Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Zen Muttaqin

AKU BUKAN APA-APA DAN BUKAN SIAPA-SIAPA. HANYA INSAN YANG TERAMANAHKAN, YANG INGIN MENGHIDUPKAN MATINYA KEHIDUPAN selengkapnya

” Jokowi, Dan Perilaku Masyarakat”

REP | 28 April 2012 | 12:23 Dibaca: 1304   Komentar: 8   2

1335614553585294642TRIBUNNEWS.COM/YOGI GUSTAMAN, Calon Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) sedang makan nasi di warung tegal dekat Masjid Sunda Kelapa Menteng, Jumat (6/4/2012). Seusai sholat Jumat, masih mengenakan baju koko, Jokowi makan siang sambil menyerap aspirasi warga.

.
Kemacetan di Jakarta acap kali disebabkan oleh adanya kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh sekelompok organisasi berbasis agama. Bahkan tidak tanggung-tanggung, sejumlah organisasi ini menutup satu ruas jalan untuk kepentingannya tersebut.

Bakal calon Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, mencoba menanggapi fenomena yang kerap terjadi hampir tiap pekan di beberapa titik di wilayah Jakarta. Jika ia terpilih, cara yang ditempuhnya adalah mengajak organisasi ini untuk berbicara bersama.

“Ada yang namanya intervensi sosial. Pendekatan sosial. Kami akan gunakan itu. Pelan-pelan diberi penjelasan,” kata Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo, dalam Mengupas Visi dan Misi Cagub DKI Jakarta, di Perpustakaan Pusat UI, Depok, Jumat (27/4/2012).

Permasalahan yang timbul saat ini, lanjutnya, tidak ada penjelasan bahwa apa yang menurut suatu kelompok baik belum tentu dapat diterima positif untuk masyarakat lain. Terlebih lagi dengan kondisi masyarakat di Jakarta yang beragam terdiri dari suku, agama dan ras.

“Harus pelan-pelan. Ajak ngobrol dan coba dijelaskan. Beri ruang dan beri solusi harus kemana mereka melakukan kegiatan tapi tidak mengganggu masyarakat lain agar ada win-win solution,” jelas Jokowi.

Seperti diketahui, beberapa organisasi keagamaan kerap mengadakan kegiatan yang menutup ruas jalan dan pada akhirnya mengakibatkan kemacetan.

http://pilkada.kompas.com/berita/read/2012/04/27/18155937/Ini.Komentar.Jokowi.Untuk.Organisasi.Berbasis.Agama

===============================================================

Social engineering adalah disiplin dalam ilmu politik yang mengacu pada upaya untuk mempengaruhi populer sikap dan perilaku sosial dalam skala besar, baik oleh pemerintah atau kelompok swasta. Dalam arena politik, timpalannya dari rekayasa sosial adalah rekayasa politik .

Terkesan Berkonotasi negatif. Namun, hukum dan pemerintahan berusaha mengubah perilaku dengan “rekayasa sosial” . Larangan larangan dan nilai nilai dalam masyarakat yang menghambat masyarakat yang tidak diinginkan. merupakan tugas perekayasaan sosial untuk mengubah sikap masyarakat yang negatip tersebut. ( Sumber Wikipedia)

Ada dua pendekatan , yang biasa di gunakan adalah, pendekatan Legal Formal yang tentu merupakan Komitmen Bangsa dalam menjaga Negara tetap ada dan berdiri. Tetapi pendekatan Legal Formal itu sangat perlu tapi belum cukup memadai. Karena banyak sekali hal hal yang tak bisa diselesaikan dengan hanya pendekatan Legal formal. Keyakinan dan Keragaman Budaya adalah salah satunya yang susah diselesaikan hanya dengan mengacu kepada Legal Formal, karena Keragaman Budaya dan Adat Istiadat adalah sesuatu yang tak mungkin bisa di laksanakan dan dipandang dengan mengeneralisasi didalam Asas  Non Diskriminasi. Setiap Keyakinan dan Nilai nilai yang terkandung dalam masyarakat merupakan sesuatu yang Unik yang tak bisa tergenelasisasi Nilai dalam platform yang sama.

Disinilah peran Pemimpin untuk bisa menjabarkannya dalam suatu kebijaksanaan yang bersifat pendekatan Non Legal  Non Formal, yaitu dengan Pendekatan dan Komunikasi Sosial. Tidak hanya Rekayasa Sosial yang bersifat Legal Formal saja tetapi juga harus menggunakan Rekayasa Sosial yang Non Formal dan Non Legal. Acuan utama dan Obyektifitas didalam satu kerangka Kebersamaan dan Persauaraan dengan kerelaan memberikan Sumbangan dan Pengorbanan dari masing2 Kelompok dan Kepentingan untuk memperoleh cara hidup yang saling menghormati dan saling menghargai serta mengerti dan menjaga kedaulatannya masing2.

Jokowi adalah salah satu orang yang telah menjalaninya dengan Pendekatan Sosial Non Formal dan Non Legal ini, dengan dasar melalui Komunikasi Sosial, dan ini sudah dilakukannya di Solo, dan terbukti berhasil. Fenomena fenomena masalah masalah sosial di masyarakat yang berhasil diselesaikannya sebenarnya dengan hanya  menggunakan prinsip2 Komunikasi sosial, walaupun yang di selesaikannya menyangkut Pengaturan dan Pemenuhan Legal Formal yang berdasarkan Aturan dan Perundangan yang berlaku.

Sudah lama Pendekatan Sosial yang dimaksud ini, sudah sejak jaman dahulu, sejak Proklamasi NKRI, Bung Karno telah sering menggunakannya, dengan menjadikan Sam Ratulangi sebagai Tokoh dan contoh yang berjuang melawan Penjajah, yang waktu itu menggunakan Azas Legal Formal sebagai alat Perekayasaan Sosialnya.

Maka dengan berbekal Falsafah dari Manado Sam Ratulangi mengenalkan Perekayasaan Sosial Non Formal dan Non Legal, Beliau mensitir Falsafah dari Tanah Manado dikenal dengan falsafahnya: “Si tou timou tumou tou” yang artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia. ( Sumber Wikipedia)

Sejak Bung Karno menghadapi segala macam tantangan yang tak sedikit, dalam mempertahankan NKRI tetap Utuh, maka Pendekatan Non Formal dan Non Legal ini adalah andalan tetap berdiri tegaknya NKRI hingga kini

Bahkan Suharto yang demikian ketat otokrasinya, tetapi tetap saja masih menggunakan Rekayasa Sosial Non Formal dan Non Legal ini. Baru setelah Suharto lengser seluruh perangkatnya luluh, terikut juga nilai nilai dan manfaat yang baik tergerus oleh arus Reformasi, yang cenderung lebih mempercayai nilai nilai Legal Formal, yang sampai kini tak jelas arah dan tujuannnya.

Di Era Reformasi, Bersamaan dengan itu,hilanglah Pendekatan Sosial Non Formal dan Non Legal, tertiup angin perusak hilang musnah tak lagi ada bekasnya. Seluruh Pemimpin dan tentu bersama masyarakatnya kehilangan cara untuk menyelesaikan masalahnya. Semua tertuju hanya kepada cara Rekayasa Social Legal dan Formal saja. Menghancurkan dan menghilangkan sisi sisi Kemanusiaannya menghancurkan tali ikatan persaudaraan dan kebersamaan, membangun dinding2 tinggi, menggaris tegas batas demarkasi diantara masyarakat, diantara Keyakinan dan Kepercayaan, Adat istiadat, dan Nilai nilai. Justru menjadi pemicu dan peyebab asal muasal dan ajang pertikaian dan perpecahan. Tak pernah lagi ada dan tenggelam cara cara yang menggunakan pendekaatan sosial masyarakat yang di bangun dengan Pengertian, Penghormatan dan Saling Menghargai dan Menjaga Kedaulatan yang lain.

Hanya Gus Dur yang berusaha kembali menggunakan pendekatan ini dan sering mensitir Sam Ratulangi, tetapi Gusdur berada dalam dunia yang telah tertutup telinga dan hatinya, sehingga semua yang telah diupayakannya belum pernah ada dan dilaksanakan. justru malah semakin terlena, masyarakat tergila gila dengan pendekatan formal dan legalnya.

Situasi yang sudah rusak parah ini, muncul seorang pemimpin yang melawan arus dan tak lazim di masa Reformasi, banyak hal yang dia lakukan, sebenarnya hanyalah sederhana, bagaimana Pendekatan Sosial itu mampu menjadi Alat komunikasi yang Efektip dalam menyelesaikan masalah2 diluar Legal Formal. karena Legal Formal, hanyalah sebuah keputusan dan kertas tak berguna kalau tak bisa terlaksana didalam masyarakatnya.

Kuncinya hanya satu “MENJADI MANUSIA KALAU MAMPU  MEMANUSIAKAN MANUSIA ” maka tak aneh dan tidak sederhana, apa yang dilakukannya dinilai sementara orang adalah kerja yang fenomenal. Padahal lebih dari itu, bukan hanya sekedar kerja kecil dan sederhana, tetapi merupakan kerja kebudayaan yang bersahaja, tetapi merupakan gerakan besar adalah REVOLUSI KEBUDAYAAN

Maka kerja kebudayaan yang memang sudah ditunggu mansyarakatnya. akan memperoleh sambutan yang juga dahsyat, terpendam keinginan yang sudah lama yang tak pernah memperoleh jawabannya, seperti halnya mengembara di padang pasir yang terlihat seringkali fatamorgana. Begitu menemukan oase nya, maka tak ada kata lain selain menengadahkan tangan dan menyambutnya dengan rasa syukur kepada Alloh Sang Pencipta, yang telah memberi tetes air membasahi kerongkongan yang sudah lama dahaga.

Maka mudah semua masalah akan selesai, dengan pendekatan sosial yang dilakukan oleh seorang dengan karakter yang kuat dan pemimpin yang sarat dengan komitmen serta konsisten menjalani dengan tumaninah. Sabar dan terus mencari jalan penyelesaian yang terbaik bagi masyarakatnya.

Semoga Alloh, memberikan jalan terbaik dan memberikan penerangan dengan hidayatnya, agar bisa membuka mata dan hatinya menerima tulus pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah dan memberi ketenangan dan ketenteraman dalam kehidupan. amiin.

Pilihlah Gubernur Yang memang harus dipilih

Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !

.

Jakarta, 27 April 2012

.

Zen Muttaqin

.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 2 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 4 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 4 jam lalu

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Dampak ‘Mental Proyek’ Pejabat …

Giri Lumakto | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: