Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dafri Hayani

Aktif sebagai Tenaga pendidik

Meneladani Kepemimpinan Abu Bakar As Sidiq

REP | 27 March 2012 | 15:51 Dibaca: 1755   Komentar: 1   0

Abu Bakar As Sidiq, salah satu khalifah terbaik sepanjang sejarah.Sepeninggal Rasulullah SAW ia pun diangkat menjadi Khalifah.Di hadapan rakyatnya ia mengucapkan sebuah pidato yangmerupakan pernyataan pertama setelah ia memangku jabatan sebagai Khalifah. Setelah mengucapkan puji syukur kepadaAllah Abu Bakr radiallahu ‘anhu berkata:

” Saudara-saudara. Saya sudah terpilih untuk rnemimpin kamu sekalian, dan saya bukanlah orang yang terbaik di antara kamu sekalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Kebenaran adalah suatukepercayaan, dan dusta adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di kalangan kamu adalah kuat di mata saya, sesudah haknya saya berikankepadanya, insya Allah, dan orang yang kuat buat saya adalah lemah sesudah haknya nanti saya ambil ,insya Allah. Apabila ada golonganyang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Apabila kejahatan itu sudah meluaspada suatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka. Taatilah saya selama saya taat kepada (perintah) Allah dan Rasul-Nya. Tetapi apabila saya melanggar (perintah) Allah dan Rasulullah maka gugurlah kesetiaanmu kepada saya. Laksanakanlah salat kamu,Allah akan merahmati kamu sekalian.”

Ungkapan Abu Bakar As Sidiq diatas sesungguhnya mencerminkan sebuah ketulusan, keikhlasan, dan rasa tanggung jawab, serta sebuah kesadaran bahwa ia sebagai pemimpin tidak akan berarti apa – apa jika tanpa dukungan orang sekitarnya,posisi yang ia capai adalah wujud kepercayaan padanya.Atas kepercayaan tersebut ia tiada mengenal lelah menyusuri tiap lorong, mendengarkan keluh kesah rakyatnya,dan melakukan kebijakan yang mensejahterakan mereka.

Jika kita lihat potret berbangsa kita dewasa ini, akan sangat kontradiktif, dengan mudah kita jumpai seorang pejabat yang telah terpilih dalam memangku jabatan untuk mengurusi rakyat dengan bangganya meninggalkan rakyatnya.Walaupun tidak semuanya demikian.

Ungkapan saat dipromosikan/ kampanye, tanpa batas mengumbar janji – janji manis, masuk lorong sempit, turun ke pasar-pasar,menghampiri wong cilik, dan semacamnya. Pada intinya masa kampanye adalah masa tebar pesona.

Namun,ketika putaran waktu berganti, ketika rakyat telah memilihnya ia pun berubah, pejabat tersebut sulit ditemui,ia hanya akan berbicara dari “menara” dan pusaran “singasananya”,kebijakannya pun segera berubah, dari pro rakyat menjadi pro golongan,kelompok, bahkan wujud terima kasih ia pun mati matian untuk partainya.

Rakyat hanya bisa menghela nafas panjang, sembari berdo’a, semoga yang sedang bertahta kembali dalam kebenaran, kembali membuka catatannya saat kampanye, ketika janji diucapkan.

Abu Bakar As Sidiq dengan keberanian dan keteguhan hatinya-pun mempersilakan rakyatnya mengkritisinya, bahkan meninggalkannya jika ia (sebagai pemimpin) keluar dari jalan kebenaran.

Pidato Abu Bakar tersebut mengajarkan pada kita bahwa seorang yang berkuasa harus selalu siap untuk dikritik, mendengarkan keluhan rakyatnya, bukan rakyat yang selalu harus mendengarkan curhatan hatinya,kegalauannya,dan kecemasannya.

Lihatlah mereka yang hanya bisa beristirahat di bawah kolong jembatan,lihatlah mereka yang bergelut dengan sampah, lihatlah mereka yang terbujur kaku karena kelaparan, lihatlah…lihatlah…Semua mereka sesungguhnya sangat terancam, namun mereka tiada mengeluh karena bisa jadi mereka sudah tahu tidak akan didengarkan.

Abu Bakar As Sidiq adalah seorang khalifah yang luar biasa kepekaannya.Tiada berlebihan mencoba mentransfer nilai kepemimpinan beliau .

Harapan itu masih ada.Penguatan tersebut sangat mutlak diyakini oleh kita sebagai rakyat, kita tidak mesti berputus asa ditengah penguasa yang hanya meminta untuk didengarkan tapi anti mendengarkan duka rakyatnya.Kita tetap senantiasa berikhtiar sembari berdo’a, Tuhan mengetuk pintu sang penguasa dan semoga pula kita tidak salah dalam menetukan pilihan.Menentukan pemimpin yang kita yakini mampu member perubahan berarti bagi kesejahteraan rakyat, pemimpin yang mudah ditemui, mau mendengarkan, dan ikhlas berbuat.

Semoga akan lahir pemimpin…yang mampu mentransfer kebenaran dalam tugasnya, dan memaknai / meneladani sejarah tidak terkecuali sejarah kepemimpinan seorang Abu Bakar As Sidiq.

Amien…!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Learning by Doing, Efektifitas Mendidik ala …

Muhammad | | 16 September 2014 | 10:24

Autoethnografi: Dari Pengalaman ke Teks …

Sehat Ihsan Shadiqi... | | 16 September 2014 | 11:06

Asuransi Kesehatan Komersial Berbeda dengan …

Ariyani Na | | 15 September 2014 | 22:51

Awas Pake Sepatu/Tas Import kena …

Ifani | | 16 September 2014 | 06:55

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14


TRENDING ARTICLES

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 4 jam lalu

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 4 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 6 jam lalu

RUU Pilkada: Jebakan Betmen SBY buat Jokowi, …

Giri Lumakto | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Suparto, Penjahit Langganan Jokowi …

Niken Satyawati | 7 jam lalu

Ijasah Bon A dan B Suatu Kenyataan di Era …

Abebah Adi | 7 jam lalu

Hati-Hati, Ini 3 Modus Penipuan Gaya Baru …

Dian Halle Wallahe | 7 jam lalu

Peduli Pelanggan? Mutlak Penting Bagi Pelaku …

Uli Arta Simanjunta... | 7 jam lalu

Lamaran Pekerjaan Ditolak? Apa yang Salah? …

Marlistya Citraning... | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: