Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Rafli Hasan

columnist, urban traveler, blogger

“Demi Rakyat”

OPINI | 28 April 2012 | 15:21 Dibaca: 107   Komentar: 2   0

Khianat yang paling besar adalah jika seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya

(HR. Ath-Thabrani).


Pada waktu pemerintah hendak menaikkan harga BBM, salah seorang Ketua Partai terbesar menyatakan dengan bahasa politis nan diplomatis “bahwa demi keselamatan ekonomi nasional, demi berjalannya pembangunan nasional, juga demi kesejahteraan rakyat Indonesia, maka partai Damn*** memahami langkah pemerintah untuk menaikkan harga BBM.” Lain di Jakarta lain pula di Aceh, saat kampanye calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, salah seorang kandidat calon asal partai lokal terbesar menyatakan “demi rakyat Aceh kami akan memperjuangkan kesejahteraan rakyat, memajukan perekonomian warga dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Aceh.”

Semuanya berbicara “demi rakyat” dengan mengobral janji dan mimpi, namun kiranya perlulah diingat bahwa setiap kata-kata janji yang terucap adalah suatu kewajiban untuk dilunasi.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda,”Ada empat sifat, yang apabila ada pada diri seseorang, maka ia adalah seorang munafik tulen. Dan apabila ada salah satu sifat dari yang empat sifat itu, maka ia telah ada salah satu sifat munafik pada dirinya sehingga ia meninggalkannya; jika dipercaya berkhianat, jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mungkir/ingkar dan jika berselisih ia curang” (Muttafaq’alaih H.R.Bukhari dan Muslim).

Di kala para pemimpin telah terpilih, maka setiap kata dan ucapnya adalah janji yang patut dilunasi sebab apabila tidak, maka sama halnya dengan menyia-nyiakan amanah yang dibebankan kepadanya sehingga tidak saja menjadikannya pemimpin yang munafik tetapi juga pengkhianat bagi rakyatnya yang telah mempercayakan amanah juga bagi agamanya sebagaimana hadist berikut menyebutkan:

Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji.” (HR Ahmad dan Al-Bazzaar).

Menjadi tantangan terberat bagi seorang pemimpin untuk mengemban amanah yang maha dahsyat beratnya untuk memenuhi harapan-harapan rakyatnya selama ini. Ketika seorang rakyat jelata memilih seseorang untuk menjadi pemimpinnya kelak, maka di saat itulah kepercayaan telah diserahkan demi merubah segala hal yang menyengsarakannya. Itu baru pengharapan seorang, bagaimana dengan jutaan rakyat yang memilihnya? Maka jutaan beban amanah itu harus dijawab dengan kerja keras yang tulus ikhlas dengan memberikan pengabdian yang terbaik bagi rakyatnya.

Begitu berat dan kompleksnya persoalan yang terjadi di Aceh, jumlah pengagguran yang begitu besar, rakyat miskin yang belum berkurang secara signifikan, keamanan yang jauh dari kata stabil dengan banyaknya terror dan intimidasi, kesejahteraan yang masih sangat jauh dari kehidupan masyarakat yang kerap dilanda bencana alam ini. Dapatkah berbagai persoalan di atas dijawab dengan kerja keras tak kenal lelah oleh sang pemenang? Harapan tetaplah harapan sebagai wujud ketidakputusasaan namun waktu lah yang akan menjawab segalanya. Bersama rakyat sebagai pemberi amanah kita berkewajiban mengawasi perjalanan pemerintahan Aceh di tahun-tahun mendatang. Semoga harapan menjadi kenyataan.

Amien Yaa Robbal’alamiin.

Rafli Hasan

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Taman Bunga Padang Pasir …

Ferdinandus Giovann... | | 24 July 2014 | 19:07

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: