Back to Kompasiana
Artikel

Politik

R. Graal Taliawo

Asli orang Halmahera Selatan-Maluku Utara | Minat "OTAK-ATIK" STATUS QUO | SAYA MENGHARGAI HAK & selengkapnya

“Politik-Islam Diskriminatif?”

REP | 16 August 2012 | 16:13 Dibaca: 581   Komentar: 56   4

Indonesia Lawyer Club (ILC) TvOne 14 Agustus 2012 bertema “Rhoma Irama Menggoyang SARA?” memberikan gambaran tentang banyak hal kepada publik. Di antara wacana yang muncul, hal menarik bagi penulis adalah berbicara soal kejelasan atau kepastian “adanya perintah dari Kitab Suci Al-Qur’an yang mewajibkan umat Islam memilih pemimpin yang seiman.

Surat An-Nisa 144:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُواْ لِلّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُّبِينًا

Indonesia: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali denganmeninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?

Awalnya, gagasan yang ramai dibicarakan pasca heboh ceramah Rhoma Irama kapan lalu itu, yang diklaim berdasarkan teks Kitab Suci ini, bagi penulis bukanlah hal yang terlampu serius untuk dipikirkan.

Asumsinya, publik bisa menduga bahwa sebagai salah satu pendukung kandidat gubernur pada Pilkada DKI Jakarta, jangan-jangan Rhoma sedang memolitisasi teks Kitab Suci demi kepentingan politik. Dengan kata lain, bisa saja ajakan dan larangan dalam teks untuk memilih pemimpin yang seiman ini, secara substansial sebenarnya tidak berbicara demikian, namun telah dipelintir guna memuluskan kemenangan salah satu kandidat.

Namun, persepsi penulis mengenai hal ini menjadi sedikit berubah—namun masih tetap ada “kecurigaan” atas klaim ini—ketika mencermati acara ILC malam itu. Imam Besar Masjid Istiqlal K.H. Mohammad Ali Mustofa Yaqub yang hadir dalam acara itu, juga membenarkan adanya teks yang mewajibkan kaum Muslimin untuk memilih pemimpin yang seagama. Bahkan, argumentasi berbeda mengenai teks tersebut dari cendekiawan muslim lain, Azyumardi Azra dengan segera dipatahkan oleh Imam Besar ini.

Kata lain, lepas dari adanya tuduhan politisasi dari Rhoma atas teks tersebut, menjadi sedikit agak susah kita pungkiri bahwa perintah bagi umat Islam untuk memilih pemimpin yang seagama terlihat benar adanya, nampaknya hal itu sulit dibantah.

Akan tetapi, hingga saat ini, penulis sendiri masih menyimpan pertanyaan kaitan teks tersebut, yakni: apakah tidak ada bentuk penafsiran lain atas teks tersebut? Mungkinkah teks itu hadir dalam ruang kosong tanpa konteks? Ataukah ada konteks tertentu, kondisi politik, ekonomi, dan (mungkin) budaya, yang membuat bunyi teks tersebut hari ini menjadi nampak—artinya belum tentu—diskriminatif (-)?

Jika memang benar bahwa tafsiran atas teks tersebut harus demikian, apakah salah jika sebagian publik Indonesia yang non-islam lantas berpikir bahwa ”politik-islam itu cenderung diskriminatif (-), karena hanya orang Islam yang boleh memimpin?” Apakah keliru jika muncul di pikiran sebagian kita bahwa sesungguhnya cara politik Islam itu tidak mengenal demokrasi: kesetaraan dalam ruang publik dan politik bagi semua warga negara?

Jika selama ini wacana bahwa Islam dan demokrasi itu bisa berdampingan, lantas argumentasi seperti apa yang bisa dikemukakan oleh sebagian kaum Muslimin lain untuk memberikan alternatif tafsiran atas teks itu?

Pada satu acara seminar publik 31 Agustus 2006, Muhammad A.S. Hikam, salah satu cendekiawan, pernah berkomentar bahwa kita mestinya tidak buru-buru mengambil kesimpulan umum atas Islam, bahwa Islam itu begini, begitu, dst., jika mendapati ada satu klaim atau tafsiran (bahkan tindakan) tertentu oleh seorang ulama atau sekelompok penganut yang mengatasnamakan Islam. Karena dalam Islam sendiri terdapat keragaman dan aliran (pluralitas), yang masing-masing memiliki kekhasan dalam menafsir teks.

Kata lain, publik non-islam dan begitu juga penganut Islam, tidak bisa bersikap buru-buru menilai atau mengklaim tafsiran seorang muslim sebagai pandangan atau identik dengan ajaran Islam. Apalagi, adalah fakta bahwa tetap ada jarak antara penafsir dengan teks. Yang secara kualitas, apa yang dikatakan oleh penafsir tidak sama dengan teks. Tafsiran berada pada posisi yang tidak sejajar dengan teks. Artinya, apa yang kita klaim sebagai ajaran Kitab Suci, tidak selamanya benar adalah sama dengan ajaran Kitab Suci, tafsiran kita masih bisa salah. Dan karena masih bisa salah, selama itu pula segala bentuk tafsiran atas teks tersebut tidak layak dimutlakan, masih terbuka didiskusikan kembali.

Nah, bagaimana dengan surat Surat An-Nisa 144 yang dikutip Rhoma Irama saat ceramah itu? Apakah tafsiran Rhoma atas teks tersebut juga sesuatu yang sudah tidak bisa digugat?

Secara pribadi, penulis sendiri masih berkeyakinan—walau belum memiliki dasar argumentasi yang kuat—bahwa antara Islam dan demokrasi (khususnya nilai-nilai kemanusiannya), tetap bisa berada dalam jalur yang sama, bisa didialogkan demi sinergisitas. Apalagi, sebagai agama, Islam telah membuktikan—dalam sejarah—bahwa peradaban manusia bisa dibangun di atasnya. Itu artinya, politik-islam (dan mungkin politisasi) yang terlihat dalam Pilakda DKI Jakarta hari ini, tidak menutup kemungkinan, adalah hanyalah salah satu serpihan wajar dari tafsiran Islam, yang tetapi tidak identitk dengan politik Islam itu sendiri. Tapi apakah ini pandangan yang benar? Mungkin saya (kita) masih harus mencari….

Bagi Saudara dan Kawan Muslimku, Saya Ucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1433 H

Mohon Maaf Lahir dan Batin

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Yuk Kenali Serba-serbi Njagong …

Giri Lumakto | | 01 August 2014 | 23:14

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

“Tak Sempurna Hanya Tanpa …

Jarjis Fadri | | 31 July 2014 | 08:41

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Koalisi Merah Putih Tetaplah Merah Putih, …

Hanny Setiawan | 11 jam lalu

Jokowi Belum Dilantik, PKB Sudah Nagih Jatah …

Ikhlash Hasan | 11 jam lalu

Libur Lebaran, Bertemu Bule dan Supir Isteri …

Hendry Sianturi | 16 jam lalu

Membuat Tanda Salib di Pusara Ir. Soekarno …

Kosmas Lawa Bagho | 16 jam lalu

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: