Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Suryokoco Suryoputro

Saya sedang berusaha menjadi Pembelajar dan pemerhati peristiwa sejangkauan saya memandang. SMS saya 088801317164 dan BBM selengkapnya

4 Pilar Kebangsaan, Gagasan Lupa Sejarah dan Pembodohan…?

OPINI | 06 April 2012 | 22:34 Dibaca: 2541   Komentar: 2   0

1333708378744858772Dari semangat sosialiasi 4 Pilar kebangsaan yang dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang merupakan majelis tertinggi pemegang kedaulatan rakyat, ada sesuatu yang layak kita cermati dan diskusikan bersama.

Kita mulai dari kata PILAR, pilar adalah tiang penguat / penyangga, artinya bila ada 4 pilar kebangsaan maka ada empat tiang penguat / penyangga yang sama sama kuat, sama sama tinggi untuk menjaga atap kebangsaan Indonesia. Dalam konsep bangunan jawa dikenal “saka guru” atau pilar utama.

Empat pilat yang dimaksudkan oleh MPR antara lain Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, dasar negara Pancasila, NKRI, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Merujuk dari hal tersebut maka UUD, Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika adalah kekuatan yang sama besar dan sama kokoh. Inikah sebuah kebenarannya….? sungguh masih harus ada ruang untuk kita mendiskusikan

Mencoba Mengurai Kebangsaan Indonesia

Sejarah kebangsaan Indonesia dimulai dari Berdirinya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908, dimana tujuan yang hendak diwujudkan adalah “Indonesia Merdeka”.

Tahapan berikutnya adalah Sumpah Pemuda 28 oktober 1928 menyebutkan ”Pertama. Kami Poetera Dan Poeteri Indonesia Mengakoe Bertoempah-Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. Kedoea. Kami Poetera Dan Poeteri Indonesia Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. Ketiga. Kami Poetera Dan Poeteri Indonesia Mendjoendjoeng Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.”.

Pada 28 oktober 1928 ini pula lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan menandakan kelahiran pergerakan nasionalisme seluruh nusantara untuk Indonesia Merdeka.

Jelas dan tegas pemuda Indonesia sepakat bertumpah darah satu tanah Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia dan menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Sejarah kebangsaan ini berlanjut dengan dirumuskannya dasar negara Indonesia yaitu Pancasila pada 1 juni 1945 dan pada akhirnya lahir sebuah negara kebangsaan yang bernama Indonesia dengan adanya Proklamasi 17 agustus 1945.

Sebagai tuntutan sebagai sebuah Negara bukan sekedar bangsa, maka disusunlah Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang dalam pembukaan alenia 3 dan empat jelas menyebutkan “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Majelis Rakyat Melupakan Sejarah

Melihat kenyataan sejarah tersebut diatas, maka sangat jelas dan tegas konsepsi empat pilar kebangsaan Indonesia yang didengungkan oleh MPR adalah sebuah kesalahan besar. Kesalahan besar itu karena majelis rakyat tersebut telah melakukan tindakan melupakan sejarah.

“JAS MERAH”, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, demikian diucapkan Bung Karno dalam pidatonya yang terakhir pada HUT RI tanggal 17 Agustus 1966. JAS MERAH yang dikumandangkan Bung Karno agaknya terlupakan Majelis Rakyat kita.

Oleh karenanya sepertinya kita tidak akan menjadi bangsa Indonesia yang besar apabila tidak menghargai sejarah seperti para anggota Majelis Rakyat tersebut.

Majelis Rakyat Melakukan Pembodohan

Dengan mendasari pada makna Pilar sebagai sebuah tiang penguat / penyangga dan Pancasila menjadi salah satu bagiannya, maka jelas telah terjadi Pembodohan atas pemahaman kebangsaan Indonesia dimana ada empat tiagg berdori tanpa ada dasar atau pondasi yang jelas.

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia haruslah ditempatkan pada dasar berpijak dari semua semangat kebangsaan Indonesia, karena Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Undang Undang Dasar Negara sesuai pembukaan UUD 1945 RI alenia empat dengan jelas dan tegas mendasar pada Pancasila. Dan Bhineka Tunggal Ika hanyalah sebuah semangat dari sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia.

Jadi rasanya tidak berlebihan bisa peluncuran empat pilar kebangsaaan dinilai sebagai sebuah kesalahan besar dan pembodohan bagi Rakyat Indonesia. Bahkan dikuatirkan gerakan empat pilar adalah usaha untuk melakukan pelupaan sejarah yang berakibat pada tidak akan tercapainya bangsa Indonesia yang besar, karena hanya Bangsa Yang Mengahargai Sejarahlah yang akan menjadi Besar.

Mungkin ini hanya kebodohan berpikir saya yang hanya rakyat biasa, bukan legislator, bukan politisi dan bukan tokoh nasional…..

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 7 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 12 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 13 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 15 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Preman …

Bhre | 7 jam lalu

Bercanda, Berfilsafat! …

Wahyudi Kaha | 8 jam lalu

Persipura Punya 5 Kandidat Pelatih Baru …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Hujan …

Gusranil Fitri | 8 jam lalu

Renungan Malam Tahun Baru 1436H: Ketika Doa …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: