Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Abdi Dharma

Menulis di Kompasiana untuk menyalurkan hobi & berbagi info..(http://infoterpenting.blogspot.com/). Hobi lainnya adalah berenang, yoga, membaca, selengkapnya

Mengapa Jokowi Tidak Didukung Amin Rais (Tokoh Reformasi)?

OPINI | 08 August 2012 | 15:13 Dibaca: 1838   Komentar: 16   0

1344438756310203992

Amin Rais (Pesatnews.com)

Amin Rais yang dianggap sebagai salah satu tokoh Reformasi, tadinya saya sangka akan memberi dukungan penuh kepada Jokowi. Mengapa saya menyangka demikian ? Sebabnya adalah tokoh reformasi biasanya cenderung untuk mendukung perubahan atau pembaruan, dan pembaruan di dalam suatu pemerintahan biasanya ditandai dengan upaya pergantian pimpinan yang lebih baik daripada pimpinan incumbent.

Seperti kita ketahui bahwa pada perjuangan reformasi di tahun 1998 yang lalu mayoritas masyarakat Indonesia berjuang keras untuk menjatuhkan Presiden Soeharto, dan salah satu tokoh yang berdiri di garis terdepat pada saat itu adalah Amin Rais.

FOKE & JOKOWI BERPRESTASI

Pilgub DKI putaran kedua yang akan dilaksanakan September mendatang, seperti kiya ketahui cagub yang akan maju adalah Fauzi Bowo (incumbent) dan Jokowi. Tentunya dapat dipahami bahwa calon pemimpin incumbent tidak pernah dianggap sebagai tokoh pembaruan. Dengan sendirinya cagub yang bisa dianggap sebagai tokoh pembaruan dalam pilgub DKI adalah Jokowi.

Calon pemimpin yang bukan incumbent tentunya harus memiliki nilai plus yang membuatnya layak disebut sebagai tokoh pembaruan. Paling sedikit tokoh pembaruan tsb harus memiliki nilai plus yang menunjukkan dia memiliki kelebihan daripada tokoh incumbent.

Putaran ke 2 Pilgub DKI dapatlah dikatakan sebagai babak final dalam pilgub tsb. Dua tokoh yang masuk babak final dalam pilgub tsb tentunya memiliki prestasinya masing-masing. Sekarang marilah kita lihat catatan singkat prestasi Foke dan Jokowi.

Foke disebut-sebut memiliki prestasi penting dalam bidang-bidang sebagai berikut: 1.Pendidikan 2. Pelayanan kesehatan 3.Pengelolaan air 4.Transportasi. Untuk info yang lebih lengkap, pembaca bisa melihatnya di sini: http://www.poskotanews.com/2012/07/02/fauzi-dan-prestasi-untuk-rakyat-dki/

Di lain pihak, Jokowi memiliki prestasi yang tentunya terkait dengan jabatannya sebagai wali kota Solo (Surakarta). Adapun prestasi Jokowi dapat dilihat dalam bidang-bidang sebagai berikut:

1.Menjadikan kota Solo sebagai The Spirit of Java. Jokowi (lahir di Surakarta, 21 Juni 1961), adalah walikota kota Surakarta (Solo) untuk dua kali masa bakti 2005-2015. Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui slogan Kota Solo yaitu “Solo: The Spirit of Java”.

2.Renovasi pasar di 7 lokasi. Jokowi mampu memindahkan pedagang kaki lima di Solo tanpa harus menggusur mereka. Jokowi dengan cerdas mengatasi masalah dengan win-win solution. T

3. Merintis mobil Esemka. Jokowi memiliki andil untuk mempopulerkan mobil Esemka karya anak negeri ke ranah nasional. Jokowi dengan gigih membantu pengembangan Mobil Esemka dengan menjadikannya sebagai Mobil Dinas AD 1 A di Solo.

4.Sederhana, merakyat dan Tokoh 2008. Majalah Tempo memasukkannya sebagai salah satu dari 10 Tokoh 2008. Tak mudah untuk memilih 10 tokoh dari 472 kabupaten dan kota di seantero tanah air. Kesulitan datang ketika menetapkan kriteria. Namun, yang menjadi pertimbangan Tempo memilih Jokowi tercantum pada halaman situsnya tanggal 22 Desember 2008, “Sedikit Orang Baik di Republik yang Luas”. Untuk info yang lebih lengkap, pembaca bisa melihatnya di sini: http://www.uniknya.com/2012/07/12/5-prestasi-jokowi-joko-widodo/

PENILAIAN JK & AMIN RAIS

Prestasi sebagai pemimpin tentunya perlu ditambah dengan kedekatannya kepada rakyat dan juga kualitas pribadinya. Tentunya prestasi dan kualitas pribadi ke dua tokoh ini akan lebih bisa dinilai jika kita melihat bagaimana pandangan dua tokoh masyarakat seperti JK (Jusuf Kalla) dan Amin Rais.

Dalam hal ini JK, mantan ketua umum Partai Golakat dan mantan wapres, memberikan penilaiannya terhadap Foke dan Jokowi sebagai berikut:

1.Jakarta harus diatur bersama. JK merasa tidak punya harapan terhadap Fauzi, karena ia maunya sendiri.

2.Dalam memilih pemimpin warga harus membandingkan amal public dan dosa public seorang calon. Ibaratnya masuk surga itu, amal dikurangi dosa. Jk menganjurkan warga memilih cagub yang amal publiknya lebih besar dari dosa publiknya. Menurut JK, dosa public Jokowi sejauh ini tidak kelihatan. Sedangkan Foke, dosa publiknya kita sebut setiap sore, misalnya masalah kemacetan dan banjir menahun di ibu kota (Tempo: 6-8-2012).

Berbeda dengan JK, ternyata Amin Rais, tokoh reformasi dan mantan ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) memiliki penilaian yang agak miring terhadap Jokowi.

Seperti kita ketahui bahwa prestasi Jokowi sebagai wali kota Solo sering kali mendapat pujian dan bahkan sempat masuk dalam nominasi peraih penghargaan walikota terbaik. Prestasi ini oleh Amin Rais dianggap biasa saja. Amin mengatakan sebagai berikut:

“Sesungguhnya pencapaiannya belum spektakuler, tetapi memang lumayan juga” Kata Amin usai acara berbuka puasa di rumah dinas Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, Jalan Denpasar, Jaksel.

Amin menambahkan salah satu contoh kegagalan Jokowi adalah permasalahan macet dan kemiskinan di Solo yang tak kunjung usai. Banyak daerah yang kumuh dan masih gelap di waktu malam karena kurang penerangan.

Selain itu menurut Amin angka kemiskinan di kota Solo lebih besar daripada di Jakarta, namun tidak pernah diungkap ke public. Selanjutnya Amin menghimbau kepada warga Jakarta untuk memberikan pilihan secara cerdas, karena pilihan itu akan bertahan selama 5 tahun. (Detik.com:6/9/2012)

Tampaknya setelah partai politiknya (PAN) menjadi partai pendukung pemerintah dan tokoh PAN duduk di dalam kabinet, Amin Rais sebagai pendiri partai tsb sudah kehilangan jiwa reformasinya.


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 13 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 13 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 14 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Donor Darah di Perancis …

Bayu Teguh | 11 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 12 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 12 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: