Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Lesman

Ilmu Komunikasi Universitas Dr.Soetomo surabaya

Pengaruh Perkembangan Media Komunikasi dan Informasi pada Dunia Politik

OPINI | 20 June 2012 | 00:46 Dibaca: 484   Komentar: 3   0

SALAH PERHITUNGAN SUARA,TERJADI KONFLIK

Di era komunikasi instan dan serba cepat ini, mengungkapkan sesuatu melalui perhitungan menjadi sangat penting. Kesalahan perhitungan penyampaian hasil suara dalam pemilihan Calon anggota DPR/DPRD bisa menjadi bumerang. Kasus ketika banyak sekali para Calon anggota DPR/DPRD yang ada disetiap daerah merasa kurang puas dengan hasil perhitungan suara yang mereka dapatkan dari badan yang berwenang KPU/KPUD,hal inilah yang dapat memancing emosi dan bisa berakhir dengan salah pengertian.

1340028915512354740

Perhitungan seseorang dari badan yang berwenang dalam perhitungan suara(KPU/KPUD) perlu dikaji ulang apalagi bagi suatu lembaga yang sangat dihormati. Inilah yang menyebabkan komunikasi ini begitu pentingnya sehingga dalam perhitungan atau pendataan bila salah menempatkannya bisa menimbulkan konflik,bagi sebagian besar Calon anggota DPR/DPRD dari berbagai parpol,yang mungkin merasa dirugikan.

Bahkan di satu sisi, media komunikasi biasa digunakan untuk mempermudah jalanannya suatu perhitungan suara sehingga saluran media menjadi perebutan para penguasa-penguasa parpol. Pemilikan televisi,koran dan media internet menjadi perhatian para segelintir penguasa parpol. Mereka yakin menguasai media sama dengan menguasai mind dari masyarakat luas.

Sebenarnaya tata cara penghitungan suara sudah tertuang dalam undang-undang No. 10 tahun 2008, tapi ternyata setelah dicermati dalam undang-undang tersebut ternyata sangat berat bagi segelintir parpol kecil yang akan mengirim wakilnya di DPR/DPRD dalam Pemilu, karena akan berlaku ketentuan penerapan parliamentary threshold (PT). Artinya, Parpol peserta pemilu yang tidak dapat memperoleh dukungan suara minimal dari total suara sah secara nasional, tidak akan diikutsertakan dalam perhitungan pembagian kursi DPR di masing-masing daerah pemilihan. Ini memastikan sejumlah parpol peserta pemilu, meski meraup perolehan suara yang ekuivalen dalam perhitungannya yang menggunakan media teknologi maupun perhitungan suara secara manual masih banyak diragukan dari segelintir anggota parpol maupun masyarakat pada umumnya, dengan sejumlah kursi DPR/DPRD yang ada. bakal tidak akan dapat mengirimkan wakil-wakilnya di DPR.

Kondisi Semu Vs Kenyataan                                                                             1340029299682092078


Idealnya media mempelajari cara-cara penyimpangan yang mungkin terjadi selama masa kampanye, saat pencoblosan maupun perhitungan suara, sehingga media siap mengawasinya. Misalnya, penyimpangan yang bersifat umum, seperti pembelian suara, operasi subuh, intimidasi pada pemilih, lokasi dan letak TPS yang rawan kecurangan, juga masalah pendaftaran calon pemilih dan lain-lain. Ironinya hal seperti ini walau sederhana menjadi sulit ketika di lapangan. hal inilah akan dapat menimbulkan suatu pra dan kontra yang dapat disayangkan.misalnya black campaign by design malah melibatkan media massa berupa internet.

hal sederhana ini masih banyak yang tidak melakukan dengan baik bagaimana menggunakan fasilitas media teknologi dan komunikasi, bahkan untuk memikirkan saja enggan. Jadi di negeri ini terkadang orang justru ditertawakan tatkala berpikir semuh. Dianggap insomia, berkhayal, tidak realistis. Karena Sebagian besar orang sudah enggan berpikir panjang, apalagi melalui proses yang lama. Kecenderungan kita lebih banyak hanya berpikir keuntungan jangka pendek dan instan, walau sebenarnya itu semakin memperjauh kita dari terbentuknya sistem media massa yang terpercaya bagi sistem politik negara,terutama dalam pemilu serta perhitungan suaranya. semoga kedepannya tidak ada lagi pihak-pihak yang dirugikan baik dari masing-masing parpol maupun masyarakat pada umum.S E M O G A………

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 14 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 15 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 16 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 17 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Kabinet Jokowi …

Jamaluddin Mohammad | 10 jam lalu

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 15 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 15 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 15 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 16 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: