Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Abu Yasin

penulis apa adanya

Novel ‘Kabut Jihad’ Bongkar Kebobrokan Polisi Malaysia dan Sikap Tidak Bertanggungjawab KBRI Terhadap Rakyatnya Sendiri

OPINI | 15 September 2012 | 05:12 Dibaca: 467   Komentar: 2   1

1347642600610710690

Penderitaan rakyat Indonesia yang menjadi TKI di Malaysia seperti tak ada habisnya. Padahal Negara Melayu itu bisa berdiri megah dengan bangunan-bangunan tinggi melangit karena jasa dan pengorbanan rakyat Indonesia. Keringat rakyat Indonesia yang membasahi Negara kerajaan serumpun itu tak dapat dinilai dengan ringgit. Tetapi kini ibarat pepatah, habis manis sepah dibuang. Setelah Negara itu makmur dan kaya, TKI dipandang dengan sebelah mata. Keadaan ini semakin diperburuk dengan sikap KBRI dan pemerintah Indonesia yang tidak bertanggungjawab terhadap rakyatnya sendiri di luar negeri. Mulai dari duta besarnya hingga staf KBRI hanya duduk-duduk manis menikmati gaji buta tanpa kerja. Datang pagi cuma tanda tangan absen, selebihnya jalan-jalan di pusat perangingan Genting atau pasir indah Pulau Langkawi, sesekali mencuci mata di Menara Kuala Lumpur atau bangunan kembar Petronas. Sungguh memalukan!

Tidak heran apabila penembakan TKI di Ipoh, Pulau Pinang, Malaysia, pekan lalu ditanggapi dingin baik oleh KBRI maupun Kemlu RI. Malah celakanya, hal itu dianggap biasa. Tak heran apabila Ketua Dewan Pengurus Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dan aktivis change.org, Usman Hamid, naik darah sambil menggertak: “Pemerintah Indonesia berhak melaporkan kasus penembakan warga negara Indonesia (WNI) di Malaysia kepada Dewan HAM PBB. Pasalnya, penembakan WNI yang dilakukan Polisi Diraja Malaysia tersebut masuk dalam ranah internasional sehingga harus ditindaklanjuti dengan lebih serius oleh Pemerintah Indonesia.”

Sikap semenan-mena polisi Malaysia dan sikap tidak bertanggungjawab pemerintah, mengingatkan saya kepada sebuah novel yang ditulis oleh seorang narapidana teroris yang sempat beken namanya karena peristiwa perampokan kontroversi CIMB Niaga Medan, yaitu Khairul Ghazali. Novelnya yang berjudul “Kabut Jihad” yang sempat di launching oleh BNPT di hotel Borobudur 20 Juni 2012 lalu, ternyata bukan hanya berisi kasus-kasus jihad yang menurut penulisnya “berkabut”, tetapi juga membongkar fakta tentang kebobrokan praktek-praktek nakal polisi Malaysia terhadap TKI.

Lewat tokoh-tokoh yang ditampilkannya, Khairul Ghazali berhasil membangun tema, plot, setting, karakter yang membantu ending cerita yang menarik. Walaupun fiksi, tetapi penulisnya mengaku terinspirasi dari kisah nyata pengalamannya sewaktu bekerja di Malaysia tahun 1985. Klimaks cerita di bawah tajuk “Operasi Seberang” (hal.87) akhirnya membawa tokoh “Aku” menghuni penjara Pudu, yaitu sebuah penjara tua abad ke 18 yang kini sudah dirobohkan karena dibangun jalan layang dan ekspansi kota mega-metropolitan Kuala Lumpur. Penulisnya mengisahkan betapa bejat dan rusaknya moral polisi-polisi Malaysia dalam halaman berikut:

Aku melihat apa yang terjadi di jalan-jalan. Empat truk besar, puluhan pasukan biru tua bersenjata lengkap ditambah pentungan, sedang menggeledah dan menangkapi rakyat beribu pulau. Bahan-bahan dagangan dan makanan berserakan dan lumat di mana-mana, di sini, di kota Melayu yang banyak memeras keringat dan tenaga mereka untuk membangun gedung-gedung jangkung laksana tangga ke langit. Polisi tergoblok dalam sejarah dunia terkembang ini, suara hatiku, sedang mempertontonkan sirkus anarki yang mereka namakan dengan sandi Operasi Seberang.(hal.89)

Selanjutnya, Khairul Ghazali menceritakan pengalaman dramatisnya sewaktu ditangkap polisi Malaysia di hal. 90 sd 92 berikut:

Puluhan pasukan biru tua berwajah tegang dan bringas seperti pegulat-pegulat smackdown, tanpa senyum sedikitpun, sedang mengaduk-aduk kawasan perdagangan Chow Kit, mirip dengan Pasar Tanah Abang, Jakarta. Teriakan pedagang kaki lima terdengar di mana-mana.

“Dua ringgit… dua ringgit ….”

Suara itu berbaur dengan lagu Anak Singkong dari sebuah toko kaset, sedang dari toko yang lain mengalun lagu P. Ramle, Madu Tiga. Tiba-tiba, suasana itu mendadak buyar. Banyak pedagang kaki lima dan rakyat Indonesia yang sedang duduk menunggu Bus atau berdiri berkacak pinggang di pinggir jalan raya, melarikan diri bagai dikejar-kejar hantu kubur. Layaknya gurkha, pasukan-pasukan biru tua itu memamerkan kebringasannya dengan meringis sambil mengejar-ngejar rakyat tak berdosa yang kini seperti macan ompong, meskipun sisa-sisa keperkasaan masih terasa membekas di betis dan tangan kami yang geram seperti anak kecil yang sedang meremas balon hingga meletup.

Sasaran razia itu memang pendatang Indonesia, karena beberapa bulan terakhir ini dalam hampir setiap kejahatan – dari samun (penodongan), pecah rumah (pencurian malam hari), sampai perkosaan dan pembunuhan di wilayah itu – selalu melibatkan pendatang Indonesia walaupun pasukan biru tua tak bisa memberikan data akurat. Berbagai kasus kriminal yang dilakukan pendatang Indonesia seakan mencapai puncaknya ketika kudengar berita, 3 orang tahanan asal Indonesia yang dituduh merampok dan membunuh dengan menggunakan senjata api, menyandera Hakim Nyonya Mariana Yahya yang memeriksa mereka di penjara Kuantan, Pahang. Pihak keamanan Malaysia, yang mengerahkan belasan penembak mahir, berhasil menyelamatkan hakim itu – hanya 24 jam setelah peristiwa. Dua pembajak tertembak mati, dan satu lagi terluka.

Peristiwa dramatis ini tentu saja mendapat publikasi luas di media massa setempat, apalagi kebetulan para pembajak adalah pendatang dari Indonesia. Di Jakarta, terdengar suara Menlu Mochtar Kusumaatmadja – yang tergagap-gagap karena takut terganggunya hubungan harmonis Indonesia-Malaysia – menegaskan bahwa terbunuhnya dua orang Indonesia yang dituduh berbuat kejahatan itu tidak akan mempengaruhi hubungan baik kedua negara yang terjalin selama ini. Menurut juru bicara Soeharto untuk urusan luar negeri ini – yang tidak pernah membela rakyatnya di negeri yang sangat tercela hukumnya ini – pemerintah Indonesia pun akan melakukan hal yang sama bila tindak pidana itu terjadi di sini. Sebelum ini pun, pers setempat selalu menonjol-nonjolkan kejahatan yang melibatkan orang Indonesia.

Ha? Apa mereka kira kami bangsa perampok? Kami adalah bangsa yang kuat memegang pacul. Padi tumbuh di setiap jengkal tanah kami yang subur. Tanah-tanah kami juga kaya dengan material tambang.

Seakan-akan yang berbuat kejahatan itu selalu orang Indonesia. Mereka tidak pernah menulis hal yang positif dari pendatang Indonesia. Malah pernah kubaca, pers setempat sampai hati membuat berita: ada penjual sate dari Indonesia yang memakai daging babi. Padahal, ternyata, berita itu hanya fitnah. Ini menunjukkan pers setempat tak berimbang dalam pemberitaan. Mereka menciptakan opini seolah-olah pelaku kriminal itu identik dengan bangsa Indonesia. Yang pasti, berbagai peristiwa yang diliput pers secara luas itu, terutama setelah berita pembajakan tadi, membuat citra Indonesia bagi penduduk Malaysia, termasuk yang berasal dari ras Melayu, hancur-hancuran. Pokoknya, sekarang, kalau ada maling masuk rumah tanpa diketahui oleh pemiliknya, mereka langsung menuduh itu perbuatan orang Indonesia.

Inilah hasil kerja pers Malaysia yang memandang mereng Indonesia, padahal negara itu bisa berdiri dengan megahnya karena keringat rakyat Indonesia. Secara ekonomis ladang karet dan kelapa sawit – salah satu dari tiga kaki yang menyangga ekonomi negeri itu – bisa lumpuh kalau ditinggalkan oleh buruh Indonesia yang mayoritas merupakan buruh kasar. Tanpa keberadaan TKI, Malaysia tidak mungkin menjadi negara produsen kelapa sawit (CPO) terbesar di dunia dan produsen karet alam ketiga terbesar di dunia. TKI telah memberi kontribusi besar dalam pembangunan gedung-gedung pencakar langit seperti Menara Kuala Lumpur dan Menara Kembar Petronas. Begitu juga peranan TKI dalam pembangunan Kuala Lumpur International Airport yang megah, hingga pembangunan pusat pemerintahan Putrajaya yang elok. Kini, keringat itu seolah-olah limbah yang harus di recycle bin bahkan empty recycle bin.

Menarik sekali cerita yang dibangun oleh Khairul Ghazali berdasarkan pengalamannya tahun 1985 itu. Walaupun telah berlalu 27 tahun, namun penderitaan TKI masih tetap updated sampai hari ini. Begitu pula sikap tidak bertanggungjawab KBRI dan pemerintah Indonesia terhadap TKI, masih meninggalkan sisa-sisa zaman Soeharto. Sebuah novel sejarah yang cukup bagus untuk menjadi bahan inspirasi bagi bangsa yang tengah mengalami multi krisis ini. Apalagi ditulis oleh seorang narapidana teroris dari dalam penjara. Kreativitas yang cukup gemilang laksana Buya Hamka dan novelis-novelis besar lainnya yang melahirkan karya-karya fenomenal dari balik jeruji penjara.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | | 25 October 2014 | 06:48

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 3 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Semoga Presiden Jokowi Tidak Salah Pilih …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Pelatihan Intel Teach Project Based Learning …

Aosin Suwadi | 9 jam lalu

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 10 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: