Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Gabriel Wangge

Penyuka Birokrasi

Gagalnya Pembangunan Orde Baru

REP | 24 June 2012 | 04:29 Dibaca: 4076   Komentar: 0   0

Sejarah yang membuktikan gagalnya pembangunan pada era orde baru lebih mengarah pada persoalan kebijakan moneter, dalam hal ini kebijakan perbankan yang tidak di ikuti oleh sistem pengawasan yang ketat. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa hancurnya perekonomian ini lebih disebabkan oleh fundamental ekonomi yang lemah dan struktur ekonomi Indonesia yang masih bebasis sempit, namun kedudukan sistem kelembagaan keuangan dan manajemen moneter telah ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi daripada terdakwa-terdakwa lainnya.

Hancurnya perekonomian pada masa orde baru di tandai dengan adanya kebijakan pemerintah yang dikenal dengan Paket Oktober 1988 (Pakto 1988) yang mendorong ekspansi besar-besaran bisnis perbankan, namun tidak di imbangi oleh sistem pengawasan yang memadai. Pada hal rapuhnya sistem dalam perbankan itu akan berimbas pada hancurnya tatanan dunia bisnis sebuah bangsa sebagaimana krisis yang yang terjadi pada 1997 macetnya dana mikro diperusahaan akibat goncangan disektor perbankan mengakibatkan pihak swasta kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendek untuk membayar cicilan utang.

Namun selain proses kebijakan yang lemah juga krisis yang terjadi pada tahun 1997 juga tidak lepas dari peran politisi yang hanya memikirkan dirinya dan kelompoknya saja. Akibatnya upaya untuk menggerakan roda perekonomian indonesia tak ubahnya seperti memaksa sebuah lokomotif tua berjalan diatas bantalan-bantalan rel yang seharusnya juga perlu diperbaiki terlebih dahulu sebelum rel menuju tempat pemberhentian berikutnya masih akan dibangun.

Dalam masa pemerintahan orde baru sistem ekonomi dibagi ke dalam empat tahap. Dalam kabinet pembangunan I, pembangunan Indonesia masih dalam episode konsolidasi, rehabilitasi dan stabilisasi. Episode ke dua adalah masa pertumbuhan yang di dukung oleh produksi ekstraktif dan bahan mentah, tidak hanya berupa minyak, tapi juga timah dan hasil hutan.

Pada episode ini, sektor sekunder dicirikan oleh kebijakan industrialisasi subtitusi impor. Episode ketiga adalah masa setelah berakhirnya boom minyak dari 1982-1988, yang disebut era penyesuaian sttruktural, atau era deregulasi. Sedangkan episode ke empat adalah episode yang paling dramatis, karena dalam periode ini pemerintah melakukan penyesuaian radikal yang cenderung mengubah makna pembangunan menjadi bisnis, memompa sektor jasa dan perdagangan barang konsumsi menengah keatas di perkotaan.

Sebuah langkah strategis yang paling dominan yang dilakukan pada saat-saat awal pemerintahan orde baru adalah melakukan tindakan-tindakan progresif dengan memfasilitasi dan memobilisasi potensi ekonomi yang paling mudah diproduksi untuk menggerakan roda perekonomian yang berorientasi pasar.

Dalam sebuah kebijakannya pemerintah orde baru hanya memperhatikan dan mementingkan masuknya investor asing dari pada mobilisasi dana investor dalam negeri. Dalam masa ini pemerintah memainkan peran sebagai fasilitator, disamping itu juga pemerintah indonesia mulai memainkan peran sebagai agen pembangunan ekonomi disamping agen pembangunan sosial dan politik.

Dengan melalui hubungan-hubungan khusus  dengan para elite politik dalam pemerintahan, beberpa pengusaha berhasil memperoleh banyak kemudahan dalam memperoleh banyak kemudahan dalam memperoleh hak-hak istimewa, seperti monopoli, duapoli, atau oligopoli. Dari segi kebijakan, para pengusaha klien tersebut merupakan orang-orang yang diuntungkan oleh UU Penanaman Modal Dalam Negeri yang diterbitkan oleh pemerintah.

Meski dapat menikmati hak-hak istimewa dari hubungan kekuasaan dan kebijakan ekonomi yang diterbitkan pemerintah Orde Baru, namun posisi para pengusaha swasta domestik secara keseluruhan berada dibawah subordinasi dari kekuatan politik dan ekonomi pemerintah.

Tanpa disadari, baik oleh pemerintah maupun oleh para ahli ekonomi, perkembangan bisnis sektor properti yang di canangkan GBHN 1988 telah mengkondisikan perekonomian indonesia berbelok arah ke bisnis-bisnis lokasi dan komersialisasi ruang strategis bagi publik sebagai instrumen untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi. Tumbuhnya kota-kota baru dan calon-calon kawasan industri diwilayah pinggiran-pinggiran kota jakarta mendorong pengusaha dan pemerintah indonesia untuk menjadikan sektor infrastruktur perhubungan seperti jalan tol sebagai salah satu sektor bisnis unggulan.

Perubahan tujuan pembangunan kearah bisnis sangat dipengaruhi oleh sistem kekuasaan absolut tidak mampu dihentikan oleh kemenangan gagasan mengenai pembangunan ekonomi, tetapi oleh pembusukan di dalam struktur ekonomi itu sendiri dengan resiko biaya yang cukup besar. Dari berbagai analisis asing mengemukakan bahwa krisis ynag melanda indonesia disebabkan oleh beberapa faktor.

Pertama, beranggapan bahwa krisis ini terjadi karena fondasi perekonomian indonesia rapuh sejak dulu. Ini terjadi karena tidak adanya kaitan ke belakang maupun kedepan dari motor penggerak perekonomian. Atau mereka menggunakan tesis Paul Krugman pada 1994 keajaiban ekonomi negara-negara industri baru generasi kedua Asia tidak akan berlangsung lama karena pertumbuhan ekonomi negara-negara ini lebih disebabkan oleh hasil akumulasi modal.

Kedua, mereka berpendapat bahwa krisis ini bermula dari sektor perbankan, selain akibat tidak terkontrolnya perkembangan bank oleh para pemerintah dan oleh para pemiliknya, juga karena manajemen perbankan masih primitif sejak diterbitkan Pakto 1988. Para ekonom berpendapat bahwa hal itu disebabkan oleh jumlah kredit macet semakin membengkak, utang-utang luar negeri membengkak terutama utang jangka pendek.

Masalah-masalah diatas adalah kenyataan yang memperlihatkan bahwa kejayaan bisnis properti, infrastruktur perkotaan, dan bisnis perumahan akhirnya merobohkan dunia perbankan indonesia. Yang pada akibat selanjutnya terjadi kerapuhan hubungan antar golongan sosial yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh sistem perekonomian selama masa kebangkitan sektor-sektor baru tersebut.

Dari perspektif besarnya pengaruh domestik, kurang tepat kalau krisis ekonomi indonesia yang kemudian menjadi krisis multidimensional dilihat sebagai akibat pengaruh penularan dari krisis asia yang diawali thailand kemuadian mengalir ke malaysia, korea selatan dan indonesia. Faktor eksternal pasti ada. Bahkan dilihat dari berapa indikasi yang ada, sangat mungkin ada politik konspirasi di barat yang memiliki kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik terhadap indonesia.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melukis Malam di Bawah Lansekap Cakrawala …

Dhanang Dhave | | 21 October 2014 | 13:50

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | | 21 October 2014 | 11:59

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | | 21 October 2014 | 10:02

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 5 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 8 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 9 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 11 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Angin Kencang, Ini Teknik Menyetir …

Sultan As-sidiq | 7 jam lalu

Golkar Jeli Memilih Komisi di DPR …

Hendra Budiman | 8 jam lalu

Rekor MURI Jokowi …

Agus Oloan | 8 jam lalu

Cerpenku: Perempuan Berkerudung Jingga …

Dewi Sumardi | 8 jam lalu

Kecurangan Pihak Bank dan Airline Dalam …

Octavia Eka | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: