Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Fenomena Sejarah Prabowo yang Terlupakan

OPINI | 01 October 2012 | 17:33 Dibaca: 10388   Komentar: 12   1

Indonesia banyak sekali memiliki tokoh figur yang mampu menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik lagi, figur tersebut bisa berasal dari kalangan politikus, pengusaha maupun tokoh-tokoh budayawan. Namun sering kita dengar justru figur-figur tersebut berasal dari kalangan politikus yang punya peran penting untuk negara ini.

Salah satu figur tersebut adalah Prabowo Subianto yang sekarang ini menjadi buah bibir dikalangan masyarakat. Sosok Prabowo yang dulu memiliki sejarah kelam karena dikenal dengan seorang yang melakukan pelanggaran HAM berat di Timor-Timur, namanya kini menjadi harum ketika lembaga survey terkenal menyatakan, bahwa nama Prabowo menjadi populer ditengah masyarakat karena telah berhasil mengusung jokowi menjadi Gubernur DKI untuk periode 2012-2017.

Penulis berpandangan bahwa sosok Prabowo Subianto kini menjadi kontroversial, pasalnya Prabowo telah digadang-gadang akan maju dalam pilpres 2014 mendatang, namun dalam perjalanan sejarah mengatakan, bahwa saat Pabowo Subianto menjabat sebagai Danjen Sesko ABRI justru terjadi berbagai kasus-kasus yang dideranya, sebagai contoh saja penculikan aktivis 98, kasus pelanggaran HAM berat di Timor-Timur dan lain sebagainya.

Namun seakan kini catatan sejarah tersebut sirna ditelan zaman, dari hasil yang diterima lembaga survey yang mengatakan bahwa nama Prabowo Subianto kini semakin meningkat, memberikan makna bahwa catatan sejarah kelam yang dilakukan seseorang ternyata tidak direspons oleh masyarakat. Apakah artinya memang kini rakyat melupakan itu semua?.

Sebenarnya dalam pandangan penulis bahwa, sejarah itu tidak akan sirna walaupun zaman semakin bertambah, dan ketika rakyat ditanya siapa sosok Prabowo Subianto sebenarnya pastinya rakyat mengatakan bahwa Prabowo memiliki dosa besar terhadap bangsa ini. Dapat dikatakan ketika hasil survey yang mengindikasikan bahwa rakyat melupakan sejarah kelam Prabowo itu sebenarnya tidak benar, karena memang saat ini banyak terdengar isu bahwa lembaga survey tersebut hanyalah besutan pesanan dari orang yang notabene menginginkan nama Prabowo Subianto masuk dalam nominasi urutan teratas dilembaga survey tersebut.

Indikasi inilah sebenarnya adalah sebuah kebohongan publik, ketika rakyat dibohongi oleh data-data yang ada dapat dipastikan bahwa rakyat sebenarnya muak dengan lembaga survey pesanan tersebut. Dan sebenarnya masyarakat tidak akan melupakan tragedi berdarah yang dilakukan oleh beliau, dan pastinya masyarakat yang hidup di era tersebut sangat memahami dugaan keterlibatan beliau dalam kasus itu. Dan pastinya hanyalah kebenaran yang bisa menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik kini.

Dan kalau kita lihat perkembangan media kini, realitas politik sekarang lebih cenderung pada pemberantasan korupsi yang tidak dapat dipungkiri lagi. Disatu sisi hal tersebut secara langsung justru dapat mempengaruhi persepsi publik, karena kasus HAM tidak punya porsi di publik, sehingga pula apa yang didera oleh seseorang yang memiliki tanggung jawab penuh atas pelanggaran HAM tersebut, justru publik menilai tidak mengerti sejarah lalu.

Apakah memang ini adalah bentuk kesengajaan oleh lawan politik, dan baru akan digunakan saat waktunya tiba, bisa kita ibaratkan ini adalah bom yang siap meledak, dan pastinya Prabowo Subianto akan terhalang dengan kasus yang dideranya itu, dan niscaya ketika beliau menginginkan masuk dalam pilpres 2014 nanti, otomatis akan terhenti akibat dari penilaian masyarakat yang negatif. Dan tidak menutup kemungkinan pula ketika pemilu 2014 nanti dimulai, ajang pembukaan dosa-dosa lama akan dilemparkan di publik.

Seperti perkataan KH Abdurakman Wahid (Gus Dur) dan Buya Ahmad Syafii Maarif serta para ulama NU dan Muhammadiyah, jika memang Prabowo sunguh-sunguh ingin mengabdi, mengayomi dan melayani rakyat kecil demi sebuah kemaslahatan dan keadilan sepenuh hati, maka rakyat akan menerima dan mendukungnya. Namun jika Prabowo tidak tulus dan ikhlas, rakyat bisa kecewa dan justru akan menghujatnya.

Dari pernyataan tersebut kalau kita nilai saat ini banyak rakyat justru kecewa dan seakan menghujatnya. Terlontar kata-kata miring yang di dengar, lontaran kata miring tersebut justru terlihat ketika mereka ditanya mengenai kasus yang dideranya, apakah memang sosok seperti Prabowo Subianto dapat mengayomi rakyat, dan apakah dengan tulus dan ikhlas Prabowo mengemban nama rakyat.?

Prabowo selayaknya untuk segera mengingat pesan-pesan mereka, demi kebajikan dan kebaikan bersama, dan belajar dari fenomena tersebut, dan pastinya Prabowo ingat pula bahwa yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Dan setidaknya pula semua itu belajar dari pengalaman dan sejarah, semoga tulisan ini memberikan pencerahan dan memahami sejarah seseorang, dan jangan melihat dari janji-janji politik semata yang mengatakan pro dengan rakyat kecil padahal ada kepentingan tersendiri.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: