Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ibnu Dawam Aziz

pensiunsn PNS hanya ingin selalu dapat berbuat yang dipandang ada manfaatnya , untuk diri,keluarga dan selengkapnya

Pembicraan dengan Rinaldi Abrakadabra Sang Liberalis (Menguak Tabir Pengkhinatan Kaum Liberal Terhadap Pancasila)

OPINI | 08 July 2012 | 20:52 Dibaca: 698   Komentar: 42   10

13417371171654180132
saga-islamicnet.blogspot.com.jpg

Alhamdulillah, diskusi yang sangat menarik yang saya lakukan dengan Sdr . Rinaldi A. Menguak dengan jelas bagai mana pandangan hidup yang diusung kaum liberal di Negeri ini. Terima kasih Sdr. Rinaldi telah dengan jujur mengutarakan pandangannya yang merupakan pandangan yang sebenarnya dari kaum Liberal, yang bertumpu pada dua hal :
Pertama : Kebebasan Individu yang seluas-luasnya dengan melepaskan diri dari keterikatan Individu pada Nilai-nilai adat, budaya dan Agama.
Kedua: Bahwa nilai-nilai yang dianut kaum liberal hanya mengacu pada Deklarasi Universal HAM
Ini mengandung pengertian bahwa, semua nilai-nilai bahkan Hukum Positifpun harus tunduk tanpa reserve pada Deklarasi Universal HAM.
Kesimpulan sementara yang dapat ditangkap bahwa kaum liberal akan membawa manusia sebagai individu dan sebagai makhluk sosial menjadi warga Dunia ( Atau Dunia dalam satu kendali ) Pemerintah dalam satu Negara hanya merupakan kepanjangan tangan dari pemegang otoritas Dunia.
Dengan melakukan rekonstruksi budaya, pemikiran, hukum, ekonomi , keamanan dan semua yang berkaitan dengan manusia sebagai makhluk Individu merujuk pada Deklarasi Universal HAM. Dan Manusia sebagai makhluk sosial adalah warga dunia dalam satu kendali yang tidak tersekat-sekat dengan nilai-nilai primordial, agama , suku, ras maupun kebangsaan .

Marilah kita ikuti sepotong demi sepotong, sebagai berikut :
Pendapat saya :
Manusia sebagai makhluk individu sekligus sebagai makhluk sosial yang terikat dengan kingkungan primordial
———————————-
Pendapat Rinaldi
Saya tidak dididik seperti itu. Primordialisme, buat saya, bagaimanapun juga adalah out of date. Saya pandang orang lain secara sederhana: Dia baik, saya baik. Dia jahat, saya komplain. Saya tidak peduli orang itu rasnya apa, agamanya apa, sukunya apa, keturunan siapa, dst. Asal “asik”, lanjut.
Pendapat saya
, walaupun anda sebut out of date tapi saya yakin anda tidak akan bisa melepaskan diri dari lingkungan primordial terkecil, yaitu lingkungan tata nilai keluarga anda, keluarga besar anda, suku anda dan agama anda bila anda punya agama.

———————————-
Pendapat Rinaldi
Tata nilai keluarga saya, secara umum saya nilai relatif toleran.
Saya tidak pernah peduli dengan “kesukuan”, termasuk suku saya sendiri. Saya mengkritik semua adat istiadat (biasanya soal upacara pernikahan) yang ribet, mahal, dan tidak perlu, termasuk bila itu datang dari adat suku saya sendiri. Saya mengkritik semua calon gubernur/kepala daerah yang menggunakan sentimen kesukuan untuk memperoleh suara. Soal agama, buat saya agama itu urusan masing-masing.
Secara biologis, saya keturunan suku tertentu (lha itu pasti, wong saya punya orang tua, bukan jatuh dari langit). Tetapi secara ideologis/secara “worldview”, SAYA BUKAN BAGIAN DARI SUKU TERTENTU. Saya tidak terlibat dan tidak mau terlibat dengan suku apapun.
Saya menghargai tradisi suku hanya sebatas HERITAGE yang memang perlu dilestarikan, misalkan untuk kepentingan studi antropologi. Bukan sebagai bagian dari diri saya.
Pendapat saya :
Satu realita pula bahwa ukuran baik dan buruk, salah dan benar manusia sebagai makhluk sosial akan ditentukan dan diukur dari satu tata nilai primordialistik yang anda katakan out of date.
———————————-
Pendapat Rinaldi.
Bukan. Dari Deklarasi Universal HAM. Itu azas dasarnya.
———————————————–

13417371772143088101

catataniwariot.wordpress.com.jpg

Analisa awal. :
Sampai disini ternyata sekali bahwa Rinaldi A. yang saya tempatkan mewakili kaum liberal mempunyai sikap hidup dan pandangan tentang tata nilai yang bersumber pada Deklarsi Universal HAM menjadi satu-satunya sumber dari segala sumber hukum yang disosialisasikan melalui jargon : “ Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan “ yang identik dengan “ Liberte, egalite,fraternite “ dalam Revolusi Perancis atau yang lebih populer dengan Liberty, Equality , Fraternity “

Tidak ada maslah memang, hak Rinaldi untuk menentukan falsafah hidupnya yang Individualistis, tapi juga hak saya untuk menganut dan mempertahankan Nilai-nilai Primordialistik , khusussnya Pancasila dan nilai-nilai Agama.

Tapi pada pokok bahasan berikut ini membuktikan adanya upaya pemaksaan / penyusupan pemikiran melalui rekayasa pragmatis terhadap nilai-nilai yang ada dan yang menjadi acuan falsafah hidup bangsa ini yang primordialistik.

Pendapat saya :
NKRI berdiri bukan tanpa sejarah, tapi melalui proses panjang perjalanan sejarah, demikian pula Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD 45, semua dijiwai oleh semangat dan tata nilai primordialistik yang anda katakan out of date. Apa salahnya tata nilai primordialistik yang anda sebut worldview tradisional yang anda anggap out of date ?
Apa lagi jangan campur aduk Pancasila dengan Jargon Kebebasan, kesetaraan dan kekeluargaan milik Freemason.

———————————-
Pendapat Rinaldi
Saya tidak melihat keharusan primordialisme pada Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, dan apalagi UUD 45.
Ngawur. Pancasila kalau mau disederhanakan, semangatnya itu selaras dengan jargon revolusi Perancis: Egality, Fraternity dan Liberty.
Egality/kesetaraan derajat, merangkum sila keempat dan kelima.
Fraternity/persaudaraan, merangkum sila kedua dan ketiga.
Sedangkan Liberty/kebebasan, merangkum sila pertama.
Pendapat saya
Bhineka Tunggal Ika itu muncul menjiwai semangat kebangsaan Primordialistik mewakili Young Java, Young Sumatra dll, belajar dulu sejarah Bangsa Indonesia bila masih mengaku bangsa Indonesia.
———————————-
Pendapat Rinaldi.
Tidak perlu ada kata “primordialistik” di situ. Saya tidak melihat keharusan adanya “primordialisme” (bedakan ya, antara akhiran “istik”, “isme”, “itas” dsb yang sebelumnya anda tidak bisa membedakannya dalam kasus “pluralisme”, wkwkwk… dalam Bhinneka Tunggal Ika maupun Pancasila.

13417372831536382876

muslimdaily.net.jpg

Analisa kedua :
Pertama kaum Liberal melakukan langkah pragmatis untuk memasukkan nilai-nilai yang dianutnya dengan menghapus semua tonggak sejarah yang mendasari Falsafah satu Negara , Khusus di Indonesia :
Sejarah panjang Persatuan Kebangsaan Indonesia yang dirintis oleh sumpah pemuda 1928 yang menjiwai semboyan Bhinneka Tunggal Ika , yang mempunyai makna Dari berbagai suku, Ras dan Agama bersatu menjadi satu bangsa , Bangsa Indonesia , dipangkas menjadi dari Pluralisme individu dalam kesetaraan hak dalam satu persaudaraan dunia dalam wadah Indonesia.
Mengapa ? karena tidak perlu lagi nilai-nilai Primordialistik , semua harus mengacu pada Deklarasi Universal HAM dan Filkosofi “ Kebebasan, Kesetaraan dan Persaudaraan “

Secara ngawur sekali , kaum liberal berusaha menghapuskan Falsafah satu negara dengan melakukan pemaksaan penafsiran yang terlepas dari konteks falsafah Negara itu sendiri terpateri dalam pola pikir mereka :
Pancasila yang tersusun melalui satu proses panjang , yang merupakan Ruh dari Kemerdekaan ini, yang merupakan Wadah dari Ideologi Bangsa yang juga merupakan satu-satunya sumber hukum positif yang berlaku di Indonesia diartikan dengan satu analogi ngawur sebagai berikut :

Pancasila kalau mau disederhanakan, semangatnya itu selaras dengan jargon revolusi Perancis: Egality, Fraternity dan Liberty.
Ngawur sekali, Pancasila mau disederhanakan hanya untuk disesuaikan dengan jargon Liberty, equality dan Fraternity , jelas sekali bahwa bagi kaum Liberal Panca sila itu merupakan batu sandungan yang harus dimusnahkan.
Tercermin dari pendapat Liberal.
Egality/kesetaraan derajat, merangkum sila keempat dan kelima.
Egality : kesetaraan derajat , pantaskah dipersandingkan dengan “ Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ?

Fraternity/persaudaraan, merangkum sila kedua dan ketiga.
Persaudaraan yang dijiwai oleh Deklarasi Universal HAM pantaskah disejajarkan dengan Kemanusiaan yang adil dan beradab dan persatuan Indonesia ?

Dua hal yaitu tentang egality dan fraternity akan menjadi bahan yang cukup menarik untuk dikaji lebih dalam , betapa upaya-upaya kaum liberal untuk merubah wajah Negeri Yang Pancasila ini menjadi Negara Liberal.
Sedikit menyinggung hal ini , keberhasilan kaum liberal yang sudah nyata adalah , telah di kuburkannya Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Yang merupakan pintu masuk keranah kekuasaan dalam pemerintahan Negeri ini. Sekaligus upaya penipisan nilai-nilai kebangsaan melalui penonjolan nilai-nilai individu dengan mengetengahkan kebebasan berekspresi.

Hal ketiga tentang Liberty disetarakan dengan Sila pertama :
Pendapat Liberal :
Sedangkan Liberty/kebebasan, merangkum sila pertama.

Kebebasan ( Liberty ) bersumber pada filosofi dasar adanya kebebasan berkehendak bagi manusia sebagai individu . Mereka berfikir manusia lahir didunia ini dengan memiliki kebebasan tak terbatas ( hak-hak dasar hidup yang tidak terbatas ), Batas-batas hak itu akan terjadi apa bila ada benturan kepentingan antara individu yang harus diselesaikan dengan cara yang cerdas yang menguntungkan dari pihak-pihak sebagai perwujudan dari keberadaan manusia sebagai makhluk sosial. ( Satu utopi yang diciptakan ) Tuhan dalam liberty adalah merupakan pengakuan adanya keterbatasan yang tidak terjangkau ( kalau terpaksa mengakui adanya Tuhan ) oleh akal manusia , kemudian manusia menciptakan keberadaan Tuhan sebagai jalan keluar sementara untuk mengatasi sampai ditemukan jalan keluar yang dianggap sempurna.

Ketuhanan dalam Pancasila bersumber dari satu filosofi dasar bahwa manusia dilahirkan sebagai satu makhluq ciptaan Tuhan yang tidak memiliki kebebasan berkehendak, melainkan hanya berperan melakukan kewajiban untuk memenuhi kehendak sang pencipta yaitu Tuhan yang menciptakan manusia. Satu filosofi dasar yang menjadi pijakan semua agama samawi yang ada didunia.

Menyamakan Ketuhanan dalam Pancasila dengan Liberty dimana Tuhan dalam Pancasila adalah Tuhan yang menciptakan manusia dengan Tuhan liberty adalah tuhan kebebasan yang diciptakan oleh manusia , akibat dari adanya titik batas akal manusia yang memaksa manusia mengakui adanya kekutan diluar akal manusia yang mereka sebut Tuhan ( Agnostic ) persis menyamakan manusia dengan kera.
Jembatan menuju Ketuhanan model kaum kaum liberal, dari Ketuhanan Pancasila menggunakan methode pemisahan dengan membedakan antara Tuhan dengan manusia sebagai individu dan antara Tuhan dengan manusia sebagai makhluq sosial. ( Sekuler )
Ketuhanan dalam Pancasila merupakan satu system yang tak terpisahkan antara sub system yang terdiri dari masing-masing sila , yang apa bila dipahami akan berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab dalam Persatuan Indonesia ( Kebangsaan ) dengan kekuasaan Pemerintahan Negara berdasarkan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan untuk mencapai kesejah teraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Satu system yang mengimplementasikan satu falsafah hidup yang utuh, dipecah-pecah dalam pengertian bahasa secara kasar, dan pragmatis, hanya untuk memenuhi ambisi memaksakan diberlakukannya falsafah asing yang tidak sesuai dengan peri kepribadian Bangsa.
Sekali lagi saya katakan, menyamakan Pancasila dengan Kebebasan, Kesetaraan dan Persaudaraan ( Freemasonry ) sama dengan menyamakan manusia dengan monyet. Sebanyak apapun persamaan antara manusia dengan monyet, tapi Manusia tetap bukan monyet.

Apapun masalahnya, mereka secara masif dan systematis telah bergerak, bergerak dan berbuat untuk mengganti Pancasila dengan Jargon Freemason berkedok hak azasi universal

1341737521342561062
kabarindonesia.com.jpg

Bila bangsa ini tidak berbuat sesuatu, 25 tahun yang akan datang , Panca sila itu akan tinggal kenangan. Tokoh-tokoh seperti Gus Dur, Amin Rais, Ulil Abshar Abdalla, Musdah Mulia, Said Agil Syiraj , SBY, akan menjadi Pahlawan Pluralisme , Pahlawan Indonesia untuk Liberalisasi. Mereka telah menang selangkah saat ini Sila-sila dalam Pancasila telah berhasil dicerai-beraikan.

Tinggal apa yang kita Pilih :
Pertama : selamatkan Pancasila
Kedua : Ganti Pancasila dengan Liberalisme
Ketiga : Relakah bila Negeri ini akan terpecah ?

Belum terlambat bila kita ingin menyelamatkan Pancasila, masih ada satu momentum
Momentum 2014.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | | 28 November 2014 | 11:45

Ahok, Kang Emil, Mas Ganjar, dan Para …

Dean | | 28 November 2014 | 06:03

Serunya Dalang Bocah di Museum BI Jakarta …

Azis Nizar | | 28 November 2014 | 08:50

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | | 28 November 2014 | 09:35

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



HIGHLIGHT

Bos Arus Liar Bicara Bisnis Arung Jeram …

Tuan Yuda | 7 jam lalu

Fenomena Penipuan Berkedok Bisnis Online …

Alan Budiman | 7 jam lalu

5 Artis Ibukota Tes HIV Diam-diam di …

Syaiful W. Harahap | 7 jam lalu

Uji Kompetensi Keperawatan Nasional Luar …

Rinta Wulandari | 8 jam lalu

Hidup Sederhana, Gak Punya Apa-apa tapi …

Natalia Karyawati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: