Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Sunardi Purwanda

Saat ini sedang belajar di Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang

Kriteria Ideal Pemimpin Bangsa (Bagaimana Kriteria Anda?)

OPINI | 04 September 2012 | 15:11 Dibaca: 785   Komentar: 2   0

Akhir-akhir ini para Partai Politik telah mendaftarkan verifikasi partai-partainya yang akan bertarung pada Pilpres Tahun 2014. Tentunya para parpol ini lah nantinya yang akan mengusung pemimpin bangsa untuk Indonesia 5 tahun ke depan. Sudah adakah calon Pemimpin Bangsa bagi para kompasianer?.

Teringat sebuah kalimat tentang “kriteria ideal” seorang pemimpin besar yang di ungkapkan oleh Eri Sudewo (pendiri Dompet Dhuafa) dalam bukunya yang berjudul “Character Building untuk Indonesia yang Lebih Baik” [saran; layak untuk kita baca], beliau menuliskan kurang lebih seperti ini “kriteria pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang sederhana, jujur, disiplin, tidak egois dan visioner”.

Sifat kesederhanaan mutlak untuk sebuah pengabdian, tidak mengagungkan sebuah jabatan, jujur dalam menjalankan amanah, disiplin dalam bertindak, mementingkan kepentingan rakyat serta visioner dalam mencapai tujuan kesejahteraan rakyat. Sangat ideal bagi Indonesia masa kini, karena kalau kita berkaca dari kepemimpinan bangsa kita dewasa ini masih jauh dari sebuah cita-cita tujuan bernegara. Kemiskinan masih melanda, Pendidikan yang tidak merata, kesehatan belum terjangkau dan sebagainya.

Seorang pemimpin yang bijak haruslah lebih memahami keadaan orang yang ia pimpin, bukan malah sebaliknya orang yang di pimpin mesti memahami keadaan sang pemimpinnya dari sebuah rutinitas pidato curhat tentang kegalauan bangsa ini. Karena bagaimanapun juga orang yang memimpin adalah orang yang telah di berikan kepercayaan penuh kepada orang yang di pimpin untuk menjalankan sebuah amanah dan tanggung jawab penuh bernegara.

Ada sebuah contoh yang  di kemukakan oleh buku character building tersebut, tentang seorang atasan yang seringkali memarahi ketimbang memberikan sebuah apresiasi kepada bawahannya. Hingga akhirnya ketika sang Pimpinan meminta untuk di buatkan kopi oleh bawahannya, sang bawahan meludahi kopi tersebut dan mengaduknya dengan gula hingga tercampurlah menjadi satu racikan yang sangat “waaoow”, sebuah kemenangan berarti tentunya bagi bawahan tersebut.

Sebenarnya berkaca dari contoh di atas kita bisa simpulkan bahwa seorang pemimpin bukanlah orang yang mesti di takuti, karena bagaimanapun ia layak untuk kita segani sebagai pemimpin yang mampu memberikan contoh dalam sebuah kehidupan. Maka seorang pimpinan yang ditakuti layaknya bukan seorang pemimpin yang ideal, mesti kita ketahui bersama “dalamnya lautan bisa kita selami namun dalamnya hati seseorang siapa yang tahu?”, oleh karena itu seorang presiden mesti peka terhadap rakyatnya, apabila tak ingin ada sebuah pembalasan dari bawah.

Mari kita sama-sama mencermati para calon pemimpin bangsa menurut analisa, persepsi serta kriteria masing-masing yang nantinya menjadi pilihan di pilpres mendatang, jadikan pilpres mendatang sebagai momentum awal kebangkitan Bangsa untuk kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur sesuai dengan tujuan bernegara.

[Dikembangkan dari bacaan Eri Sudewo, 2011. Character Building; Untuk Indonesia Yang Lebih Baik]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Di Kabupaten Ini, Seluruh Desanya Wajib …

Khairunnas Djabo | | 01 August 2014 | 15:34

Peran Kita untuk Menghindari Jebakan Negara …

Apung Sumengkar | | 01 August 2014 | 15:26

Empat Cincin Jantungnya Masuk Lewat Pembuluh …

Posma Siahaan | | 01 August 2014 | 13:46

Gua-gua Bekas Penggalian Batu Kapur di Desa …

Mas Ukik | | 01 August 2014 | 15:11

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 5 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 10 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 12 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: