Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Handoyo El Jeffry

Bila ingin mengenal seseorang, bacalah tulisannya. Bila ingin membaca seseorang, kenalilah tulisannya. Bila ingin menulis selengkapnya

Harakiri Politik: Tradisi Pemimpin Ksatria

OPINI | 24 July 2012 | 08:40 Dibaca: 1230   Komentar: 1   2

13430741881534150272

Harakiri. Spirit pengorbana samurai yang masih terjaga di Jepang (sumber photo: http://deeperintomovies.net/journal/archives/5294)

Dalam sejarah bangsa Jepang, harakiri tumbuh di masyarakat tradisional kalangan samurai, prajurit pengawal setia kekaisaran dan telah ada sejak berabad-abad silam. Harakiri, yang juga dikenal dengan seppuku (disembowelment-mengeluarkan isi perut) merupakan ritual bunuh diri sebagai bagian dari bushido, kode kehormatan prajurit samurai untuk membayar rasa malu atas kekalahan, menghindari kemungkinan penyiksaan ketika jatuh ke tangan musuh. tradisi yang masih dijaga kuat oleh masyarakat Jepang.

Harakiri juga kadang dilakukan sebagai bentuk dari hukuman mati bagi samurai yang telah melakukan pelanggaran serius seperti pembunuhan yang tidak beralasan, pemerkosaan, perampokan, korupsi, pengkhianatan dan kejahatan lain yang tak termaafkan. Dalam perkembangannya, harakiri tetap hidup sebagai spirit, falsafah dan kode etik kepemimpinan dalam pemerintahan Jepang modern. Harakiri politik sudah menjadi hal yang lumrah, karena semangat bushido meletakkan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi.

Semangat inilah yang menjadikan Jepang dikenal sebagai bangsa beretos kerja tinggi, memiliki dedikasi dan loyalitas yang jarang dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Berpijak dari spirit inilah Jepang mampu mengukuhkan diri sebagai salah satu negara maju di dunia, baik dalam ekonomi, teknologi, industri maupun olahraga, khususnya sepakbola.

‘Harakiri politik’ yang sering ditunjukkan para pemimpin Jepang adalah kebernian mundur dari jabatan apabila seseorang merasa gagal dalam tugas kenegaraan. Dua contoh teranyar dari harakiri politik adalah mundurnya Perdana Menteri Jepang Naoto Kan pada 26 Agustus 2011 akibat krisis Nuklir pasca gempa besar (tsunami) yang melanda negeri itu dan ketidakpuasan publik dengan penanganan pemerintah terhadap krisis itu.

1343075545205951607

PM JepangNaoto Kan. Mundur pada 26 Agustus 2011 (sumber photo: http://www.guardian.co.uk/world/2010/jun/04/japan-prime-minister-naoto-kan)

Kemudian disusul dengan Mundurnya Menteri Industri Yashio Hachiro pada 12 September 2011 hanya gara-gara salah ucap dengan menyebut kata “Kota Kematian” pasca gempa besar itu. Padahal, setahun sebelumnya, pada 2 Juni 2010, PM Jepang Yukio Hatoyama juga melakukan hal yang sama. Hatoyama yang hanya menjabat selama 9 bulan mengundurkan diri setelah popularitasnya menurun drastis akibat keputusannya mempertahankan pangkalan militer AS di Okinawa.

Mundur dari jabatan merupakan tradisi bangsa Jepang dalam menjaga etika kepemimpinan khas samurai. Harakiri politik. Bunuh diri kekuasaan adalah bagi pemimpin politik dan kekuasaan Jepang adalah simbol kehormatan prajurit samurai yang telah terdidik untuk tidak menerima kekalahan, kesalahan dan kegagalan. Menang, benar dan sukses atau mati! Demi kepentingan dan kehormatan partai (atau negara), nyawa (kepentingan pribadi) rela dikorbankan.

Begitu kuatnya masyarakat Jepang dalam menjaga tradisi samurai, bahkan belum lama terjadi, seorang Presiden Perusahaan Kereta Api Hokkaido di Jepang, Naotoshi Nakajima, memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan harakiri (bunuh diri). Ia merasa bersalah atas terjadinya kecelakaan kereta api di Hokkaido, pada bulan Mei 2011 lalu. Padahal kecelakaan tersebut mengakibatkan 35 orang luka-luka, meski tidak ada korban jiwa.

‘Harakiri politik,’ ‘bunuh diri politik’ untuk menyelamatkan kepentingan yang lebih besar dan menjaga kehormatan sebagai ciri khas watak ksatria sebenarnya bukan hanya tradisi bangsa Jepang. Beberapa negara di dunia yang dikenal memiliki semangat nasionalisme tinggi juga tak lepas dari sejarah yang sama.

Masih di kawasan Asia, di Korea Selatan (negeri yang masih serumpun dengan Jepang), belum lama mencatat sejarah ‘harakiri politik’dengan mundurnya Menteri Ekonomi Pengetahuan Korsel Choi Joong-Kyung pada 15 September 2011. Ia mundur karena malu dengan matinya listrik secara massal di beberapa kota di negara itu akibat musim panas, sementara kebutuhan energi meningkat sedang pembangkit yang ada tidak mampu memenuhi kebutuhan itu karena ada beberapa yang masih dalam perbaikan.

Masih di Korea Selatan, Ketua Parlemen Park Hee-Tae dari Partai berkuasa Grand National Party pada 9 Februari 2011, mengundurkan diri akibat adanya pengakuan dari salah satu Anggota Parlemen dari partai itu yang mengatakan menerima sogokan pada pemilihan Ketua Partai pada 2008. Kemudian disusul juga dengan mundurnya salah satu Staf Senior Presiden Korsel Kim Hyo-Je yang diduga juga terlibat dengan kasus yang sama dengan Park.

134307575069598142

Presiden Jerman Christian Wulff, harakiri politik pada17 Februari 2011 (sumber photo: http://www.zimbio.com)

Sedang sejarah tentang ‘harakiri politik’ di luas Asia, belum lama tercatat Presiden Jerman Christian Wulff pada 17 Februari 2011 mundur karena tekanan publik. Dikabarkan sang Presiden terlilit skandal yang menyebutkan menerima bantuan keuangan dari seorang pengusaha, meski bantuan itu dia terima jauh sebelum menjabat sebagai presiden.

Ini bukan berita yang terlalu menghebohkan, sebab seperti juga di Jepang, hal yang sama belum lama menimpa negara ini, juga mundurnya presiden. Pada 31 Mei 2010 Presiden Jerman sebelumnya,Horst Koehler pun mengundurkan diri  akibat gencarnya kritikan yang ia terima setelah menyampaikan pernyataan mengenai misi tentara Jerman Bundeswehr.

Masih di Eropa, ‘harakiri pilitik’ dilakukan oleh Perdana Mentri Yunani George Papandreou yang pada 7 November 2011 mundur dari jabatannya akibat tekanan publik dan rasa malu tidak mampu mengatasi krisis ekonomi berkepanjangan. Di benua Amerika, Menteri Olahraga Brasil yang juga mengurusi persiapan Brasil dalam menyelenggarakan Piala Dunia 2014, Orlando Silva, mundur hanya karena “diduga” korupsi menyalahgunakan anggaran Negara untuk kepentingan pribadi. Sedang di Amerika Serikat, berita fenomenal mencuat ketika Presiden AS ke-37 Richard Nixon pada 9 Agustus 1974 mengundurkan diri setelah dituduh terlibat dalam skandal Watergate.

‘Harakiri politik,’ ‘bunuh diri’ jabatan mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan nasional (bangsa) merupakan simbol keberanian seorang pemimpin dalam menghadapi kegagalan, kesalahan dan kekalahan dalam tugas.  ‘Harakiri politik,’ adalah tolok ukur bangsa yang bermartabat dan terhormat. Sedikit belajar dari negara tetangga Jepang, sikap ksatria prajurit samurai para pemimpinnya yang menjunjung tinggi etos pengorbanan tiada batas terbukti membawa negeri sakura kepada martabat terhormat yang diakui dunia.

Kita, manusia Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki spirit bushido, berkarakter ksatria-pejuang-mujahid yang siap mengorbankan dirinya, harta dan jiwanya demi kepentingan orang banyak, bangsa dan negara. Spirit yang sebenarnya tak kurang dicontohkan oleh para pemimpin generasi terdahulu, terutama semenjak penjajahan bangsa Eropa lebih dari 4 abad. Sayang seribu sayang, tidak seperti yang terjadi di Jepang, Korea, Jerman, Yunani,  Brasil atau Amerika, nilai-nilai juang karakter khas nusantara mengalami ‘gagal transformasi.’ Ada satu mata rantai generasi yang hilang, terutama setelah generasi 45.

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,” pesan sang proklamator Bung Karno. Ketika sebuah bangsa telah lupa pada sejarahnya, maka bangsa itu akan kehilangan jati diri dan ‘kesaktiannya.’ Dan ‘kesaktian’ bangsa ini terletak pada kesetiaan kita menumbuhkan nilai-nilai ksatria sebagai pemimpin. Karena setiap dari kita adalah pemimpin. Regenerasi kepemimpinan adalah keniscayaan. Maka jika telah tiada generasi yang berani ber’harakiri politik’ di hari ini, masih ada harapan untuk memulai lagi generasi baru dengan kepemimpinan baru, semoga akan lahir pemimpin-pemimpin baru yang kelak bila tampil di panggung politik akan berani memulai tradisi ‘harakiri politik.’

(dari berbagai sumber)

Salam…
El Jeffry

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lebaran Sederhana ala TKI Qatar …

Sugeng Bralink | | 30 July 2014 | 22:22

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 3 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 5 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 7 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 9 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: