Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Kepemimpinan Jokowi

OPINI | 22 March 2012 | 16:06 Dibaca: 447   Komentar: 5   0

Apakah kepemimpinan? Bagi yang sering menghadiri seminar “Leadership” pastilah dengan mudah menjawab apa definisi leadership.  Sayangnya memang banyak orang menghadiri seminar setelah pulang langsung lupa apa isi seminar barusan, apalagi kalo disuruh boss atau dibayarin kantor.  Fakta lain, banyak seminar yang berjudul “Leadership” ternyata isinya motivasi MLM (Multi Level Marketing).  Oh ya, sebelum saya lanjutkan, saya ingin kasih tau hobi saya yang rada nyeleneh, yaitu suka nulis ngelantur..

Saya orang Jawa, jadi gambaran kepemimpinan yang nyanthol dibenak saya adalah “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”.  Wah basa Jawa ya.. ih ngga keren banget.. hari gini paling keren pake bahasa Inggris dong.. lihat aja di seminar2, kalo ngga ke-inggris2an takut ngga laku, takut keliatan ngga pinter, ngga modern, ngga intelek ..  Yah biarlah kalau saya dikira ngga intelek..

Pertama, seorang pemimpin “Ing ngarsa sung tulada” artinya didepan memberi teladan.  Teladan apa? yah, teladan sebanyak mungkin hal.  Teladan kejujuran, teladan kesederhanaan, teladan ketegasan, teladan kreatifitas, teladan kemanusiaan dan lain lain dan sebagainya.

Bagaimana anda menilai para pemimpin negara saat ini?  Bagaimana teladan para anggota DPR, pejabat pemerintah, pengawal keadilan hukum? Rakyat sudah lama tahu, bertahuntahun bahkan puluhan tahun seperti apa..

Kedua, seorang pemimpin “Ing madya mangun karsa” artinya hadir ditengah rakyat memberi perhatian, bimbingan, petunjuk, nasihat, berpihak serta bersamasama menanggulangi berbagai masalah.

Ketiga, seorang pemimpin “Tut wuri handayani”, artinya mengawal dan menjaga dari belakang, mewaspadai apa yang mungkin mengancam dari kanan, kiri atau belakang.

Nah, coba pikir, dalam berbagai masalah para pemimpin negeri anda ini tidak hadir, tidak memberi perhatian, malah melakukan pembiaran dan sibuk sendiri berakrobat politik.  Apalagi mengawal dari belakang, mana ada yang mau berdiri dibelakang rakyat..

Yah itulah 3 (tiga) komponen kepemimpinan yang saya petik dari ajaran Ki Hajar Dewantara, yang barangkali tidak modern dan tidak intelek, bahkan barangkali tidak sesuai jaman sekarang.

Gampang ngomonginnya (dan nulisnya) tapi samasekali tidak gampang melaksanakannya.

Oh ya, anda baca nama saya? Nah pasti anda langsung berpikiran saya ini kampanye.. Oh tidak, tidaaak.. Saya hanya ingin menelaah soal kepemimpinan kok.  Soal Jokowi yah anda nilai sendiri lah.. apakah dia memenuhi 3 komponen kepemimpinan tsb diatas.

Yang akan menentang Jokowi banyak, banyaaaak.. selain dari pesaingnya dan lawan politiknya, terutama ya dari orang2 yang tidak jujur dam memikirkan kepentingannya sendiri di DKI ini.  Tapi yang namanya kehidupan ini tidak akan berubah, bahwa orang baik lebih banyak dari orang tidak baik.

Jokowi belum tentu menang, kita menyaksikan dalam banyak kasus, kandidat yang lebih baik dikalahkan oleh yang kurang baik tapi menggunakan segala cara untuk menang.  Caranya dengan menyebarkan “gizi” dan “vitamin” atau “apel washington”, barangkali dalam kardus durian.  Itu sudah biasa terjadi di negeri ini.

Tapi rakyat butuh kesegaran, butuh terobosan, butuh diperhatikan oleh pemimpinnya, butuh teladan, butuh bimbingan, butuh kawalan atau lindungan pemimpinnya.

Tidak salah kalau orang menilai Jokowi itu wong ndeso yang tidak memahami persoalan Jakarta.  Tapi itu penilaian orang yang ngga ngerti “kepemimpinan” yang kita bahas ini.  Dengan kepemimpinannya, Jokowi pasti akan didukung orang-orang baik dan pintar dan jujur, dan terutama didukung oleh rakyat yang memilihnya.

Orang baik menarik orang baik.  Orang baik didukung oleh orang-orang baik.  Dan yang pasti, orang baik diridhoi Tuhan Yang Maha Baik..

[dukung]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 5 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 5 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 8 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 8 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: