Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Benang Merah Cikeas dan Anas

REP | 15 June 2012 | 03:28 Dibaca: 407   Komentar: 4   0

JAKARTA-Sebentar lagi saya akan kultwitkan sekilas tentang hub & benang merah : SBY/Cikeas, Anas, korupsi PD, konstelasi politik& konspirasi Global.

Eeeng ing eeng ..sebelum mulai kultwit saya mau pertegas kembali bhw akun saya adalah independen, no partisan, no bayaran, untuk pencerahan. Hal ini perlu saya pertegas..utk lebih jelas bisa melihat kultwit saya ttg Sikap Akun Anonim @TrioMacan2000 di favorite saya. Kenapa penting? Karena sekarang bermunculan akun2 yg khusus menyerang akun ini dgn tujuan agar pencerahan dan perang lawan korupsi gagal.

Kita mulai dari Anas Urbaningrum, Ketua Umum PD yang sekarang babak belur dihantam opini dan ditargetkan jatuh 1-2 bulan ke depan. Banyak pihak yang menduga saya “membela” anas urbaningrum ketika dia diserang oleh opini publik dan lawan2 politiknya. Dugaan itu keliru. Sebagai mantan aktivis dan beruntung punya jaringan cukup luas ke banyak elit, militer, politisi dan media saya punya cukup informasi. Ada fakta2 dan indikasi nyata bahwa opini negatif yang ditujukan kepada Anas Urbaningrum adalah by design, terencana, sistematis dan zalim

Indikasi pertama adalah ketika Anas terpilih jadi ketum PD, saya dipanggil oleh senior saya anggota DPR kawakan kom III. Dia cerita banyak. Dia cerita bgmn pihak Cikeas “marah” dengan pembangkan anas dan gagalnya skenario Cikeas pada Kongres PD di Bandung. Anas akan dihabisi. Tim utk penghabisin Anas sdh dibentuk. Terdiri dari tokoh-tokoh militer, polisi, politisi, pengamat dst..dana tidak terbatas untuk operasi ini. Informasi senior ini segera saya konfirmasi ke senior saya mantan pejabat tinggi instansi intelejen. Beliau mengkonfirmasi kebenarannya

Saya dan Anas Urbaningrum itu tidak saling kenal secara pribadi. Meski saya bbrp kali pernah bertemu dgn dia. Saya coba sampaikan pesan. Ternyata anas urbaningrung memang sdh mendengar dan mengetahui adanya operasi penghancuran dirinya utamanya menjatuhkannya sbg Ketum. Sebab itu anas bertindak sangat hati-hati. Dia lebih banyak keliling daerah utk konsolidasi DPD/DPC dan kader-kader di seluruh Indonesia

Fakta selanjutnya adalah informasi yang cukup mengejutkan saya terima dari senior saya mantan diplomat. Dia katakan AS tidak suka pada Anas. Alasannya adalah bhw Anas Urbaningrum mewakili tokoh muda Islam yg berpeluang terbesar menjadi presiden terpilih pada 2014. Ini bahaya. Apalagi Pihak Kedubes AS sdh beberapa kali meminta waktu agar Anas dapat bertemu dengan Dubes AS tapi Anas menolak secara halus. Dubes AS sebenarnya bermaksud utk “mengetahui” pandangan-pandangan dan visi Anas secara pribadi tentang masa depan RI & kaitannya dengan kepentingan AS. Namun penolakan halus Anas atas undangan Dubes AS ini menyebabkan terbentuknya keyakinan AS bhw Anas bukan orang yang tepat untuk pimpin RI. Informasi ini kembali saya konfirmasi ke Anas Urbaningrum via teman akrabnya. Dan ternyata confirmed anas nolak 4 kali undangan Dubes

Politik luar negeri AS terhadap RI sangatlah jelas. RI adalah sekutu utama yg harus menjaga kepentingan AS di RI dan Asia Tenggara. Penolakan anas terhadap undangan bertemu dengan Dubes AS secara tidak langsung menegaskan bhw tokoh muda islam seperti anas dianggap ancaman. Pemerintah AS berkepntingan agar RI dipimpin oleh “muslim moderat” yang setia dan patuh pada agenda2 AS. Capres2 potensial dijajaki visinya

Dari penjajakan langsung dan tak langsung, AS punya kesimpulan bhw : JK, Prabowo, Mega, Anas, Mahfud bukan org yg diinginkan AS. Karena itu, mata AS tertuju pada suksesor SBY. Nama Sri Mulyani dipromosikan. Tapi gagal karena resistensi publik dan cikeas thdp SMI. Apalagi SMI sdh dicap sbg antek Barat/AS dan sdh terbukti diragukan loyalitasnya pada negara Republik Indonesia. Apalagi ada centurygate. Penolakan Cikeas dan Publik thdp Sri Mulyani disampaikan Dubes AS ke Washington DC dan diteruskan kpd Sri Mulyani. Dia marah besar. Sri Mulyani langsung bereaksi, dia datang ke Indonesia temui SBY dan lempar info ke publik bhw korupsi century libatkan 3 partai besar. Statement Sri Mulyani tahun lalu itu banyak dimuat diberbagai media massa. Heboh sebentar. Lalu senyap. Sri Mulyani merasa jadi tumbal.

Kembali ke Anas. Sikap AS terhadap anas ternyata klop dengan sikap Cikeas thdp masa depan anas. RI harus dipimpin kolaborator AS. Kolaborator AS itu idealnya adalah suksesor SBY. AS sudah sangat nyaman dengan kebijakan-kebijakan SBY yang pro AS dan mampu meredam politik islam. Kedubes AS dan Cikeas sepakat utk melancarkan operasi bersama penghancuran anas. AS bantu pembentukan opini dgn seluruh jaringannya. Maka dimulailah operasi penjeratan pada anas urbaningrum. Semua titik lemah anas dikaji. Semua informasi dikumpulkan. Titik terlemah anas adalah nazaruddin. Bendum Partai Demokrat. Manuver-manuver Nazar dalam membangun imperium bisnisnya banyak menabrak hukum. Anas sendiri sudah tahu bahwa Nazar akan jadi masalah besar. Perlahan dia menjauhkan diri dr nazar. Nazar lalu menyebrang ke faksi andi/cikeas

Nazar tidak mau dia dilepas anas, dia uber anas kemana2. Anas mengelak. Termasuk pada saat pertandingan bola RI- Malaysia di Putrajaya. Di Putrajaya malaysia 2 tahun lalu itu nazar berusaha keras utk bisa bertemu dgn anas, tapi anas tidak mau temui nazar. Nazar marah. Nazar marah besar kpd anas krn dia merasa banyak bantu pendanaan anas dalam politik termasuk dalam pemenangan kongres PD dibandung. Tetapi anas tahu bhw nazar sudah jadi target Cikeas untuk pintu masuk menghancurkan anas. Nazar akhirnya cari cantelan baru pengganti anas. Nazar coba ke Ibas tapi Ibas menghindar. Ibas lebih banyak nempel anas kemana2 sekalian utk “memantau dan melaporkan” manuver-manuver anas. Akhirnya nazar bergantung pada Marzuki ali dan Andi Malarangeng. Marzuki welcome, andi jaga jarak. Sampai akhirnya rosa ditangkap KPK

Saya tidak mau berspekulasi siapa otak dibalik penangkapan Rosa. Nazar itu banyak musuh dan jd incaran banyak pihak. Say abicara fakta-fakta saaj. Ketika Rosa ditangkap dan disidik KPK, ternyata KPK menemukan bukti-bukti kuat bahwa Andi Malarangeng terima suap dari PT Adhi Karya. Suap itu diterima Choel Malarangeng atas perintah Andi Malarangeng. PT adhi karya adalah kontraktor pengganti yg direkayasa sbg pemenang. Semula Nazar ngotot bhw proyek Hambalang harus dimenangkan PT. Duta Graha Indah (milik sandiaga uno/patner nazar). Tapi Menpora tidak mau. Meski PT. DGI sdh mengeluarkan suap ke Andi Malarangeng, pejabat-pejabat Kemenpora dan DPR, andi tetap tolak PT. DGI. Suap itu dikembalikan. Adhi karya yg kemudian menggantikan suap 100 milyar yg sdh disepakati unttk proyek hambalang. Andi dapat 20 M, nazar terima 50 M& DPR 20 M.

Nazar belakangan mengakui bahwa uang 50 miliar diterimanya adalah untuk pemenangan Anas di kongres. Padahal faktanya Nazar pakai. Nazar pakai juga utk bantuan pemenangan andi malarangeng dan Marzuki alie. Nazar bermain cantik pasang banyak kaki. Belakangan, sesuai dengan “deal” Nazar dgn istana, Nazar menimpakan semua kasus-kasus korupsinya ke anas. Kompensasinya nazar dibantu. Disamping Nazar dibantu untuk dapat vonis ringan di kasus-kasus korupsinya, keluarga nazar yg disandera juga sebagai jaminan. Nazar patuh. Padahal keterlibatan anas dlm kasus hambalang dan kasus-kasus korupsi Nazar tidak punya bukti langsung yang kuat. Itu sebabnya anas berani sumpah. Sumpah anas yg dikenal dengan Sumpah Monas itu ternyata kemudian dipelintir habis oleh media-media yang sebagian besar dikendalikan musuh-musuh Anas. Opini sudah terbentuk sesuai dengan skenario. Kasus Anas selain dimanfaatkan istana juga dimanfaatkan partai2 politik lain untukhancurkan PD.

Sementara itu KPK yg sampai saat ini tdk punya bukti keterlibatan anas habis2an ditekan dari segala penjuru utk segera TSK kan anas. Padahal sebelumnya, KPK disebut2 sudah berencana TSK andi malarangeng berdasarkan bukti2 dan kesaksian rosa. Status TSK tsb dibatalkan. Sekarang skenario istana sedang babak belur. Rencana utk mundurkan anas dgn bentuk opini publik sdh gagal. KPK malah mau TSK kan andi. Usaha menekan KPK dan bentuk publik lainnya juga dilakukan Nazar. Sesuai dgn “skenario singapore” nazar harus terus sudutkan anas

Semula Nazar sempat mbalelo karena tidak percaya dan kecewa dgn janji2 Istana. Itu sebabnya dia gertak istana melalui tele wawancara. Pada telewawancara di salah satu TV swasta tsb, nazar sempat sebutkan keterlibatan Ani SBY, Ibas dan Andi M dlm korupsi2nya. Publik tentu masih ingatkan pernyataan nazar tsb? Akibatnya istana buru2 kirim utusan utk jumpai nazar di spore. Nazar kembali dijinakan. Nah, kemudian sbgmn yg kita ketahui, nazar kemudian “lari” dari singapore sebelum SBY “perintahkan” polisi utk jemput nazar ke spore

Kembali ke konstelasi politik nasional. Isu Korupsi Partai Demokrat yg sebenarnya melibatkan banyak tokoh2 penting lintas partai. Tetapi media massa nasional secara terus menerus diarahkan utk “melemparkan kotoran” ke muka anas. Seolah2 anas sendiri yg “kotor”. Publik tentu ingat kasus “geger di KPK” beberapa bulan yg lalu ketika Samad memaksakan status tersangka pada angie dan miranda?. Padahal pada saat penetapan tersangka pada angie dan miranda, KPK tidak memiliki 2 alat bukti yg cukup. Bahkan sprindik saja tdk ada !

Sikap Samad yg tetapkan status tersangka angie& miranda ditentang oleh internal KPK. Tapi samad maju terus, dia ditekan istana dan media. Tekanan thdp Samad utk segera TSK kan angie meski tidak ada sprindik dan 2 bukti adalah hasil tekanan istana dan opini. Istana berharap dengan penetapan TSK thdp angie dan miranda, maka anas akan dapat dijerat melalui kesaksian2 Angie dan Partai2 oposan seperti PDIP dan Golkar akan diam karena elitnya terkait erat dengan kasus miranda gultom. “sekali tepuk 2 nyamuk”. Sementara itu, untuk lebih membungkam partai lain2 (PDIP, Golkar dan utamanya PKS), istana manfaatkan kasus korupsi banggar Wa ode. Kasus wa ode dapat menjadi pintu masuk KPK utk menangkap para elit PKS, PDIP dan Golkar. Tapi KPK tdk lakukan pengembangan kasus wa ode. Lalu menkeu yg semula siap beri kesaksian memberatkan utk jerat Anis Matta, Tamsil cs, tiba2 batalkan kesediannya bersaksi. Ada apa?

Saya bukan bela anas. Mungkin saja dia terlibat kasus korupsi atau suap. Tapj saya melihatnya dari perspektif grand design yg ada. Saya menganalisa setiap isu2 yg dilontarkan..siapa pelempar isu, siapa yg goreng, yang nampung, yg kembangkan dan kemana arahnya?

Media massa kita sebagian besar sudah dikendalikan kekuatan2 politik dan ekonomi. LSM2, tokoh2 dst..juga terkontaminasi kepentingan. Sebagian lagi media massa ikut ikut arus mainstream. Kemana opini bergerak, media massa ikut. Sadar tidak sadar sdh masuk dlm jeratan. Sebagian lagi mengikuti skenario opini karena “kesamaan kepentingan”. Seperti TEMPO misalnya, elitnya “anti” HMI dan Islam. Akhirnya apara hukum termasuk KPk dan majelis hakim “terpaksa” menghukum orang yg tak bersalah demi memuaskan opini publik

Sama seperti skrg ini, KPK ditekan opini publik. Samad ketua KPK jd boneka istana dan kelompok elit “makassar” yg menjadi king makernya. Kepentingan elit TEMPO adalah bgmn presiden mendatang berasal dari komunitas mereka. Seperti Budiono atau sri mulyani. Ini politik media. Maka terjadilah “trial by Press”. Hampir sama kasusnya dengan kasus “pembunuhan” nazarudin oleh antasari. Opini dibentuk. Rakyat ditipu. Skrg coba kita berfikir jernih : dimana istri dan anak nazar ? Kenapa tidak ditangkap? Bgtu Sulitkah mencari ibu bersama anak2 yg buron?. Kenapa Polisi tdk mampu menangkap ibu bersama anaknya yg buron? Tak mampu atau tak mau? Apa motifnya ? Kenapa media tak ada yg ungkap?. Apakah logis jika kita simpulkan bhw neneng dan anaknya sengaja disandera agar nazar tidak berikan kesaksian yg sebenarnya? Disetir?. Lalu logiskah kita simpulkan kenapa anas tidak juga ditetapkan jadi tersangka karena sebenarnya KPK belum punya bukti yg cukup?

Sekaranf anas sdh “dihukum” publik. Dicap sebagai koruptor dan harus diseret ke penjara. Siapa yg diuntungkan jika itu terjadi?. Siapa yg diuntungkan jika anas diseret ke penjara meski bukti2 tidak kuat? SBY? Ical? Wiranto? Mega? Prabowo? JK ? Siapa?. Belum lagi jika anas hancur pertahannya dan “melawan balik” SBY /Cikeas. Sbg ketum PD dia tahu semua busuk SBY/Cikeas dan Demokrat. Jika hal itu yg terjadi, maka geger politik indonesia yg terjadi skrg ini berobah menjadi “kiamat politik”. 2-3 thn ke depan “perang”. Jika terjadi “perang politik” dan saling menghancurkan siapa yg rugi? 1. Partai Demokrat (pasti hancur), 2. Ekomoni Indonesia (hancur)

Siapa yg untung? Yg untung hanya partai2 politik lain yg mendapatkan limpahan suara rakyat karena demokrat hancur berantakan.. Saya selalu melihat sesuatu masalah secara komprehensif. Apakah rakyat indonesia sdh siap diperintah Golkar kembali? Siap dipimpin Ical?

Apakah rakyat indonesia sdh siap menerima kenyataan bahwa RI dipimpin Prabowo? Atau Gita ? Ditengah kenyataan JK sulit menang.

Apakah rakyat indonesia siap menghadapi instabilitas politik dan ekonomi yg ditimbulkan “perang politik” elit bangsa ?

Apakah RI rela terus2an dikendalikan penguasa zalim, neolib, munafik antek barat? Apakah rakyat sadar bhw semua ini “sandiwara” ?

Lihat sekarang penegakan hukum kita. Tajam ke bawah tumpul ke atas, hancur. Negara darurat korupsi, narkoba & mafia. Negara kita LEMAH !

Pengadilan, kepolisian, kejaksaan, KPK, BPK, BPKP, inspektorat, DPR, partai dst..penuh dengan kebusukan, korup dan penindas !

Sementara Presiden kita sibuk dengan citranya. Poles wajah kanan kiri belepotan bedak tebal. Istana pusat korupsi seperti kata amin rais

Lihat sekarang ini apa yg bisa kita banggakan? Korupsi no. 4 sedunia. Indek korupsi naik terus. Ekonomi tumbuh ditopang konsumsi dan SDA

Negara kita ini sdh dalam cengkaraman konspirasi global. Dibuat lemah dan dihancurkan. Hukum jadi alat politik. Penguasa munafik.

Media massa kita hanya jadi commercial tools dan pembentuk opini pesanan. Tidak berani kritis karena takut kehilangan bisnis.

Saya ajak kita semua utk hati2 mencerna informasi. Jgn telan semua opini. Pakai akal dan hati nurani. Berfikir fair & objektif. Sekian.

tribnnews.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung Flora di Malang …

Abdul Malik | | 02 August 2014 | 08:36

Yuk Kenali Serba-serbi Njagong …

Giri Lumakto | | 01 August 2014 | 23:14

Akankah 3-5-2 Menggeser Tren 4-2-3-1? …

Muhamad Rifki Maula... | | 01 August 2014 | 23:30

Di Balik Akasia …

Langit Senja | | 01 August 2014 | 08:37

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Koalisi Merah Putih Tetaplah Merah Putih, …

Hanny Setiawan | 13 jam lalu

Jokowi Belum Dilantik, PKB Sudah Nagih Jatah …

Ikhlash Hasan | 13 jam lalu

Libur Lebaran, Bertemu Bule dan Supir Isteri …

Hendry Sianturi | 18 jam lalu

Membuat Tanda Salib di Pusara Ir. Soekarno …

Kosmas Lawa Bagho | 18 jam lalu

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: