Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Harli Muin

Saya mulai tertarik dengan masalah-masalah sosial, anti korupsi pembangunan, lingkungan hidup dan keamanan masyarakat, ketika selengkapnya

Munir, Hak Asasi Manusia dan Keadilan

OPINI | 07 September 2012 | 11:52 Dibaca: 4644   Komentar: 0   0

Oleh: Harli Muin

Delapan tahun yang lalu, tepatnya 7 September 2004, Munir berpulang ke Rahmatullah dengan selamanya. Saya tidak menyangka kepergiannya begitu mengagetkan banyak orang. Teman-teman dekat yang pernah mengenal Munir tidak percaya bahwa pesawat Garuda yang membawanya ke Amsterdam dan transit di Changi Air Port, Singapura mengakhiri nyawanya. Teman dan kerabat Munir lewat berbagai pesan singkat di blackbery mesangger dan tweeter mengalir saling menjawab. Sebagian isi pesan itu mengingatkan penyelesaian kasus Munir terkatung-katung, dan sebagian lagi menyampaikan renungan sedalam-dalamnya bahwa peristiwa delapan tahun lalu itu sangat menyakitkan, bak kehilangan sosok phalawan yang gigi dan sederhana.

Bagi aktifis human rights defender di Indonesia bahkan di seluruh dunia, peringatan pesan di tweeter dan blackberry mesagger itu tak sekedar saling mengabarkan dan menceritakan peristiwa yang menyakitkan delapan tahun silam, mengenang perjalanan hidup Munir, yang ia dedikasikan melawan ketidak adilan, penindasan dan kesewenangan. Mengenang kisah-kisah perjuangan Munir membelah para kaum tertidas di pabrik-pabrik, membelah korban-korban pembangunan Orde Baru dan memburuh koruptor pejabat negara.

Sebagai pejuang pembela kaum tertindas, sosok Munir selalu dikenang membela korban pelanggaran hak asasi manusia. Di Tanah air, selain dikenal sebagai pejuang HAM, munir juga merupakan pejuang anti-korupsi. Pekerjaan ini merupakan bagian dari kegiatan yang dikerjakam Almarhum semasa hidupnya. Sepak terjang Munir mebelah hak asasi manusia ini, kemudian ia dikenal di dalam dan di luar negeri. Tidak saja di negeri tetangga Asean, tetapi juga di benua Eropa dan Benua Amerika. Beberapa duta besar yang pernah bertugas di Indonesia mengenal figure Munir sebagai pejuang HAM dan termasuk tokoh NGO.

Saya sempat bertemu almarhum Munir pertama kali pada tahun 1993 di Surabaya, ketika itu ia bekerja sebagai staff Devisi Perburuhan di Lembaga Bantuan Hukum Surabaya, atau lebih dikenal dilidah banyak orang dengan LBH Surabaya. Pada waktu itu, saya bersama rekan Yahdi Basma ( saat ini ketua KNPI Sulawesi Tengah), Mohmmad Iqbal ( saat ini pengurus DPD Golkar Sulawesi Tengah) dan Pattaray Burhan (bekerja pada Harian Fajar, Makassar) hendak mengikuti Training Jurnalistik Tingkat Nasional di Universitas Jember, yang diadakan di Jember. Sebagai aktifis jurnalistik kampus, yang tak memiliki kantong tebal, kami berempat memohon numpang nginap di LBH Surabaya. Karena banyaknya buruh pada waktu itu, beliau memberikan tumpangan kami berempat di ruang Mushallah LBH, sebuah ruangan yang berukuran kira-kira 4 x 5 meter. Kami berempat singga semalam di ruangan itu sebelum menuju Jember dengan menggunakan bus dari terminal Purabaya ke esokan harinya. Salah satu terminal bus terbesar di kota pahlawan ini–yang menghubungkan semua jurusan ke Pulau Jawa.

Pada pertemuan itu, kami berempat sempat berdiskusi dengannya mengenai perjuangan buruh. Saya tidak menyangka, sosok Munir yang beperawakan kurus sangat cerdas. Bagi saya, Munir, tidak saja pejuang buruh, tetapi juga sosok inlektual. Ia menguraikan satu-persatu persoalah buruh di Jawa Timur. Pada waktu itu, pemogokkan dan protes buruh hampir setiap minggu terjadi.

Pada tahun yang sama, saya sempat bertemu lagi almarhum di Jakarta. Pada waktu pengurus YLBHI di Jakarta saling berseberangan. Beberapa pengurus YLBHI waktu itu, yang tidak puas dengan kebijakan Dewan Pendiri YLBI, Andnan Buyung Nasution. Perpecahan ini, aktifis LBH yang tidak puas itu, beberapa tahun kemudian melahirkan Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI). Tidak berselang lama kemudian Almarhum menjadi direktur LBH semarang

Bagi saya, Munir adalah sosok yang tak kenal lelah dan kompromi melawan kekuasaan yang sewenang-wenang. Beberapa tahun menjelang Orde Baru runtuh, laporan mengenai orang hilang banyak dilaporan masyarakat masuk ke YLBI. Maraknya pengaduan itu, Kontras didirikan pada tahun 1998 dan Munir menjadi salah satu koordinator untuk mengurus korban penghilangan orang. Orde Baru menggunakan cara penghilangan aktifis untuk mempertahankan kekuasaanya pada waktu itu, yang seringkali dirundung demostrasi oleh para aktifis mahasiswa dan akfis pro-demokrasi.

Menetang kekuasaan Orde baru pada waktu itu, berarti menunggu ajal. Mengikuti jejak-jejak orang yang sudah dihilangkan terdahulu. Tetapi tidak peduli bagi Munir, ia melaporkan orang-orang hilang ini ke aparat keamanan negara dan berkampanye meningkat kesadaran publik, bahwa penghilangan orang adalah tindakan melanggar hak asasi manusia. Ratusan orang dihilangkan nyawanya, tanpa alas an yang jelas. Orang-orang ditahan tanpa surat penahanan. Berita-berita mengenai penghilangan orang terdengar hingga tidak hanya di aras domestic, juga aras manca negara. Masyarakat internasional memprotes aksi-aksi yang kejam ini. Kini saya membayangkan betapa beraninya Munir berseberangan dengan kekuasaan – yang begitu kuat pada waktu itu. Disana sini kita menjumpai orang yang bepakaian seragam—yang menggunakan sepatu laras dan dilengkapi dengan senjata.

Rentetan kekejaman di atas, orang mulai mengerti kejadian itu merupakan pelanggaran hak sipil politik dan menentang konvesi international mengenai penghilangan orang (torture). Indonesia telah meratfikasi kedua konvesi itu. Itu berarti bagi Munir, pemerintah wajib melindungi, mempromosikan, dan menyediakan sarana bagi perlidungan hak asasi manusia. Bukan malah menjadi aktor pelaku pelanggar HAM.

Delapan tahun sudah berlalu, bukan waktu yang singkat, saya membaca beberapa dari pesan para aktifis itu–yang penuh dengan harapan penyelesaian kasusu pelanggaran HAM, yang dialami Munir–yang hingga kini belum tuntas. Saya membayangkan tiba-tiba kenapa kasus pelanggaran HAM ini tidak kunjung tuntas–yang hanya memenjarakan anak buah pelaku penghilangan ini, malah aktor pelaku penghilangan tidak dihukum. Saya berpikir betapa sisa-sisa kekuatan Orde Baru masih bercokol hingga kini–dan tidak dijangkau oleh hukum.

Simbol Pejuang HAM

Bagi para pejuang HAM dan kaum miskin, Munir dikenal sebagai pahlawan. Tentu saja ini didasarkan atas sepak terjang Munir, pria yang memiliki nama lengkap. Munir Siad Thalib. Ia lahir dan dibesarkan di Malang, Jawa Timur 8 Desember 1965 melawan segala bentuk penindasan. Namanya melambung ketika mejabat koordinator Kontras–yang menyebabkan Prabowo kehilangan jabatan dari militer, dan pengadilan terhap kelompok Mawar–yang telibat dalam penculikan dan penghilangan orang.

Paska penhilangan orang, Munir tidak berhenti sampai disitu saja. Bahkan turut mendirikan beberapa lembaga kemudian Imparsial, sebuah lembaga yang didedikasikan untuk bekerja untuk meningkatkan kesadaran publik dan ikut serta berpartispsi memberikan pemikiran kebijakan dibidang hak asasi manusia.

Itulah sebabnya, beliau dijuliki sebagai human right defender. Atas perjuangan itu, Munir memperoleh sejumlah penghargaan, antara lain: Right Livelihood Award 2000, Penghargaan pengabdian bidang kemajuan HAM dan kontrol sipil terhadap militer Swedia, 8 Desember 2000. Penghargaan ini merupakan salah satu penghargaan bergengsi dibidang HAM. Boleh jadi apa yang disuarakan Munir, memicu lahirnya TAP MPR pengahiran kekuasan militer berkiprah di politik dan bisnis, serta pemisahan TNI dan Polri. Ia juga dikenal oleh aktifis akti kekerasa, yang kemudian memperoleh penghargaan Mandanjeet Singh Prize, Unesco, untuk kiprahnya mempromosikan toleransi dan anti-kekerasan pada tahun 2000. Penghargaan lain adalah Yap Thian Hien Award ditahun 1998.

Tidak hanya itu, dikalangan media, Munir juga dikenal sebagai pemimpin politik. Majalah Asia Week pada tahun 1999 memberikan penghargaan padanya sebagai pemimpin politik mudah Asia pada milenium baru. Kemudian majalah Ummat, yang bertiras ratusan ribu pembaca pada waktu itu, menebut munir sebagai man of the year ditahun 1998. Kemduian, tahun 1998, ia menerima awards dari Aliansi Jurnalis Independen, atas nama Kontras. Dikalangan Seniman ia tidak asing, Serdadu Awards dianugerahkan oleh organisasi Seniman dan Pengamen Jalanan Jakarta ditahun yang sama.

Kini Munir sosok Munir telah tiada. Ia telah pergi meninggal kita semua untuk selamanya. Pesan Hurbert Marcuse, bila gerakan mahasiswa itu mati, ia tidak mati dengan begitu saja. Dari Marcuse itu, juga bisa kita elaborasi menjadi;” yang kurang lebih bunyinya,” bila gerakan perjuangan kebebasan itu mati, ia tidak akan mati dengan sendirinya”. Ia akan terus menggonggong sampai ia menemukan tujuannnya. Bagi saya, pesan Marcuse itu, bisa juga diterapkan dalam perjungan Munir, meski ia tak bersama kita lagi , kita yang masih hidup wajib melajutkan pekerjaannya dan merupakan tugas rumah kita melanjutkan cita-citanya. Karena kebenaran masih belum diungkap dengan tuntas, rehabilitasi para korban pelanggaran ham masih masa lalu masih diabaikan, keadilan masih jauh dari panggang dan api. Bila tidak siapa lagi. Mari kita teruskan perjuangan ini, bila tidak, bukan tak mungkin kita akan mejadi korban pelanggaran HAM berikutnya.

Akhirnya kita berharap, pemerintah harus menyelesaikan kasus Munir. Tidak ada tempat bagi para pelanggar HAM berat. Mereka tidak kebal hukum. Oleh karena itu keadilan harus ditegakkan. Supaya publik tahu siapa aktor yang menghilangkan nyawa Munir sebenarnya. Bila tidak, Munir- Munir yang masih hidup saat ini akan terus mengagih kasus pelanggaran HAM ini. Mereka akan menutut keadilan bagi Munir. Bila tidak, ia merupakan duri dalam kekuasaan, yang terus menusuk disetiap saat. Karena ini merupakan utang sejarah tentang HAM dan keadilan dari kekuasaan yang ada sekarang yang belum tuntas. Semoga***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Ogah Ditinggal Relawan …

Nurul | | 23 August 2014 | 17:17

Badan Pegal di Raja Ampat, Sentuh Saja …

Dhanang Dhave | | 23 August 2014 | 12:10

Gebrakan Trio Jokowi-AHOK-Abraham Samad = …

Den Bhaghoese | | 23 August 2014 | 11:37

“Pah, Sekarang Mamah Lebih Melek Politik …

Djoel | | 23 August 2014 | 18:00

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Dilema Makan Nasi Dalam Bakul …

Giri Lumakto | 2 jam lalu

“Ahok Si Macan Putih dari …

Pakfigo Saja | 3 jam lalu

Kacaunya Pagelaran Ulang Tahun RCTI ke-25 …

Samandayu | 3 jam lalu

Febriana Wanita Indonesia Jadi Bintang dalam …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Pilpres: Beda Prabowo & Megawati …

Mania Telo | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: