Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Air Raksa

masyarakat indonesia

Film G30S/PKI Layak Diputar Kembali

OPINI | 03 October 2012 | 03:48 Dibaca: 482   Komentar: 1   0

Iseng hari ini saya menonton kembali film G30S/PKI yang ketika zaman saya masih duduk dibangku sekolah selalu diputar diseluruh stasiun tv setiap tanggal 30 september. Film ini merupakan film yang wajib ditonton ketika zaman Presiden Soeharto.

Film ini menceritakan detik-detik menjelang terjadinya pemberontakkan dan penculikan para Jenderal angkatan darat oleh PKI dengan menamakannya sebagai “Gerakan 30 September” . Disamping itu juga menceritakan peranan mantan presiden RI yaitu Soeharto yang ketika itu masih menjabat sebagai Pangkostrad dengan pangakat Mayor Jendral.

Sampai saat ini, sejarah seputar “Gerakan 30 september” sebenarnya masih menjadi misteri tentang siapa yang menjadi dalangnya, apa tujuannya, apakah dewan jenderal itu ada dan apakah para jenderal memang akan melakukan kudeta sebagaimana yang dituduhkan oleh pihak komunis yaitu PKI. Karena boleh dikatakan saksi-saksi kunci peristiwa ini sudah pergi dan tidak kembali dengan membawa semua data-data yang diperlukan dalam pelurusahan sejarah.

Namun apapun yang terjadi, pada dasarnya ada fakta yang tidak dapat kita bantah bahwa memang ada peristiwa penculikan 6 jenderal dan 1 perwira muda sebagai pengganti Jendral Nasution yang lolos dari peristiwa penculikan tersebut. Terlepas dari siapapun dalangnya dan apa motifnya, gerakan 30 september memang nyata terjadi.

Namun sejak era reformasi, kita sepertinya mulai melupakan peristiwa kelam 30 september 1965 september tersebut. Seharusnya kita tidak boleh melupakan peristiwa tersebut, dan film tersebut layak untuk diputar kembali untuk mengingatkan kembali atas peristiwa tersebut. Lembaran sejarah hitam tersebut harus dibuka kembali untuk menjadi pelajaran dan mengingatkan kita tentang bahaya komunisme.

Gerakan komunisme ini masih terus wujud ditanah air walaupun sudah berganti baju dengan gerakan kaum sosialis, dimana beberapa tokohnya juga sudah duduk di parlemen. Kita juga tidak boleh lupa, bahwa komunisme juga masuk pertama kalinya ke Indonesia juga bukan melalui organisasi atau partai beraliran sosialis, tetapi justru melalui organisasi yang berbasis agama yaitu sarikat islam. Sehingga bukan tidak mungkin sejarah akan kembali terulang jika kita mewaspadainya. Hal ini didukung oleh adanya kebebasan berpendapat dan berkumpul serta berpolitik bagi masayarakat Indonesia. Kondisi ini akan mempersubur aliran-aliran atau ideologi-ideologi lain berkembang termasuk sosialis-komunisme.

Keadaan ini sama ketika tahun 1955 untuk pertama kalinya Indonesia mengadakan pemilu, dimana ketika itu diikuti oleh banyak partai dengan segala macam ideologi. Namun akhirnya keadaan dari masa ke semasa bukan semakin membaik, namun justru membuat Indonesia terpuruk. Keadaan setelah reformasi juga menghadirkan pemilu dengan multipartainya dengan beragam latar belakang ideologinya. Tanpa pengaturan dan membentuk sistem pengawasan yang baik, ini akan menjadi pintu masuk bagi aliran sosialis dan juga komunisme dengan membonceng partai atau ormas-ormas. Kondisi ini berpotensi untuk mengulang sejarah kelam 30 september 1965.

Tentu kita semua tidak ingin sejarah hitam 30 september 1965 tersebut berulang kembali. Jangan sampai kita terperosok dua kali dalam lubang yang sama. Jika ini yang terjadi, tentu ini menjadi kerugian yang sangat besar bagi bangsa ini. Untuk itu secara pribadi, saya berpendapat bahwa film G30S/PKI masih layak untuk diputar kembali. Karena film ini, walaupun dari penceritaan sejarahnya masih belum lengkap, namun film ini sedikit banyak dapat menjadi pelajaran kita semua tentang bahaya komunisme.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 2 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 3 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 4 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 7 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kesaksian Terakhir …

Arimbi Bimoseno | 8 jam lalu

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | 8 jam lalu

Topik 121 : Persalinan Pervaginam Pd Bekas …

Budiman Japar | 9 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Transjakarta: Busnya Karatan, Mental …

Gunawan Eswe | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: