Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dewa Gilang

Single Fighter!

Kritik Amien Rais Terhadap Jokowi: Mau Kemana Mas Amien?

REP | 22 August 2012 | 01:52 Dibaca: 4713   Komentar: 74   6

“Amien Rais: Predikat Wali Kota Terbaik Menyesatkan,” demikian headline berita yang terdapat pada media online Kompas.com, 21 Agustus 2012. Amien, seperti dikutip dari Kompas.com, mengingatkan warga Jakarta agar jeli melihat kelebihan dan kelemahan setiap calon, yaitu Joko Widodo dan Fauzi Bowo.

Secara khusus, mantan ketua Partai Amanat Nasional (PAN) itu mengomentari perihal angka kemiskinan di Solo yang meningkat selama Jokowi menjabat sebagai Wali Kota Solo. “Selama periode Jokowi, angka kemiskinan meningkat. Masih banyak daerah kumuh di Kota Solo, seperti di daerah Nusukan,” kata Amien di sela-sela silaturahmi dengan keluarga besarnya di Bekonang, Sukoharjo, Selasa (21/08/2012).

Amien juga mempersoalkan mengenai predikat Wali Kota terbaik yang disandang oleh Jokowi. Menurut tokoh PAN tersebut, predikat Wali Kota terbaik justru menyesatkan. Karenanya Amien berharap agar warga Jakarta cerdas dalam memilih.

Ucapan Amien Rais yang “pedas” mengenai Jokowi bukan pertama kali dilontarkan olehnya. Tercatat, sebelumnya, Amien pernah menilai prestasi seorang Jokowi, yang Ia anggap lumayan. “Menurut saya Solo itu perubahannya tidak terlalu banyak. Jadi, tetap banyak daerah yang masih kumuh, gelap di waktu malam kurang penerangan, dan macet di berbagai sektor perkotaan,” ujar Amien di rumah Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan. (Detik.com/2012/08/06).

Selain itu, Amien juga pernah memberi komentar bahwa Jokowi lumayan berhasil dari segi pencitraan, dengan begitu banyak pemberitaan yang menyatakan kesuksesan Jokowi. (Merdeka.com/2012/08/07).

Berbagai komentar Amien, yang terkesan “miring”, terhadap Jokowi, bila ditinjau dari segi komunikasi politik, tidaklah salah. Sebab, seperti telah diketahui, partai PAN, di mana Amien pernah menjadi Ketua Umumnya, telah menyatakan dukungan terhadap Foke-Nara pada Pilkada Putaran kedua DKI Jakarta.

Sebagai elite dalam PAN, Amien jelas mendukung kebijakkan partainya tersebut, yang mendukung kubu Foke-Nara. Dan sebagai bentuk dukungan penuh PAN terhadap Foke-Nara, sekaligus menunjukkan “mesin partai” yang berjalan mulus, Amien sah-sah saja melontarkan berbagai kritik terhadap Jokowi.

Namun, penilaian terbalik akan kita dapatkan bila kita mengikuti rekam jejak Amien Rais selama ini. Beliau terkenal sebagai sosok yang “reformis”, sosok pembaharu, yang anti terhadap incumbent. Sikap Amien yang reformis sangat tercermin ketika ia berada di garda terdepan “pasukan” reformis pada 1998. Ketika berada dalam lingkar kekuasaan-pun, Amien tak pernah berhenti menyuarakan “kevokalannya” terhadap segala kebijakkan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat.

Jadi sungguh aneh melihat berbagai komentar “miring” Amien Rais terhadap Jokowi, yang mengisyaratkan keberpihakannya terhadap Foke, yang jelas-jelas seorang incumbent dan telah dianggap gagal oleh sebagaian masyarakat Jakarta. Setidaknya itu yang tercermin pada Pilkada putaran pertama, di mana suara lebih banyak didapatkan Jokowi.

Pertanyaan juga muncul di benak kita. Kemana jiwa reformis yang dimiliki oleh seorang Amien?. Bukankah Jokowi-Ahok, yang mengusung tema perubahan, lebih mencerminkan ke-reformisan bila dibandingkan dengan Foke-Nara?. Gelombang arus pembaharuan birokrasi lebih “didayung” oleh seorang Jokowi “ketimbang” Foke. Haruskah suara reformasi Amien hilang tenggelam ditelan suara “syahwat” politik Partai, yang cenderung feodalistik ketimbang reformasi?.

Jadi, satu pertanyaan untuk Amien Rais. “Mau Kemana Mas Amien?”.

Salam berang-berang.

Selamat menikamati hidangan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 9 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 10 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Kursi-kursi Senayan… …

Florensius Marsudi | 8 jam lalu

Naik Transjakarta Rp 40 Ribu …

Aba Mardjani | 8 jam lalu

Memotivasi Mahasiswa untuk Belajar Lewat …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Munas Golkar Tak Diijinkan di Bali Pindah …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Patah …

Rahab Ganendra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: