Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Kuncoro Adi

Lahir di semarang, tinggal di Jakarta. Penulis, editor buku dan pembicara publik. Tulisan tentang kerohanian, selengkapnya

Jokowi : Pemimpin adalah Pelayan

OPINI | 07 July 2012 | 04:27 Dibaca: 2216   Komentar: 24   8

Saya pernah menulis di kompasiana ini tentang topik Servant Leader (pemimpin pelayan). Dalam Tulisan itu saya mengutip pandangan Larry C. Spears – Direktur eksekutif The Greenleaf Center for Servant-Leadership yang menjelaskan beberapa karakteristik penting pemimpin pelayan itu antara lain :

1.Mendengarkan

Biasanya seorang pemimpin hanya mau memutuskan, tetapi enggan untuk mendengarkan sebelum dia membuat sebuah keputusan. Hal ini tidak berlaku pada diri seorang pemimpin palayan. Mendengarkan dengan cermat dan sungguh-sungguh baru membuat keputusan, itulah kelebihannya. Mengenai hal ini Robert Greenleaf menandaskan soal peran mendengarkan demikian :”Hanya pelayan sejati yang otomatis menanggapi setiap masalah dengan mendengarkan terlebih dahulu. Kalau ia adalah seorang pemimpin, disposisi ini membuat dirinya pertama-tama dilihat sebagai pelayan.” (dikutip dari Antony D’Souza : Proactive Visionary Leadership, hal.15).

Jokowi adalah pemimpin yang bersedia berdialog langsung dengan rakyatnya. Dialog itu ia lakukan demi mendengar aspirasi yang original dari rakyatnya.Wikipedia menulis bahwa selama menjabat walikota Solo, Jokowi melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat.

Dan saat sedang musim kampanye di Jakarta sekarang ini Jokowi juga melanjutkan “kegemarannya” berdialog langsung dengan warga sebagai sebuah gaya kampanye yang berbeda dengan calon lainnya.

2.Empati

Para pemimpin-pelayan berusaha berempati kepada mereka yang dipimpinnya. Mereka berusaha mengenali kelebihan-kelebihan dan keunikkan-keunikkan dari bawahannya dan sekaligus dengan itu berusaha mengembangkannya. Mereka selalu mengandaikan niat baik dari para bawahannya. Para pemimpin-pelayan yang paling sukses menjadi para pendengar empatik yang terlatih.

Jelas Jokowi adalah pemimpin yang memiliki empati sangat kuat terhadap rakyatnya. Itu sebabnya ia anti penggusuran. Ia menekankan pentingnya komunikasi dari hati ke hati dengan rakyatnya. Akibatnya rakyat menaruh trust kepadanya. Sehingga program yang dibuat Jokowi – setelah mendengarkan suara rakyat tentunya – diterima oleh rakyat dengan tangan terbuka dan didukung.

3.Menyembuhkan

Salah satu kekuatan dari pemimpin pelayan adalah kemampuan mereka untuk menyembuhkan diri mereka sendiri dan orang lain. Para pemimpin pelayan membantu memulihkan orang - orang yang berhubungan dengan mereka. Penyembuhan (pemulihan) hubungan merupakan kekuatan yang dahsyat untuk melakukan transformasi dan integrasi. Kita mesti ingat ada banyak orang yang patah semangat dan menderita berbagai jenis ”sakit emosional”. Nah, seorang servant-leader memiliki kemampuan untuk membangun hubungan yang akrab sehingga membantu pengikutnya untuk menjadi pulih (whole).

Jokowi menyembuhkan hubungan yang “berjarak” antara pejabat dengan rakyat dengan cara membuka lebar-lebar pintu balaikota, sehingga rakyat yang ingin berdemo atau menyuarakan aspirasinya bisa masuk dan bertemu dengan dirinya. Bahkan Jokowi sering memberi para demontrans itu makan dan minum serta snack. Ini menyebabkan hurt feeling antara rakyat dan pejabat menjadi hilang!

4.Persuasi

Dalam berkomunikasi pemimpin pelayan lebih mengandalkan persuasi (bujukan) dari pada menggunakan pendekatan otoritas jabatan mereka.Mereka berusaha menyakinkan orang lain, daripada memaksakan kehendak!

Menurut John C. Maxwell - seorang ahli kepemimpinan dunia - pada dasarnya ada 5 cara yang dipakai seseorang untuk mempengaruhi orang lain. Ke 5 cara itu adalah :

(1).Koersi – mempengaruhi orang lain dengan cara menekan atau mengancam.

Contoh : Perampok kepada korbannya.

(2).Manipulasi – mempengaruhi orang lain dengan cara memanfaatkannya.

Contoh : salesman yang curang kepada customernya.

(3).Intimidasi – mempengaruhi orang lain dengan cara menakut-nakuti.

Contoh : polisi/tentara kepada rakyat yang sedang demo.

(4).Persuasi – mempengaruhi orang lain dengan cara membujuk/mengajak secara baik-baik.

Contoh : orang tua kepada anaknya!

(5).Inspirasi – mempengaruhi orang lain dengan teladan dan perkataan yang membangun.

Contoh : pemimpin agama kepada umatnya.

Nah, Jokowi sering menggunakan 2 pendekatan terakhir (persuasi dan Inspirasi) dalam interaksinya untuk mempengaruhi massa.

Pendekatan itu terbukti ampuh manakala ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka.

5.Komitmen untuk melayani

Seorang pemimpin pelayan mengedepankan komitmen untuk melayani kebutuhan orang lain. Robert Greenleaf sendiri mendefinisikan servan-leadership sebagai sebuah model kepemimpinan yang meletakkan pelayanan kepada orang lain sebagai prioritas nomer satu!

Ini dibuktikan Jokowi dengan mengubah wajah birokrasi Kota Solo menjadi birokrasi yang melayani. Pengurusan KTP yang tadinya berhari-hari, “disulapnya” hanya menjadi satu jam saja selesai. Ini membuktikan, bahwa, kalau mau birokrasi kita bisa menjadi pelayan publik yang baik.

6. Komitmen pada pertumbuhan semua orang

Para pemimpin pelayan memiliki komitmen yang kuat pada pertumbuhan individu. Mereka menyadari tidak bertumbuh berarti mati! Dalam prakteknya, hal ini mencakup menyediakan sarana agar para pekerjanya bisa berkembang secara profesional, misalnya dengan menyekolahkan lagi dsb, mendorong keterlibatan pekerja dalam pengambilan keputusan bahkan secara aktif membantu para pekerja yang diberhentikan untuk mendapatkan pekerjaan lain.

Jokowi mengejawantahkan prinsip ini dengan membuat gebrakan menggratiskan biaya berobat bagi rakyat Solo. ”Kartu sakti” yang bisa dipakai oleh siapapun warga Solo untuk berobat gratis ini, juga dijanjikan Jokowi akan diberlakukan di Jakarta saat ia menjadi gubernur Jakarta nanti.

Selain itu komitmen untuk menumbuhkan semua orang juga dijanjikannya dengan sekolah gratis sampai SMA, lalu ada bea siswa untuk yang berprestasi sampai selesai menjadi sarjana.

Di Solo Jokowi juga menerapkan prinsip Meritokrasi secara baik. Ia memberi tempat yang layak bagi mereka yang berprestasi. Ia jauh dari sikap nepotis.

7. Membangun Komunitas.

Para pemimpin pelayan tidak pernah memperlakukan pekerjanya hanya sebagai mesin produksi semata-mata, tetapi sebagai manusia seutuhnya yang membutuhklan kehangatan, cinta, perhatian dan persahabatan. Dan inilah yang dilakukan oleh para pemimpin pelayan ketika dia berusaha membangun komunitas bersama para pekerjanya!

Jokowi jelas melakukan ini dengan sangat baik di Solo – dan nantinya juga di Jakarta. Komunitas pedagang kaki lima bukan hanya diberinya tempat baru tetapi juga dibantu pemasarannya, juga dibuatkan trayek angkot yang bisa melewati lokasi baru tersebut.

Selain itu Jokowi dengan sangat manusiawi juga sering memindahkan orang dari bantaran Bengawan Solo. Kompasianer Blonthang Poer dengan sangat menyentuh menulis fenomena itu demikian, Yang dipindahkan pun sukarela, sebab diajak berembuk mengenai lokasi barunya, di kawasan Mojosongo. Pemerintah menyediakan bantuan kepindahan dan ongkos pembangunan rumah sederhana. Para kepala keluarga diminta merancang sendiri desain rumah dan penataan ruangnya. Kata Pak Jokowi, pemerintah tidak ingin mendikte bahwa rumah di atas tanah tak seberapa luas itu dibangun seragam, termasuk letak ruang keluarga, kamar tidur, dapur dan kamar mandinya. Setiap keluarga, pasti ingin punya ruangan yang ideal. Anak lelaki dan perempuan, apalagi jika sudah remaja atau dewasa, pasti butuh kamar sendiri. Oleh sebab itu, Pak Jokowi menyerahkan sepenuhnya kepada mereka.

Nah, dengan segudang hal luar biasa di atas, bukankah layak predikat Servant Leader disematkan pada diri Jokowi ?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 10 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 11 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 13 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: