Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Achz Zanky

Suka menulis dan peminat sastra, ingin menjadi guru

Nasihat Untuk Pemimpin

OPINI | 07 October 2012 | 03:11 Dibaca: 915   Komentar: 1   0

Saat ini jabatan-jabatan politik menjadi idaman banyak orang. Apakah itu anggota DPRD, DPR, Bupati, Gubernur atau Presiden. Orang sanggup mengeluarkan uang bermilyar-milyar untuk merebut jabatan itu. Mereka memimpikan bahwa jabatan politik yang tinggi itu akan menaikkan status sosialnya, wibawa kehormatannya, menjamin kebutuhan hidup keluarga dan anak cucunya serta berbagai kenikmatan materi lainnya.

Mimpi-mimpi yang tinggi ini, menjadikan mereka seringkali begadang semalaman untuk lobi-lobi politik. Mengeluarkan uang bermilyar-milyar untuk iklan dirinya (satu orang saja untuk iklan mencitrakan diri sebagai presiden bisa sampai 300 milyar) dan melakukan retorika-retorika yang seringkali tidak jujur untuk meningkatkan tingkat elektabilitasnya.

Jarang orang yang memimpikan jabatan-jabatan politik, kemudian berpikir tentang amanah berat yang akan mereka emban. Tanggungjawab nanti yang harus mereka penuhi kepada rakyat. Apalagi berpikir tentang beratnya beban yang harus dipikul untuk nanti dipertanggungjawabkan kepada Sang Pencipta, di alam akherat. Hanya kenikmatan-kenikmatan material dan puja-puji para ‘punggawa’ sajalah yang seringkali menjadi impian.

Para ulama dan pemimpin-pemimpin Islam dalam sejarah, telah memberikan nasehat yang berharga tentang masalah ini. Diantaranya adalah nasihat khalifah keempat yang mulia Ali bin Abi Thalib kepada gubernur Mesir Malik bin Harits al Asytar, pada tahun 655 M (diterbitkan BMI dan GIP). Menurut Profesor A Korkut Özal dari Turki, pada perkembangan selanjutnya ternyata nasehat khalifah Ali ini memberi banyak inspirasi bahkan menjadi bahan acuan bagi banyak pemimpin, melintasi ruang dan waktu. Tercatat ia mampu melintasi Eropa di masa Renaissance bahkan Edward Powcock (1604-1691), profesor di Universitas Oxford, menerjemahkan surat ini ke dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya dan pada 1639 disebarkan melalui serial kuliahnya yang disebut Rhetoric.

Sayyidina Ali menasehatkan agar Gubernur Mesir itu hati-hati dengan jabatan yang baru diemban. Kata Ali r.a.: “Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam.”

Ali melanjutkan: ”Mereka akan bicara tentangmu, sebagaimana kau bicara tentang mereka. Sesungguhnya rakyat akan berkata yang baik-baik tentang mereka yang berbuat baik pada mereka… Karenanya, harta karun terbesar akan kau peroleh jika kau dapat menghimpun harta karun dari perbuatan-perbuatan baikmu. Jagalah keinginan-keinginanmu agar selalu di bawah kendali dan jauhkan dirimu dari hal-hal yang terlarang. Dengan sikap yang waspada itu, kau akan mampu membuat keputusan di antara sesuatu yang baik atau yang tidak baik untuk rakyatmu.

Kembangkanlah sifat kasih dan cintailah rakyatmu dengan lemah lembut. Jadikanlah itu sebagai sumber kebijakan dan berkah bagi mereka. Jangan bersikap kasar dan jangan memiliki sesuatu yang menjadi milik dan hak mereka.

Jangan katakan:”Aku ini telah diangkat menjadi pemimpin, maka aku bisa memerintahkan dan harus ditaati”, karena hal itu akan merusak hatimu sendiri, melemahkan keyakinanmu pada agama dan menciptakan kekacauan dalam negerimu. Bila kau merasa bahagia dengan kekuasaan atau malah merasakan semacam gejala rasa bangga dan ketakaburan, maka pandanglah kekuasaan dan keagungan pemerintahan Allah atas semesta, yang kamu sama sekali tak mampu kuasai. Hal itu akan meredakan ambisimu, mengekang kesewenang-wenangan dan mengembalikan pemikiranmu yang terlalu jauh.

Sesungguhnya tiang agama, kekuatan kaum Muslimin dan senjata untuk menghadapi musuh adalah rakyat jelata. Karena itu, jagalah hubungan baik dengan mereka dan perhatikan kesejahteraan mereka.”

Sayyidina Ali juga menasehatkan agar pemimpin itu memperhatikan rakyat jelata, bersikap dermawan, menjauhi sikap pelit dan rakus. Selain itu ia juga menasehatkan agar pemimpin itu mengangkat ”penasehat dari orang-orang yang dikaruniai dengan kecerdasan dan pandangan yang jauh ke depan, yang tidak bergelimang dosa, dan yang tidak pernah membantu seorang tiran dengan tiraninya, membantu penjahat dengan kejahatannya.”

Selain nasihat Sayyidina Ali ra, menarik juga menyimak surat wasiat Sultan Muhammad al Fatih (831 H) kepada anaknya. Al Fatih oleh para ulama dan sejarawan Islam disebut sebagai penakluk Konstatinopel. Ia adalah laki-laki yang disebut Rasulullah saw sebagai : “Konstatinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki . Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara.” (HR Ahmad)

Dr. Ali Muhammad as Shalabi mengemukakan sifat-sifat mulia Muhammad al Fatih ini sehingga menjadi pemimpin besar dalam sejarah Islam. Sifat-sifat itu adalah: perhatian yang tinggi terhadap universitas dan sekolah, kepeduliannya yang besar terhadap para ulama, perhatiannya terhadap penyair dan sastrawan, kepeduliannya terhadap penerjemahan buku-buku, perhatiannya terhadap pembangunan dan rumah sakit, kepeduliannya terhadap perdagangan dan industri, perhatiannya terhadap masalah administrasi, kepeduliannya terhadap tentara dan armada laut dan komitmennya pada keadilan.

Berikut cuplikan nasehat al Fatih sang penakluk Konstatinopel (Turki) itu:

“Tak lama lagi aku akan menghadap Allah SWT. Namun aku sama sekali tidak merasa menyesal, sebab aku meninggalkan pengganti seperti kamu. Maka jadilah engkau seorang yang adil, saleh dan pengasih. Rentangkan perlindunganmu terhadap seluruh rakyatmu tanpa perbedaan. Bekerjalah kamu untuk menyebarkan agama Islam sebab ini merupakan kewajiban raja-raja di bumi. Kedepankan kepentingan agama atas kepentingan lain apapun. Janganlah kamu lemah dan lengah dalam menegakkan agama. Janganlah kamu sekali-kali memakai orang-orang yang tidak peduli agama menjadi pembantumu. Jangan pula kamu mengangkat orang-orang yang tidak menjauhi dosa-dosa besar dan larut dalam kekejian… Jagalah harta baitul mal jangan sampai dihambur-hamburkan. Jangan sekali-kali engkau mengulurkan tanganmu pada harta rakyatmu kecuali itu sesuai dengan aturan Islam. Himpunlah kekuatan orang-orang yang lemah dan fakir, dan berikan penghormatanmu kepada orang-orang yang berhak.

Oleh sebab ulama itu laksana kekuatan yang harus ada di dalam raga negeri, maka hormatilah mereka. Jika kamu mendengar ada seorang ulama di negeri lain, ajaklah dia agar datang ke negeri ini dan berilah dia harta kekayaan. Hati-hatilah jangan sampai kamu tertipu dengan harta benda dan jangan pula dengan banyaknya tentara. Jangan sekali-kali kamu mengusir ulama dari pintu-pintu istanamu. Janganlah kamu sekali-kali melakukan satu hal yang bertentangan dengan hukum Islam. Sebab agama merupakan tujuan kita, hidayah Allah adalah manhaj (pedoman) hidup kita dan dengan agama kita menang.

Ambillah pelajaran ini dariku. Aku datang ke negeri ini laksana semut kecil, lalu Allah karuniakan kepadaku nikmat yang demikian besar ini. Maka berjalanlah seperti apa yang aku lakukan. Bekerjalah kamu untuk meninggikan agama Allah dan hormatilah ahlinya. Janganlah kamu menghambur-hamburkan harta negara dalam foya-foya dan senang-senang atau kamu pergunakan lebih dari yang sewajarnya. Sebab itu semua merupakan penyebab utama kehancuran.”

Salah satu ciri sifat dan keberhasilan pemimpin dalam Islam adalah hidup sederhana dan tidak bermewah-mewah. Seorang presiden atau pejabat-pejabat politik di Indonesia misalnya, idealnya melihat kemiskinan di negeri ini, bukan meminta kenaikan gaji, tapi minta penurunan gaji. Seorang pemimpin sejati tidak akan tidur nyenyak sementara rakyatnya lebih dari 40 juta kelaparan. Rasulullah saw berpesan: ”Bukan termasuk umatku, mereka yang makan kenyang sementara tetangganya kelaparan.” Terhadap tetangga saja, Rasulullah saw mengecam orang yang tidak memperhatikan kebutuhannya, apalagi kepada rakyatnya.

Godaan untuk para pemimpin itu banyak. Sebagai manusia, ia terkadang digoda nafsu harta yang bermewah-mewah, nafsu wanita (seks yang tidak terkendali) dan terkadang nafsu tahta, nafsu jabatan yang lebih tinggi-tinggi lagi. Dan bila ia tidak bisa mengendalikan, maka ia akan terperosok menjadi manusia atau pemimpin yang hina. Hanya kembali kepada ajaran a-Qur’an, ajaran Ilahi lah maka pemimpin akan sanggup menghadapi godaan-godaan itu.

Karena itu falsafah jabatan dalam Islam bukan sebagai sumber kenikmatan, tapi ia adalah sumber tanggungjawab dan sumber pengorbanan. Jabatan yang ia nikmati bukan hanya dipertanggungjawabkan kepada rakyat, tapi juga dan terutama dipertanggungjawabkan dengan sedetil-detilnya kepada Allah SWT di hari setelah kematian nanti.

Menjadi pemimpin berarti menjadi teladan. Bila ia tidak siap dan tidak mampu menjadi teladan bagi rakyat, lebih baik menjadi pengikut. Karena bila pemimpin mempunyai akhlak yang buruk, maka orang-orang sekelilingnya dan rakyatnya akan mencontoh perilaku yang buruk. Dan itulah sumber kehancuran bagi sebuah bangsa, organisasi atau partai. Pepatah yang terkenal ”Ikan busuk dari kepalanya”.

Banyak keteladanan yang bisa kita ambil dari para khalifah atau pemimpin-pemimpin Islam yang melegenda. Juga dari para tokoh-tokoh politik Islam terdahulu, misalnya dari tokoh-tokoh Masyumi (NU, Muhammadiyah, Persis, al Irsyad dll). Atau tokoh-tokoh di masa kemerdekaan dulu, seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol dll.

Maka suatu hari di tahun 1925, Mohammad Roem diajak ngaji oleh Kasman Singodimedjo dan Soeparno ke rumah Haji Agus Salim. Jalan ke rumah Agus Salim itu becek bila kena hujan, dan saat Kasman datang, Agus Salim berkomentar: ”Hari ini anda datang secara biasa. Kemarin peranan manusia dan sepeda terbalik.” Kasman menjelaskan ke Roem bahwa kemarin ia ditunggangi sepeda bukan ia menunggangi sepeda. Maka Kasman menjawab ke Agus Salim : ”Een leidersweg is een lijdensweg, Leiden is lijden.”

Maknanya : ”Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah, memimpin adalah menderita.” *

Disadur dari www.insistnet.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Merawat Identitas Melalui Karya Seni …

Khus Indra | | 23 September 2014 | 11:34

Menemukan Pembelajaran dari kasus Habibi dan …

Maria Margaretha | | 23 September 2014 | 03:26

Ke Mana dan di Mana Mantan Penghuni …

Opa Jappy | | 23 September 2014 | 08:58

Pak Jokowi, Jangan Ambil Kepala Daerah Kami …

Felix | | 23 September 2014 | 10:00

[Studio Attack] Mau Lihat Geisha Latihan …

Kompas Video | | 23 September 2014 | 11:00


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 3 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 5 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Ramping Itu Artinya Wamen dan Staff Ahli …

Den Bhaghoese | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Pak Menteri, Tolong Hentikan Nyiksa Anak SD …

Prabu Bolodowo | 8 jam lalu

Dari Pelukis Jalanan, Becak Indonesia dan …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Memecah Kontroversi RUU Pilkada …

Daryani El-tersanae... | 8 jam lalu

Kodam Jaya Terlibat Serbuan Teritorial ke …

Simon | 8 jam lalu

“Quantum Leap eSeMKa” …

Tjhen Tha | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: