Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dwi Purnawan Al-munir

Wartawan Media Online || Dapat dihubungi di Twitter @dwi_itudua

Politik, Uang, dan Kekuasaan

REP | 21 June 2012 | 02:03 Dibaca: 941   Komentar: 5   1

Politik, uang, dan kekuasaan, tiga hal yang sepertinya sangat erat hubungannya satu sama lain. Tiga kata yang

13402007801090920549

Contoh Spanduk Pilkada

setali tiga uang. Mungkin itu pula yang beranggapan bahwa politik tanpa uang ibarat orang yang lumpuh dan lemah, hanya bisa berkoar – koar tanpa bisa melangkah dan bergerak. Begitu juga antara politik dan kekuasaan, orang tak bisa menyampaikan tujuan politiknya tanpa memiliki otoritas dan kekuasaan, sedangkan kekuasaan saat ini, hanya dapat dicapai dengan uang. Jadi ketiga – tiganya begitu erat, dan bahkan sulit presentasinya untuk dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Sebagai contoh nih, akhir – akhir ini seiring perkembangan zaman, kampanye - kampanye yang dilakukan di dunia perpolitikan di Indonesia sangat identik dengan uang dan kekuasaan. Kampanye media dari Pemilu Presiden, Gubernur, Bupati, bahkan sampai tingkat RW pun begitu getolnya menggunakan media seperti spanduk, MMT, dan sejenisnya. Dan hal itu tidak sedikit prosentasenya. Jadi sangat jelas dengan banyaknya pemasangan media kampanye yang jumlahnya sangat banyak tersebut sangat identik dengan uang. Seperti halnya di kampung saya di pacitan beberapa waktu lalu, untuk sekedar memilih kepala desa saja, berbagai atribut kampanye berupa media MMT, spanduk, dan lans sebagainya menghiasi jalanan, dan bahkan di beberapa tempat terkesan terlihat kumuh dan kotor akibat kondisi tersebut. Udah gitu biasanya diperparah dengan foto calon yang ‘editan’ potoshopnya sangat kelihatan, plus fotonya manyun pula. Hadeeeh.

Sebenarnya sangat wajar, wajar antara politik, uang, dan kekuasaan. Ketiga – tiganya penting dan perlu agar untuk mencapai kehendak dan tujuan tertentu yang diinginkan, kita memerlukan kekuasaan, sedangkan untuk mencapai kekuasaan, kita memerlukan strategi politik dan finansial yang kokoh untuk menggapainya. Dan itu sah – sah saja. Tak ada yang salah. Yang salah sebenarnya terletak dalam prosesnya. Proses menuju kekuasaan tersebut, dan proses pasca kekuasaan digapai tersebut. Sehingga tak jarang, beberapa atau banyak wakil rakyat di negeri ini, seringkali dalam proses menuju kekuasaan itu, sering menggunakan cara – cara yang bertentangan dengan nilai keluhuran dan norma kemanusiaan, alias menghalalkan segala cara untuk menggapai kekuasaan. Dan lebih parah lagi pasca memperoleh kekuasaan yang diinginkan justru kekuasaan yang diperoleh itu tak membawa signifikansi efek kebermanfaatan bagi rakyat dan masyarakatnya.

Saya ingin mengambil sampel bahwa ternyata politik, uang dan kekuasaan memiliki korelasi yang sangat erat. Tidak jauh – jauh, saya mencontohkan pemilihan kepala desa di kampung saya, desa Kasihan pada tahun 1999. Kala itu kebetulan Ayah saya turut mencalonkan menjadi salah satu kandidat kepala Desa Kasihan. Kebetulan waktu itu ada lima calon yang lolos verifikasi dan berhak mengikuti pemilihan kepala Desa. Ayah saya memilih lambang nanas dan mendapatkan nomor urut tiga. Singkat cerita, setelah dilakukan beberapa survey kecil – kecilan oleh lembaga survei kampung, Ayah saya ini memiliki rating tertinggi dan memiliki kemungkinan yang tinggi untuk memenangkan pemilihan Kepala Desa tersebut. Selain ayah saya memiliki ketokohan yang tinggi di kampung, juga beliau mendapatkan dukungan dari beberapa tokoh adat dan masyarakat setempat, dan diprediksi beliau akan memenangkan pertarungan kepala Desa.

Bahkan sampai penghitungan dimulai pun, beliau sudah mengungguli kandidat nomor dua yang lambangnya ketela sampai selisih 200an. Akan tetapi lambat laun dan pada akhirnya beliau tersalip perolehan suaranya sampai akhirnya beliau kalah dengan selisih 5 angka saja. Kalau tidak salah waktu itu ayah saya memperoleh 887 suara sedangkan kandidat terdekatnya yang akhirnya memenangkan kursi Kasihan 1 memperoleh 892 suara. Selisih yang sangat tipis dan akhirnya Ayah saya yang menurut sruvei itu diunggulkan memenangkan pertarungan, ternyata kalah dramatis. Persis seperti Italia saat dikalahkan Perancis pada euro 2000 (apa hubungannya).

Nah, usut punya usut ternyata, seperti yang sesuai dengan tema tadi, bahwa sekali lagi uang lah yang menentukan keberhasilan kariri politik dan memperoleh kekuasaan seseorang. Dan ini juga terjadi dengan ayah saya waktu itu. Ceritanya, ini sih menurut sumber yang sangat bisa dipercaya, waktu sebelum penutupan waktu pencoblosan, sebenarnya masih ada satu truk yang berisikan 25 orang yang belum mencoblos, dan 25 orang itu terhitung masih kerabat dengan Ayah saya. Karena pada waktu itu belum ada kendaraan motor yang banyak seperti sekarang, ke 25 orang tersebut mencarter truk L300, dengan biaya 50.000 untuk sampai ke tempat pencoblosan yang secara medan memang sulit. Dan benar, akhirnya sekelompok orang yang apabila mereka melakukan pencoblosan itu akan memenangkan Ayah saya, dicegat oleh seseorang dan sopirnya ditawari uang 100 ribu dengan sayarat tidak usah mengantaran ke 25 orang tersebut mencoblos, dengan diminta berpura – pura untuk melakukan alasan ban mobil bocor. Dan pada akhirnya tidak jadilah mereka nyoblos, karena sang supir mendapatkan 100 ribu, daripada 50 ribu mengantar jauh, dia memilih 100 ribu tapi tidak ngapa - ngapain.

Pada akhirnya, uanglah yang menang, nurani pun kalah. Ayah saya kalah dengan selisih tipis 5 angka dari rival, Ayah saya dengan timnya, termasuk saya, sedihnya bukan main, dan yang menang merasa gembira. Saya sih waktu itu belum terlalu mudeng politik, karena masih kelas 5 SD. Tapi ya sedikit –sedikit bisa merasakan kesedihannya. Pada akhirnya hal ini, atau contoh ini membuktikan bahwa korelasi antara politik, uang, dan kekuasaan, dimanapun, kapanpun waktunya, itu selalu berkait erat. Erat sangat.

Nah, dari kondisi dan kebiasaan yang terus menerus seperti inilah yang pada akhirnya membentuk paradigma banyak orang yang menganggap bahwa dunia politik itu kotor, penuh dengan orang – orang busuk didalamnya. Inilah yang terjadi di negeri ini, dan beberapa negara lainnya sehingga beberapa atau banyak kalangan sudah mulai berpikiran pragmatis dan apatis. Mereka mau memilih calon tertentu kalau dikasih imbalan uang, dan kalau tidak tidak akan memilih, apapun alasannya. Rata – rata mereka menggeneralisir bahwa semua calon, dari partai dan afiliasi politik manapun berhati kotor dan hanya mementingkan perutnya sendiri, tanpa mempedulikan nasib masyarakat. Dan bahkan tak jarang pasca memperoleh kekuasaan, mereka berbuat seenaknya, dan bahkans ering terjerat kasus yang hal itu semakin memperkuat persepsi masyarakat bahwa politik dan kekuasaan itu kotor, kecuali kalau ada imbalannya. Haduuh.

Mungkin kondisi inilah, yang terbaru, juga terjadi. Tepatnya saat pemilu tahap kedua Mesir yang mempertarungkan antara loyalis Mubarak dengan Sipil. Trauma sejarah yang berkepanjangan membuat rakyat Mesir cenderung apolitis terhadap kedua calon tersebut. Hal ini terbukti dengan sepinya jumlah pemilih pada pemilu periode kedua tersebut. Menurut analisis berbagai media, hal ini erat kaitannya dengan persepsi masyarakat bahwa ketika memilih loyalis Mubarak, mereka akan dibayang – bayangi rezim represif otoriter ala Mubarak, sedangkan kalau memilih sipil islamis, mereka dibayang – bayangi negara Islam Mesir.

Fakta inilah yang terjadi. Sekali lagi antara politik, kekuasaan, dan uang. Dan hal tersebut wajar dengan pengecualian. Kalau kemudian kita masih berpijak pada nurani, ketiga – tiganya dapat dimanajemen dengan baik. Politik tak selamanya busuk. Mungkin benar banyak orang – orang yang berjiwa busuk dalam berpolitik. Tetapi kalau kemudian kita malah bersikap apatis dengan dunia perpolitikan, sementara dunia perpolitikan semakin banyak dikuasai oleh orang – orang busuk, tentu kita tak akan pernah menyaksikan negeri ini kembali ke puncak kejayaannya. Analoginya begitu.

Harus ada ‘orang – orang baik’ yang terjun kedalam kotornya dunia politik kita, agar dunia politik kita tidak semakin menghitam. Harus ada orang – orang ‘putih’ yang menghapus persepsi hitam masyarakat terhadap dunia politik, lalu pelan – pelan membuat dunia politik abu – abu, dan akhirnya kembali ke warna politik dan kekuasaan yang putih dan menjadi rahmat bagi semua.

Memang benar kalau kemudian tidak ada manusia yang sempurna, karena yang sempurna itu hanyalah Allah dan lagunya Andra and the backbone J, akan tetapi kita tetap harus memberikan kepercayaan kepada mereka yang mencoba dan berikhtiar untuk menghapus noda hitam politik dan kekuasaan yang identik dengan kebusukan dan kebejatan dari para politikus berhati tikus.

Lalu bagaimana caranya? Sebenarnya sih gampang saja, tentu yang paling gampang adalah dengan melihat track record calon pemimpin tersebut, dengan melihat kapasitas intelektual, moral, dan kapasitas nurani yang dimiliki mereka. Kalau dalam track record kepemimpinannya, baik dalam sekala kecil, ditingkat kecil, seperti keluarga, RT, RW, dan sebagainya dia bagus, dia layak dikategorikan menjadi calon pemimpin ideal. Itu saja untuk saat ini.

Sebenarnya kalau kita mau melihat contoh pemimpin Ideal yang mampu meletakkan konstitusi negara yang ideal, dengan semua bentuk yang mensejahterakan, mari kita berkaca kepada rasulullah dan para khilafah rasyidah. Akan tetapi tentu hal itu sangat tak mungkin, dalam konteks kekinian kita menyamakan pemimpin ideal seperti halnya rasulullah saat memimpin Madinah. Tetapi yang perlu adalah melihat dan mencermati bahwa selalu ada pemimpin atau figur pemimpin yang mengidolakan rasulullah, lalu membiasakan kesehariannya untuk berpola hidup seperti rasulullah, mengkaji kebenaran, lalu sedikit – sedikit mengamalkannya.

Inilah pemimpin ideal kita. Mereka adalah orang – orang yang kesehariannya hidup teratur, termanajemen dengan baik, dan terpola. Sehingga, kalau kemudian mereka berkuasa, kemungkinan – kemungkinan buruk itu bisa diminimalisir, bahkan dihilangkan. Kalau dalam konteks Mesir mungkin kita mendapatkan itu pada figur Dr. Mursi, dalam konteks Turki kita mendapatkan pada sosok Erdogan, atau yang lainnya.

Sebenarnya yang menjadi masalah dalam dunia politik itu, ketika seseorang tak pandai mengelola nafsu kekuasaan dan finansial tersebut, nafsunya menjadi liar ketika berkuasa dan memiliki uang. Sehingga tak jarang banyak politisi kita terjebak pada kebusukan politik.

Sehingga bisa disimpulkan adalah bahwa yang dibutuhkan saat ini untuk mengelola negara dengan kekuasaan adalah mereka yang memiliki kapasitas ideal pemimpin, yaitu kapasitas ketaqwaan, kapasitas intelektualitas, dan kapasitas jaringan yang kokoh. Itu yang kemudian harusnya ada dalam konteks keindonesiaan.

Dan saya sendiri sangat yakin bahwa masih ada orang – orang dengan kapasitas tersebut. Dan saya yakin suatu saat, Indonesia akan kembali ke puncak kejayaannya, dan negaranya dikagumi oleh negara – negara lain di dunia. Tentunya ditangan mereka yang memiliki jiwa politik yang bersih lagi membersihkan, mampu mengendalikan dan memanajemen kuasa dan finansial demi kebermanfaatan bagi rakyat banyak.

Begitulah, politik, uang, dan kekuasaan. Selalu menghadirkan pesona, yang mau tidak mau harus kita lalui, dan kita pun harus berada di dalamnya.

Selamat berpolitik, politik santun dan bersahabat. Politik yang memiliki kebermanfaatan bagi semua. Politik yang mampu mengendalikan uang dan kuasa. Mari, kita berfikir lebih dalam lagi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pasien BPJS yang Kartunya Tidak Aktif Mulai …

Posma Siahaan | | 21 December 2014 | 06:53

Hollywood Kena Batunya, AS Panik! …

Daniel H.t. | | 21 December 2014 | 10:27

Inilah 5 Strategi Penting Menurunkan Tekanan …

Irsyal Rusad | | 21 December 2014 | 09:22

Tukeran Hadiah, Wichteln …

Gaganawati | | 21 December 2014 | 05:29

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 4 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 6 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 15 jam lalu

Aburizal Bakrie Disandera Jokowi ? …

Adjat R. Sudradjat | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: