Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Hanvitra Dananjaya

Saya adalah seorang pencinta keindahan.

Obama: Presiden yang Menulis

OPINI | 06 June 2012 | 10:31 Dibaca: 307   Komentar: 1   0

Apa yang membedakan Presiden Barack Husein Obama dengan presiden-presiden lainnya di seluruh dunia? Jawabnya adalah karena ia menulis. Sebelum menjadi presiden, ia terlebih dahulu menulis beberapa buah buku antara lain Audacity of Hope dan Dreams from My Father. Kedua buku bercerita tentang kehidupannya dan visinya untuk Amerika yang akan datang. Dari kedua buku tersebut dapat ditarik benang merah mengenai siapa Obama, apa pemikirannya, dan apa yang telah dia lakukan untuk komunitasnya.

Ini yang membedakan Obama dengan presiden-presiden sebelumnya. Jika Obama menulis buku, Ronald Reagan, George H. Bush, Bill Clinton, dan George W. Bush hanya mengandalkan koneksi dan jaringan politiknya. Visinya tak tampak sebagai presiden. Andaipun mereka punya visi, hal itu tidak dituliskan dalam sebuah buku yang menyebabkan sulit bagi masyarakat AS maupun dunia mengetahui karakter sang pemimpin. Kalaupun visinya tertulis, maka itupun dilakukan oleh penulis-penulis bayaran, bukan mereka sendiri.

Obama memang berbeda. Lahir sebagai blasteran Kenya dan AS, bukan hal yang mudah bagi Obama untuk diterima sebagai warga AS. Apalagi sewaktu ia lahir, rasisme masih kuat di AS. Obama berjuang menjadi warga negara AS. Apalagi Obama tidak lahir dari keluarga politisi. Ibunya seorang dosen sedangkan ayah kandungnya seorang ekonom dan ayah tirinya seorang karyawan perusahaan minyak biasa asal Indonesia.

Pendidikanlah yang membentuk Obama menjadi seperti sekarang. Ia kuliah di Harvard Law School yang prestisius, menjadi Presiden jurnal ilmiah hokum terkemuka di AS, dan menjadi community organizer. Ia berhasil menggalang dukungan berbagai kalangan untuk berbagai program pemberdayaan masyarakat. Perjalanannya dimulai sebagai seorang senator. Ia menolak bekerja sebagai pengacara di sebuah firma hokum terkenal yang bersedia membayarnya mahal. Obama lebih memilih menjadi seorang politisi yang intelektual.

Sewaktu Obama maju sebagai presiden AS, rakyat AS sedang dilanda krisis moral. Invasi AS ke Irak dan Afghanistan membuat negeri Paman Sam itu dibenci oleh hampir seluruh dunia. Apalagi kebijakan unilateral Presiden George W. Bush tidak menimbulkan simpati dunia. Rakyat AS mulai mempertanyakan efektifitas kebijakan anti-terorisme Presiden Bush. Mau dibawa kemana Amerika?

Di saat yang tepat itulah Obama hadir. Ia menawarkan sesuatu yang berbeda: harapan. Ia memberi harapan bagi rakyat Amerika. Ini bukan omong-kosong. Obama menawarkan visi dan misinya dalam buku-bukunya. Ia menulis, tidak hanya berbicara di depan publik. Bukunya ini yang menjadi landasan setiap tindakannya. Apalagi kebanyakan rakyat Amerika terdidik, mereka mudah menyerap buku-buku Obama.

Visi Obama jelas, Amerika yang baru untuk dunia. Untuk itu ia bersedia merevisi kembali kebijakan counter-terrorism AS, mengurangi defisit anggaran belanja negara, dan memperkuat pendidikan. Obama menyerukan perlunya subsidi untuk sektor-sektor yang penting bagi AS seperti pendidikan dan kesehatan. Dan nyatanya kita bisa melihat sekarang. Obama mulai memproteksi ekonomi AS kembali. Tentara AS perlahan ditarik dari Irak. Tentu saja dengan sedikit catatan, kita tak bisa memungkiri peran AS dalam penumbangan Muammar Khadafy.

Poin yang ingin ditekankan di sini adalah bahwa seorang calon presiden tidak hanya mempunyai kemampuan retorika, tetapi juga sebaiknya kemampuan menulis. Obama telah membuktikan politisi yang menulis mempunyai visi yang lebih kuat untuk masa depan bangsa. Politisi yang menulis adalah politisi intelektual, bukan politisi bayaran.

Hanvitra

Juara II Lomba Resensi Buku “Dreams from My Father” karya Barack Obama yang diselenggarakan oleh Penerbit buku Mizan dan juara III lomba esai mahasiswa Islam. Alumnus Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melukis Malam di Bawah Lansekap Cakrawala …

Dhanang Dhave | | 21 October 2014 | 13:50

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | | 21 October 2014 | 11:59

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | | 21 October 2014 | 10:02

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 4 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 7 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 7 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 9 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Gara-Gara Konflik, Warga NU di PPP Akan Lari …

Diskusi Gemasaba | 8 jam lalu

Jangan Tagih Janji Jokowi …

Slamet Dunia Akhira... | 8 jam lalu

Terima Kasih Pak Begawan @Boediono …

Arif L Hakim | 8 jam lalu

Satpam Internaional Asli Bule Ramaikan Pesta …

Teberatu | 8 jam lalu

Citilink Kok Nggak Ngaret Lagi Sih…? …

Sony Hartono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: