televisi Indonesia,melalui youtube,  dalam acara 8 Eleven Show, dalam setiap perbincangannya sangat sederhana, serta tidaklah terlihat sebagai sosok tokoh politik yang ambisius.  Dari cara dia mendukung mobil Esemka sudah terlihat, cinta produk dalam negeri dan ingin memajukan. Meski banyak pihak yang meragukan, tapi di tetap terus melangkah maju untuk mendukung mobil Esemka. Dan saat itu ada suatu prediksi dalam diri sendiri, Dia akan diterima oleh warga DKI Jakarta. Setelah dipasangkan dengan calon wakil gubernur , Basuki Thahaja Purnama atau yang akrab dipanggil Ahok, banyak pihak yang meragukan akan kemenangannya nanti dan apakah akan diterima oleh masyakrakat Jakarta. Terlebih lagi, ketika diputaran kedua PILKADA DKI Jakarta waktu itu, partai-partai yang calonnya kalah dalam putaran pertama, semuanya mengalihkan dukungan pada calon lawan. Kalau dari penilaian saya pribadi waktu itu, kemungkinan besar mereka akan memenangkan pilkada DKI. Banyak dihujani serangan politik SARA, justru akan membuat mereka semakin berkibar. Kenapa? Saya yakin warga DKI Jakarta itu lebih pintar dalam hal berpolitik. Semakin gencar serangan politik SARA, akan membuat masyarakat penasaran dengan Jokowi-Ahok. Ditambah lagi DKI Jakarta itu merupakan contoh keplural-an dari wajah Indonesia. Kok bisa? Warga DKI Jakarta itu beragam etnis. Perantauan yang kemudian menjadi warga DKI Jakarta juga banyak, karena magnet ibukota yang dijadikan tempat untuk mengadu nasib bagi penduduk diseluruh nusantara.

Sebelumnya saya pernah menuliskan di kompasiana yang berjudul, Gubernur Impian Untuk Jakarta. Inti dari tulisan itu, siapapun yang akan memimpin Jakarta tidak masalah. Asalkan mereka adalah orang-orang yang tidak egois memikirkan program kerjanya tanpa melihat program kerja pemimpin sebelumnya. Bila program kerja sebelumnya bagus dan belum selesai, kenapa tidak dilanjutkan saja. Waktu itu saya juga menyinggung, gubernur impian DKI Jakarta, ya yang bisa melanjutkan program monorel, serta penyelesaian tentang banjir kanal yang telah digagas oleh gubernur sebelumnya.

Dari calon-calon gubernur serta calon wakil gubernur  yang ada saat itu, hanya pasangan Jokowi-Ahok, yang saya perhatikan akan melanjutkan program itu, selain ditambah dengan program-program yang lain seperti kartu sehat, kartu pintar, kampung deret, pembangunan sarana public seperti taman hijau. Ini luar biasa. Sampai suami saya bilang, otaknya Jokowi ini otak-otak Singapura banget. Karena, kami tahu kemana hendak Jokowi  mengarahkan Jakarta, bila terpilih nanti. Seperti kampung deret ataupun rumah susun terpadu misalnya, ini jelas seperti di Singapura, dimana para penduduk Singapura ditata dan diatur agar tinggal di rumah yang menjulang alias apartemen-apartemen. Dimana pemerintah tentunya akan membeli tanah-tanah warga, untuk dijadikan rumah bersama tersebut. Ditambah dengan fasilitas tempat bermain anak, taman-taman dengan kursi-kursi taman, dan ditambah lagi fasilitas lain, seperti lapangan bola ataupun juga ruang baca misalnya. Ini tentu menarik. Apalagi bila ditambah dengan adanya klinik dan pasar disitu. Jangan dibayangkan rumah susun terpadu serta kampung deret yang akan dibangun Jokowi itu sama seperti rumah susun yang ada seperti sekarang yang sudah ada.

Kini, Jokowi-Ahok sudah terpilih menjadi DKI 1 dan DKI 2. Bersyukurlah kalian warga ibukota, kalian memiliki pemimpin yang benar-benar luar biasa. Dan kalian tidak salah pilih. Mengapa? Lihatlah gubernur serta wakil gubernur kalian. Benar-benar seorang pemimpin yang peduli dengan nasib warganya. Memasuki minggu ke-dua setelah resmi dilantik menjadi gubernur serta wakil gubernur, sudah ada banyak hal yang telah diputuskan oleh Jokowi, segala hal yang menyangkut perbaikan nasib rakyat yang dipimpinnya.

Setelah dilantik, tanpa babibu, pak Jokowi langsung tanjap gas, mengunjungi warga untuk melihat segala permasalahan ibukota. Mengunjugi tempat kumuh, mengunjugi tempat banjir, mengunjungi pasar, puskesmas, hingga telah melakukan sidak di kantor lurah serta kecamatan. Apakah ini hanya sekedar jalan-jalan, bersalam-salaman, serta berfoto ria dengan warga setempat? Jawabnya adalah tidak, kawan. Kunjungan itu adalah sebuah survey tempat, melihat, mendengar keinginan serta pendapat warga, langsung ditempat akar permasalahan. Sehingga dengan begitu, gubernur bisa mempertimbangkan, menganalisis permasalahan, kemudian memutuskan kebijakkan yang diambil. Ini bukan lagi keputusan atau kebijakan “akan…akan”…tetapi sebuah keputusan final, yang secepat mungkin untuk dikerjakan.

Kalau ada sebuah kritikan dari para anggota DPRD serta anggota DPR, tentang jalan-jalannya pak Jokowi ini,mohon untuk dikoreksi kembali. Apalagi ditanggapai dengan sebuah kata “pencitraan”. Jalan-jalan yang dilakukan pak Jokowi ini adalah kerja lapangan. Mengetahui kondisi lapangan itu penting, agar tahu segala permasalahan yang ada dilapangan. Dan yang terpenting adalah mengambil kebijakan ataupun keputusan yang tepat, itu yang penting. Artinya keputusan itu telah juga dibicarakan dengan warga setempat yang mempunyai permasalahan dilingkungannya. Jadi bukan keputusan sepihak yang hanya diambil atas kewenangan gubernur sebagai pemimpin dan rakyat nurut-nurut saja. Seperti dikampung pulo misalnya, disana sudah menjadi langganan banjir. Sementara pak Jokowi punya program kampung deret untuk mereka, lantas apakah pak jokowi beserta jajarannya, langsung mengambil keputusan dibangun  kampung deret tanpa permusyawarahan warga? Tentu saja tidak. Gubernur Jakarta yang baru ini, lebih suka berbicara dengan warga langsung, mendengar langsung dari warga, apa keinginan mereka, menawarkan solusi pada warga, mencapai mufakat, setelah itu ambil keputusan untuk menyelesaikan masalah. Indahnya Indonesia…masih ada pemimpin yang mengamalkan salah satu sila pancasila, hayoo tebak sila keberapa ya??

Untuk anggapan miring tentang pencitraan, saya rasa kalau kegiatan Jokowi beserta wakilnya yaitu, Ahok, selalu menjadi buruan media, seolah-olah artis terkenal, ini tentu bukanlah sebuah keinginnya dari gubernur ataupun wakilnya, tetapi ini lebih dari sebuah keterbukaan gubernur baru itu dengan media. Media punya akses bebas untuk meliputnya, termasuk rapat anggaran. Bukankah penting untuk rakyat, untuk mengetahui apa-apa yang dilakukan pemimpinnya, apalagi menyangkut masalah anggaran, ini penting rakyat untuk mengetahuinya. Dan medialah penyalur informasi itu. Maka, saya berharap media juga harus bekerja dengan baik untuk hal ini.

Beruntunglah warga DKI Jakarta,karena aspirasi serta keinginnan kalian bisa didengar langsung oleh pemimpin baru kalian itu. Seperti  demo buruh dibalai kota Jakarta kemarin misalnya. Penahkah ada pemimpin negeri kita yang langsung mau mendengarkan, memperhatikan, serta langsung membahas apa keinginan para pendemo?? Wakil gubernur langsung menemui buruh yang demo, dan siapa yang menduga, langsung diadakan pertemuan antara wakil buruh dengan wakil gubernur. Perhatian yang seperti itu yang diharapkan bukan??

Ya, seandainya saja daerah asal sana juga mempunyai pemimpin yang demikian. Jujur saja, saya merasa iri lhoo warga DKI Jakarta punya gubernur serta wakil gubernur yang benar-benar memperhatikan rakyatnya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan warga yang diberi kartu sehat dan anak-anak yang diberi kartu pintar. Warga miskin tanpa susah payah mengurus surat miskin dan tanpa membayar pungli-pungli demi kelancaran pengurusan kartu miskin, mereka bisa langsung menuju rumah sakit daerah ataupun rumah sakit swasta hanya dengan kartu sehat. Dan anak-anak miskin dengan tersenyum indah bisa sekolah, menikmati pendidikan menyongsong masa depan, hanya dengan kartu pintar. Seperti yang saya baca disalah satu harian onlie, bahwa dengan kartu pintar nantinya anak-anak sekolah mendapatkan  uang sebesar 240.000 Rupiah perbulan, untuk apa? Untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya, beli buku, pensil, seragam, juga mungkin untuk ongkos angkutan kesekolah. Luar biasa bukan?? Anak-anak miskin bisa sekolah gratis, mereka bisa tersenyum bahagia menggapai masa depan.

Seperti yang pernah saya tulis dikompasiana dengan judul, Pentingnya Pendidikan Politik Dalam Keluarga, itu disana terlihat, bahwa ketika menjelang PILKADA tiba-tiba banyak orang baik bagi-bagi uang, tiba-tiba banyak orang yang peduli dengan rakyat miskin, tiba-tiba banyak yang perhatian dengan rakyat miskin mendengar keluh kesah warga. Tetapi setelah PILKADA, semua itu lenyap tanpa bekas. Itu semua terjadi didaerah asal sana. Miris sekali mendengarnya dan melihatnya. Kemana perginya orang-orang baik itu? Orang-orang yang katanya akan membela kepentingan mereka, orang baik yang katanya akan mensejahterakan rakyat miskin.

Kemarin waktu mudik lebaran, sungguh hati ini bergetar hebat, melihat kondisi daerah asal, dimana ada warga sakit parah tinggal tulang belulang, dengan nafas yang tersengal-sengal, dan tidak mampu untuk masuk rumah sakit. Tidak ada perhatian dari pemerintah setempat, meskipun hanya sekedar menengoknya. Padahal dulu ketika PILKADA, banyak sekali orang baik berkeliaran, menghambur-hamburkan uang, memberi uang pada setiap warga, ada warga yang sakit langsung diongkosin masuk rumah sakit, ada masjid dan gereja yang kekurangan dana pembangunan langsung dibantu dana pembangunannya. Tetapi lihatlah sekarang, pasca PILKADA, warga sakit sampai sekarat juga tidak akan ada yang datang menolongnya.

Maka, sosok seperti gebernur Jakarta saat ini sangat dicari. Mereka yang didaerah, bila mendengar tentang berita-berita tentang Jokowi beserta wakilnya, Ahok, mereka yang didaerah lain juga ingin sekali mempunyai pemimpin seperti yang kalian punya saat ini, warga DKI Jakarta. Pemimpin yang mau turun kebawah, melihat lapangan langsung, kemudian mengeksekusi, mengambil keputusan, diteruskan langsung dikerjakan secepat mungkin untuk memperbaiki kehidupan warganya.

Semoga dengan adanya kepemimpinan Joko Widodo dan wakilnya ini, Basuki Tjahaja Purnama, akan menjadikan moment atau tonggak bagi pemimpin-pemimpin diseluruh nusantara, agar bergerak kearah positif, mau menganyomi rakyatnya. Semoga pak Jokowi dan pak Ahok, bisa menjadi contoh seorang pemimpin teladan bagi para pemimpin daerah diseluruh nusantara. Sudah saatnya kita harus membangun Indonesia, bukan malah mengerogoti dari dalam dengan cara korupsi, agar tercipta kesejahteraan warga/rakyat, hingga menjadikan Indonesia menjadi Negara yang sejahtera rakyatnya, bersama membangun bangsa.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: