Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Hans Liem

“My friends, love is better than anger. Hope is better than fear. Optimism is better selengkapnya

Membuka Kebohongan & Fitnah dari Ceramah Rhoma Irama tentang Singapura

OPINI | 10 August 2012 | 11:13 Dibaca: 161258   Komentar: 118   68

…..

BLA BLA BLA

Waktu tahun 72 saya pergi ke Singapura untuk mengikuti ASEAN Pop Festival. Dan juara Pop Singer Asia Tenggara adalah Rhoma Irama. Di sana saya ngobrol-ngobrol, saya diminta tolong sampaikan hati-hati bahayanya salah Gubernur, saya khawatir Jakarta jadi Singapuranya Indonesia. Dulu Singapura ini wilayah Malaysia, tapi setelah dikepung secara ekonomi, dikuasai secara politik, maka Singapura memisahkan diri menjadi negara sendiri. Negara yang tadinya wilayah Melayu jadi negara Cina, dari negara Muslim menjadi negara Kristen, innalillahi.

Saya tahun 72 sudah diingatkan oleh Tengku Ghazali Ismail kasih tahu orang Islam hati-hati. Maka ketika sekarang terjadi, saya merinding. Jangan-jangan sinyalemen dari Ghazali Ismail sebentar lagi akan terjadi, kalau umat Islam tidak bersatu, kalau umat Islam tidak menyadari hal ini, bukan mustahil sinyalemen Ghazali Ismail akan terjadi.

Begitulah sepenggal dari ceramah sang Haji yang dengan berapi-api mengkampanyekan calon yang dijunjungnya. Disini, saya tidak akan membahas soal ungkapan SARA yang dia ucapkan dalam ceramah yang bersangkutan di salah satu mesjid di daerah Tanjung Duren  Jakarta Barat yang akhirnya membuat beliau berurusan dengan Panwaslu berhubung karena sudah banyak yang membahasnya.

Di artikel ini saya ingin menunujukkan  dimana kebohongan lain yang beliau sampaikan dalam ceramahnya didepan umat yang mendengarkan. Saya akan coba memberikan fakta yang cukup sehingga janganlah ada yang dengan mentah-mentah termakan hasutan dari berita-berita yang kebenarannya sangat diragukan.

Pada paragraf pertama saya memberi warna tebal di kalimat Singapura memisahkan diri menjadi negara sendiri. Disini RI berusaha menggiring pendengar khotbahnya untuk percaya seolah-olah etnis Cina disana menguasai politik dan ekonomi di Singapura sehingga memberi kesan memberontak dan akhirnya memerdekakan diri dari Malaysia. Disini saya meragukan apakah Pak Haji ini mengerti sejarah Singapore dan Malaysia secara utuh atau berimajinasi ?

Perlu diketahui penggabungan Singapura ke Federasi Malaysia hanya berlangsung  kurang dari 3 tahun. Yaitu dari tahun 1963 s/d 1965. Dan sejak 1959 dengan kemenangan partai PAP pimpinan Lee Kwan Yew, Singapura  berhasil mendapatkan otonomi penuh dari Inggris dan Lee sendiri ditunjuk sebagai Perdana Menteri.  Setelah medapatkan kemerdekaan penuh dari Inggris pada Agustus 31 1963, sesuai dengan Referendum yang diadakan pada tahun 1962, rakyat Singapura memutuskan untuk bergabung dengan Federasi Malaysia. Ada-pun alasan penggabungan diri sbb:

  1. Sebagai negara kecil, Inggris tidak yakin Singapura dapat berdiri sendiri dan mampu.
  2. Sebagai negara kecil yang miskin sumber daya alam maka kemampuan untuk survive sangat kecil.
  3. Para pemimpin Singapura saat itu membutuhkan dukungan Federasi Malaysia dalam menghadapi Komunisme yang menjadi suatu problem yang besar karena pada dekade 50an telah terjadi berkali-kali kerusuhan yang ditimbulkan oleh para komunis.

Kemudian, apa yang terjadi saat itu adalah penggabungan yang setengah hati yang pada akhirnya hanya menimbulkan friksi yang berkepanjangan. Partai UMNO yang terbesar di semenanjung Malaya tiba-tiba  merasa mendapat saingan kuat dari partai PAP. Merasa semakin terancamnya partai tersebut, maka digalanglah sentimen rasialis yang berpuncak pada kerusuhan Juli 1964 di Singapura yang menelan korban jiwa di kedua belah pihak. Hasil investigasi dari kerusuhan rasial tersebut menghasilkan laporan yang berbeda:

  • Pihak Federasi Malaysia melalui Deputi Perdana Menteri Tun. Abdul Razak mengkambing hitamkan Indonesia sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap kerusuhan tersebut.
  • Pihak Singapura menyalahkan kerusuhan ini ditangan UMNO.

Pada akhirnya tensi politik yang berseberangan antara dua partai ini  mencapai puncaknya, maka pada tahun 1965 parlemen Malaysia memutuskan secara sepihak dengan suara aklamasi 126 - 0 untuk melepaskan Singapura dari Federasi Malaysia. Keputusan ini sangat memukul rakyat Singapura dan para pemimpinnya. Karena disaat itu Singapura hanyalah suatu kota kumuh dan penuh dengan lahan datar yang kosong dan tidak subur. Setelah dipaksa berpisah atau dikeluarkan dengan paksa dari Federasi Malaysia, mau tidak mau Singapura terpaksa berdiri sendiri sebagai negara baru yang diberi nama Republik Singapura.

Jadi alangkah salahnya Rhoma Irama mengatakan bahwa Singapura memisahkan diri sendiri. Yang benar adalah Singapura dipaksa keluar dari Federasi Malaysia karena gesekan politik dimana PAP berusaha memperjuangkan kesetaraan dan kesempatan sosial tiap-tiap individu sedangkan UMNO berkeras untuk mempertahankan politik Bumiputera-nya. Moment masa kegelapan dimana Singapura dipaksa keluar dari Federasi Malaysia dapat dilihat dari link Youtube dibawah ini dimana PM Singapura Lee dengan derai air mata mengungkapkan perasaannya terhadap keputusan tersebut. Mungkin di dunia ini hanya ada satu-satunya negara yang DIPAKSA merdeka tanpa kemauan dari pihak yang dimerdekakan !!

http://www.youtube.com/watch?v=41ND3U_9HgQ&feature=related

Dari link diatas dapatkah kita katakan bahwa rakyat Singapura terutama pemimpin-nya merasa bahagia saat itu sebagai negara yg merdeka ? Tentu TIDAK !!

Jadi secara jelas apa yang dikatakan Rhoma Irama adalah suatu KEBOHONGAN !!

Sekarang kita lanjutkan ke paragraph selanjutnya tentang pengakuan Rhoma Irama bahwa ada pembicaraan antara dia dengan tokoh yang dinamakan Tengku Ghazali Ismail di tahun 1972. Sepanjang penulusuran penulis ke berbagai referensi sejarah Singapura, tokoh yang dirujuk oleh Rhoma Irama kalaupun sama dengan yang diketemukan oleh penulis adalah bernama lengkap Mohammad Ghazali bin Ismail. Beliau adalah tokoh penting di pergerakkan UMNO dan PAP di Singapura pada awal bergabungnya Singapura ke Federasi Malaysia dan sampai memisahkan diri menjadi Republik. Beliau, Ghazali Ismail besama Yacoob Mohamed adalah pemimpin dari partai UMNO Singapura dan akhirnya memutuskan membelot ke partai PAP pimpinan Lee Kwan Yew. Kepindahan disebabkan karena mereka terkesan dengan politik yang dijalankan Mr. Lee sangat mengayomi kesetaraan rakyat Singapura termasuk etnis Melayu didalamnya. Salah satu policy dari Mr.Lee adalah menghapuskan sekat-sekat ke-etnis-an. Semua etnis diletakkan ke posisi derajat yang sama dan memiliki hak untuk mendapatkan support dari pemerintah yang saat itu berupa kesempatan memperoleh tempat tinggal yang layak.

Perlu diketahui pula bahwa pada  saat itu Ghazali Ismail menduduki jabatan anggota DPR untuk wilayah Al-Juneid. Posisi dia diangkat sebagai tokoh utusan tanpa perlu melalui pemungutan suara. Dan jabatan rangkap yang diemban-nya adalah Sekretaris bidang politik di Departemen Pendidikan Singapura.

Dalam sepak terjang beliau di kancah politik Singapura beliau adalah salah satu tokoh yang disegani dan dihormati PM Lee dan bisa dilihat dari pidato October 1965 di link dibawah ini:

http://stars.nhb.gov.sg/stars/tmp/lky19651023b.pdf

Beliau adalah seorang nasionalis sejati yang anti komunis serta berjuang demi bangsa dan negara Singapura dan sangat bangga terhadap negaranya sediri, ini bisa dilihat dari 2 pidatonya dibawah ini:

http://stars.nhb.gov.sg/stars/public/viewDocx.jsp?stid=23727&lochref=viewPDF-body.jsp?pdfno=PressR19700806c.pdf&keyword=

http://stars.nhb.gov.sg/stars/public/viewDocx.jsp?stid=25075&lochref=viewPDF-body.jsp?pdfno=PressR19690811a.pdf&keyword=

Bahkan dimasa tuanya, beliau juga sempat menulis buku yang berjudul “Malaysian Malaysia” ditahun 1990 yang berisi pokok pemikiran sebagai berikut:

“konsep kesamarataan seluruh rakyat Malaysia adalah tanpa mengira bangsa, budaya dan agama, supaya mereka berhak memperolehi layanan yang sama, menuntut hak yang sama, dan menikmati apa jua keistimewaan yang diberikan kepada orang Melayu”

Jadi pertanyaan sekarang, siapakah tokoh Ghazali Ismail yang Rhoma Irama mengaku pernah diberi warning oleh orang yang bersangkutan? Yang pasti bukanlah tokoh nasionalis Singapura yang saya bahas diatas. Mustahil sekali orang sekaliber Ghazali berpikiran picik. Dan juga satu hal yang janggal, dengan jabatannya sebagai anggota DPR apakah mungkin di tahun 1972 membahas masalah beginian dengan kelompok musik anak bau kencur dan juga bukan warga negara Singapura ? Apa urusannya dia yang bertugas di Departemen Pendidikan berurusan dengan kelompok band ini ? Jadi disini juga bisa kita simpulkan Rhoma Irama sama sekali tidak mengenal jelas tokoh yang dia pilih secara asal-asalan demi pembenaran diri yang ternyata malah seorang nasionalis sejati !

Dibawah ini akan saya tampilkan tabel demografi etnis dan kependudukan Singapore awal kemerdekaannya sampai tahun 2001:

1344567279998440486


Dari tabel tersebut bisa dilihat secara jelas komposisi etnis dari Singapura yang mayoritas Chinese dari sejak awal dengan komposisi persentase yang stagnan dari tahun ke tahun dan demikian juga terhadap etnis Melayu.  Dari sini dapat disimpulkan kalau apa yang dikatakan Rhoma Irama bahwa Singapura yang tadinya wilayah Melayu jadi negara Cina adalah fitnah belaka !!!

Jadi, saran saya terhadap rekan-rekan pembaca supaya sangat jeli untuk tidak hanya menelan mentah-mentah perkataan oknum yang tidak bertanggung jawab yang dengan kebencian dan misi pribadi mengungkapkan fakta yang bohong dan fitnah yang keji. Apalagi hal ini mengaitkan ke negara tetangga kita yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Pilkada di DKI Jakarta. Apakah kita tidak malu dan kehilangan muka dikancah perpolitikan dunia ?

Kepada Rhoma Irama yang notabene bertitel Haji dan mubaligh agama seharusnya insyaf dan bermohon ampun dihadapan Allah Yang Maha Kuasa atas segala perkataannya yang bernada fitnah dan kebohongan apalagi dilakukan dibulan yang suci yang penuh kemenangan ini.

Referensi diatas disadur dari berbagai buku dan disertasi seperti :

* Singapore Malays: Being Ethnic Minority and Muslim in a Global City-State - By Hussin Mutalib, Hussin

* ”Singapore: History, Singapore 1994″. Asian Studies @ University of Texas at Austin

*”Towards Self-government”. Ministry of Information, Communications and the Arts, Singapore.

-  -Sekian   –

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | | 25 October 2014 | 06:48

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 3 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Semoga Presiden Jokowi Tidak Salah Pilih …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Pelatihan Intel Teach Project Based Learning …

Aosin Suwadi | 9 jam lalu

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 10 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: