Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ilyani Sudardjat

"You're the soul of the soul of the Universe..and your name is Love….- Rumi - selengkapnya

Trend Menangnya Partai Islam di Negara-negara Sekuler

OPINI | 07 June 2012 | 21:59 Dibaca: 1040   Komentar: 57   15

Kemenangan partai berbasis Islam dari Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir, lagi lagi merupakan rangkaian kemenangan partai islam di negara negara sekuler di timur tengah.

Rangkaian itu bermula dari kemenangan partai islam, AKP (partai keadilan dan pembangunan) di Turki yang sekuler abis sejak tahun 2003. Turki yang sekarat ekonominya (pertumbuhan minus), membaik dibawah kepemimpinan Erdogan, dan bisa menikmati pertumbuhan ekonomi 9-11%.

Dengan keberhasilan ini, pada pemilu 2011 lalu, partai AKP kembali memenangkan pemilu, sehingga Erdogan dapat kembali menjadi PM Turki untuk kedua kalinya.  Dan dibawah kepemimpinannya pula, beberapa aturan kaku para pemimpin Kemalis yang melarang azan, sholat berjamaah di tempat umum, jilbab di tempat publik, jadi dijinkan. Kan istrinya sendiri juga jilbaban.

Sementara politik luar negerinya, yang aku lihat, beberapa kali dia mengadakan kunjungan ke Iran, dan menegaskan akan tetap membeli minyak iran, walo UE dan AS sudah memberi peringatan negara negara yang hendak membeli minyak Iran tersebut. Begitu juga kunjungan Menteri Luar Negeri Iran ke Turki, untuk menjalin hubungan yang lebih strategis. Sedangkan kepada Israel, Erdogan menegaskan, dia tidak akan tinggal diam, jika Israel menyerang Gaza dan Lebanon.

Itu adalah Turki. Kemudian, ketika Arab Spring melanda negeri negeri Arab, dimulai di Tunisia, menjalar hingga  Libya, Mesir, Yaman, trend itu juga terlihat ketika negara negara ini mengadakan pemilu. Kecuali Libya dan Yaman, yang seperti dagelan proses arab springnya, negara negara lain relatif smooth. Maksudnya gak gitu diganggu, hehehe. Kalopun diganggu, rakyatnya, seperti mesir, masih panasan dan punya kebanggaan sendiri dengan negaranya.

Dimulai dari Tunisia, partai islam En Nahda memenangkan pemilu parlemen. Sementara Marokko yang juga sekuler, yang Arab Spring nya setengah setengah, ketika mengadakan pemilihan parlemen juga dimenangkan oleh partai berbasiskan Islam, yaitu Justice and Development Party (JDP). Namanya sama kek di Mesir, karena semua organisasi/partai diatas bisa dirujuk kembali dari pergerakan IM nya Hasan Al Bana.

Partai Partai Islam di Indonesia

Nah, kalo di Indonesia, sejak reformasi, partai partai Islam memang bermunculan bak jamur dimusim hujan. Tetapi, bisalah kita lihat, bahwa partai tersebut hanya meraih suara yang imut, dan partai yang eksis pun itu itu saja, yaitu PAN, PKS, PPP, PKB, yang rata rata ‘cuman’ 7%. Bahkan kalo digabung semuanya pun, paling banter cuman 28% (makanya jangan disalahin, ye, kalo parlemennya korup banget…#ngeles.com).

Mengapa disini yang mayoritasnya muslim, partai islam tidak mampu meraih suara signifikan? Ada beberapa faktor yang kritis:

1. brainwash Suharto selama 32 tahun berkuasa berhasil untuk menanamkan bahwa yang penting di indonesia itu adalah militer. Ketika dia berkuasa, posisi politik semuanya diserahkan kepada militer, mulai dari menteri, dubes, gubernur, walikota hingga  camat. Dan islam politik adalah sesuatu yang ‘mengerikan’ bahkan jikapun partai Islam itu berideologikan Pancasila. Makanya ketika pemilu setelah reformasi, partai Golkar, yang bisa dikatakan ‘baju’ nya militer, tetap bisa menang (no.2 kalo gak salah).

2. kelas menengah yang seharusnya menjadi kekuatan penggerak di indoensia, merupakan kelas yang tidak independen. Ini kelas yang lemah, karena semuanya berpatron (istilah halus dari menjilat, hehe), kepada kelas elit penguasa. Dan pada masa Suharto pula, kelas menengah pribumi muslim dikempesin habis (para pengusaha independen). Hampir seluruh produk strategis negara ini, mulai dari migas, pertambangan, terigu, beras, dstnya diberikan kepada keluarga dan kroninya.

3. Organisasi massa seperti NU dan Muhammadyah, walaupun mengklaim memiliki puluhan juta (bisa jadi 70 - 80% dari penduduk muslim Indonesia) pengikut, tetapi tidak mampu mengembangkan kemampuan organisasi, leadership dan manajerial yang tangguh. Kader kader yang militan nya gak ada. Lebih suka seperti pemadam kebakaran.

Kalau ada isu, baru ditangani. Kalo ada kelompok ecek ecek, preman berjubahlah, baru ribut, hehee. Padahal kalo ada kemampuan kepemimpinan,  lobby dan  negosiasi, dialog, apa sih yang gak bisa diatasin? Massa, organisasi sebesar ini lemah terhadap kelompok kecil tapi vokalnya gak ketulungan itu? Apalagi ada yang punya Banser loh, hahaa.

Kecuali, kalo emang kelompok kecil ini ‘katanya’ kuat banget, karena ‘katanya juga’ di back up oleh militer atau mantan militer. Makanya gak pernah diproses hukum. Tanya kenapa? hehee

Dan terakhir, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk mengubah ideologi negara Pancasila. Itu dah final, dan mengakomodir rakyat untuk beragama. Cuman, yang suka menggelitik adalah, apakah kalau dari partai yang berbasiskan Islam, dia bisa lebih siddiq (jujur), amanah (dipercayai), fatonah (cerdas) dan tabligh (kemampuan komunikasi, leadership)? Apakah lebih bisa mempunyai self control yang lebih baik berhadapan dengan korupsi?

Dan kalau dia melakukan 3 perkara ini, dia (pelaku politik islam) sadar dan sesadarnya bahwa dia termasuk golongan munafik? Yaitu jika berkata, dia berdusta,  jika berjanji, dia ingkar dan ketika diberi amanah, dia berkhianat?

Apalagi, kalo sampek terjebak untuk memuja diri sendiri. Segalanya tentang keakuannya. Jadinya jaim deh, ribet, maunya tentang ‘aku’ melulu dan gak fokus kepada rakyat yang harusnya dilayaninya. Yah wassalam deh, alias masukin ‘kandang’ .

Itu saja kok….:)

Ya Sudah, Salam Kompasiana!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ma’nene, Ritual Pembersihan Mumi di …

Armin Mustamin Topu... | | 29 August 2014 | 01:17

Mafia Migas di Balik Isu BBM …

Hendra Budiman | | 29 August 2014 | 00:55

Tantangan Pembangunan Kesehatan Jokowi 01: …

Suprijanto Rijadi | | 29 August 2014 | 07:45

Anak Kami Tak Diakui Kemdikbud (?) …

Nino Histiraludin | | 29 August 2014 | 08:03

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 4 jam lalu

Soal BBM, Bang Iwan Fals Tolong Bantu Kami! …

Solehuddin Dori | 7 jam lalu

Gaduhnya Boarding Kereta Api …

Akhmad Sujadi | 7 jam lalu

Jokowi “Membela” Rakyat Kecil …

Melvin Hade | 8 jam lalu

Saya Pernah Dipersulit oleh Pejabat Lama …

Enny Soepardjono | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Subsidi Amanat Konstitusi …

Hendra Budiman | 7 jam lalu

Di Bawah Tekanan …

Avenir Luna | 7 jam lalu

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | 8 jam lalu

Sudah Saatnya Anak Berkebutuhan Khusus …

Lifya | 8 jam lalu

Delft, Kota Pelajar yang Menjanjikan …

Christie Damayanti | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: