Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Darmawan Avatar

IT Preneur | Graphic designer | Instructur IT | Elektro UNM | HMI | Selayar

Popularitas Amien Rais Vs Jokowi

OPINI | 23 August 2012 | 08:00 Dibaca: 3312   Komentar: 29   3

Setelah muncul berbagai macam opini publik terkait arikel amien rais edisi Selasa, 21 Agustus 2012 yang memberitakan tentang pernyataan Amien Rais tentang Jokowi. Artikel tersebut ketika tulisan ini dibuat, telah dibaca oleh  lebih dari 110 ribu orang dan dikomentari oleh 3288 orang yang rata-rata berisi umpatan dan cacian terhadap amien rais. juga memunculkan berbagai macam opini dari para pengamat dan penulis di kompasiana.com. Kemudian muncul pertanyaan dibenak saya apakah ketokohan amin rais sebagai sosok nasionalis dan bapak reformasi dapat dengan mudahnya hilang dari ingatan rakyat indonesia dan tergantikan dengan sosok CAGUB DKI Jakarta? tentu ini adalah pertarungan sosok ketokohan sejarah dengan sosok masa depan dengan jargon perubahan untuk Jakarta.

Munculnya polemik ini membuktikan bahwa warga Jakarta pada khusunya sangat menginginkan perubahan yang berarti di masa depan bukan lagi cerita dongeng tentang kehebatan masa lalu. warga Jakarta membutuhkan sosok yang bisa berbuat banyak dilapangan bukan lagi orang yang ada di balik layar yang hanya bisa menilai tanpa bisa berbuat. walaupun harapan itu belum tentu bisa terwujudkan ketika misalnya Jokowi terpilih menjadi DKI 1. munculnya polemik ini juga menjadi signal bagi CAGUB incumben Foke akan peta kekuatan politik Jokowi menjelang putaran ke 2 Cagub DKI untuk segera menyusun strategi demi memenangkan laga nanti.

Namun pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah sosok ketokohan amin rais sudah kalah bersaing dengan sosok Jokowi di era sekarang ini khususnya di DKI Jakarta? Perlu dicermati sebelum menarik kesimpulan dari masalah ini perlu diperhatikan hukum alam bahwa yang merasa terancam dan dirugikan sudah pasti akan menyerang balik semampu, namun dibalik itu tentu ada juga pihak yang merasa diuntungkan dan memilih untuk diam atau sekedar berkomentar sok bijak. Tentu ketika kita menilai dari sudut sempit dunia maya khususnya kompasiana.com maka bisa ditarik kesimpulan bahwa fanatisme terhadap Jokowi telah mengalahkan kebesaran nama Amie Rais.

Kita jangan sampai terjebak dalam menilai dari perspektif yang sempit dengan menggunakan kaca mata kuda dalam kasus ini, pertama perlu diperhatikan adalah moment politik yang terjadi saat ini di DKI Jakarta yang semakin memanas sehingga saya mengutip istilah dari penulis lain “Amien lagi Apes”, kemudian yang kedua simpatisan Jokowi saat ini bisa dibilang “Fanatik yang berlebihan” sehingga siapa saja yang mencoba memunculkan opini negatif terhadap idola mereka dianggap sebagai “LAWAN” bukan lagi melihat problematika secara rasional dan objektif. Ketiga, perhatian media terhadap politik DKI Jakarta yang sangat luar biasa sehingga mengundang perhatian dari semua lapisan masyarakat dan melahirkan sensivitas yang sangat luar biasa dan cenderung menggiring opini publik ke arah politik.

Saya kemudian mencoba menarik benang merah dari problem yang ada bahwa polemik di media belumlah bisa dijadikan parameter untuk membandingkan sosok kedua tokoh ini. Alasan pertama yaitu butuh kajian yang lebih ilmiah untuk menentukan sosok ketokohan dimasyarakat bukan berdasarakan momentum saat ini tetapi berdasarkan pandangan objektif dari masyarakat luas. Kedua, secara bijak kita dapat mengutip pernyataan “setiap masa pasti ada pemimpinnya dan setiap pemimpin pasti ada masanya” sosok Amien Rais “Ngetrend” pada masanya dan untuk masa sekarang ada Jokowi yang lagi “Ngetrend” .

Namun dari semua polemik yang ada seyogyanya kita mampu memberi pandangan kepada masyarakat secara objektif dengan tidak lupa memperhatikan situasi dan kondisi yang ada saat ini. Saya yakin Amien Rais orang yang cerdas dan hebat dalam memberikan pandangan, dan semoga saja pandangan yang diberikan bukanlah atas tendesi politik, sehingga tidak mengorbangkan ketokohannya ditengah masyarakat. Istilah “Jangan main api kalau takut terbakar” perlu direnungkan bersama. Semoga saja kondisi politik yang ada saat ini tidaklah melahirkan perpecahan ditengah masyarakat yang lagi “Galau” saat ini. Saya yakin bahwa masyarakat saat ini menginginkan perubahan dan cinta akan keutuhan NKRI. Semboyan “Bhineka tunggal ika” masih kita pegang erat dan lebih menghargai dinamika demokrasi yang ada. Siapapun sosok pemimpin semoga saja bisa membawa perubahan seper ti yang dirindukan masyarakat saat ini.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Karnaval Kota yang Paling Ditunggu …

Ikrom Zain | | 30 August 2014 | 14:46

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | | 30 August 2014 | 16:19

Madrid yang Tak Belajar dari Pengalaman …

Garin Prilaksmana | | 30 August 2014 | 16:19

Makna Perjalanan Adalah Menambah Sahabat …

Ita Dk | | 30 August 2014 | 13:06

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 10 jam lalu

Masalah Sepele Tidak Sampai 2 Menit, Jogja …

Rudy Rdian | 11 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 13 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Peranku bagi Indonesia …

Wiranota Hesti | 8 jam lalu

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | 8 jam lalu

Penampilan Wadyabala Kanjuruhan dan …

Mas Ukik | 8 jam lalu

Florence Penghina Jogja Akhirnya Ditahan …

Ifani | 8 jam lalu

Kuliner Vietnam Kala Itu… …

Fillia Damai R | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: