Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Aku Cinta Indonesia: Benarkah?

OPINI | 19 March 2012 | 14:10 Dibaca: 1046   Komentar: 4   0

1332119544843681762

Cinta Tanah Air

“Aku cinta Indonesia” merupakan slogan yang bertujuan untuk meningkatkan semangat kecintaan kepada tanah air dan kepentingan bangsa. Demikian juga “aku cinta produk Indonesia” disemboyankan sebagai lambang kecintaan terhadap barang-barang buatan dalam negeri. Presiden Soekarno merupakan presiden RI yang mampu meningkatkan semangat rakyatnya terhadap kecintaan kepada negerinya yang diiringi dengan pesan-pesan pidatonya agar seluruh sumberdaya alam yang dimiliki bangsa dan negara Indonesia tidak diambil oleh asing, tapi harus dikelola oleh bangsa sendiri walaupun hanya dapat dikelola nanti oleh anak cucu.

Kecintaan terhadap bangsa dan negara RI hakikatnya merupakan semangat untuk membangun bangsa dan negara sendiri apapun kondisinya agar mendapatkan kehidupan bernegara dan berbangsa yang lebih baik. Agar sejalan dengan hakikat ini maka perlu ditanamkan faktor-faktor pendukungnya kepada seluruh rakyat Indonesia. Salah satu faktor tersebut adalah perlunya ada keteladanan dari para pemimpin atau dari presidennya.

Keteladanan

Keteladanan adalah faktor utama untuk menumbuhkan semangat cinta tanah air seluruh rakyat Indonesia. Komponen bangsa yang harus memberikan contoh adalah para aparat negara, baik dari komponen legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Seluruh komponen ini didukung penuh oleh pemimpin bangsanya, mulai dari gaya hidup keseharian, sinkronisasi antara ucapan dan tindakan, berperilaku dalam berbangsa dan bernegara, menjalankan roda pemerintahan yang baik, dan seterusnya.

Kecenderungannya jika pemimpinnya berperilaku sakit maka aparat di bawahnya akan sakit pula. Biasanya pemimpin yang kurang baik mempunyai modal awal yang tidak bersih niatannya, terutama niat untuk membangun bangsa dan negara yang berkehidupan baik dan benar. Pemimpin yang didasari dengan niat ingin menanamkan rasa kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya, pasti rakyatnya tidak akan makmur dan sejahtera.

Dalam hal mencintai tanah air, seorang pemimpin harus mendahulukan kepentingan bangsa dan negaranya di atas kepentingan asing. Saat ini banyak pihak asing yang ingin menguasai harta dan kekayaan negara melalui sistem penjajahan yang elegan. Tidak seperti jaman dulu, negara imperialis akan menjajah negara jajahannya dengan cara kasar, mengerahkan seluruh kekuatan fisiknya untuk menguasai negara jajahannya. Namun saat ini, kekuatan fisik tidak dikerahkan untuk menjajah, tapi dengan kekuatan ekonomi yang ditunjang dengan kekuatan konsep kapitalis yang disebar melalui media yang mapan dan canggih.

Strategi asing yang paling jitu untuk menguasai negara Indonesia adalah mendekati pemimpinnya melalui metode konspirasi yang canggih. Dengan demikian seorang pemimpin yang sudah masuk kedalam kubangan konspirasi tersebut akan memprioritaskan seluruh kepentingan asing tanpa menghiraukan kepentingan bangsa dan negara. Akibatnya rakyat kurang menikmati kekayaan alamnya sendiri. Selain itu, rakyat diarahkan agar kepedulian terhadap kepentingan bangsa berkurang, dan dibangun opini kepentingan global, istilah lainnya adalah globalisasi. Padahal kepentingan global ini tentunya ada makna terselubung yakni kepentingan asing yang masuk melalui para pemimpin dan aparatnya.

Jika demikian halnya, pemimpin tidak dapat menjadi teladan yang baik di mata rakyatnya. Beberapa kelompok masyarakat menjadi bersikap apatis terhadap nilai-nilai kecintaannya terhadap tanah air, karena tidak dicontohkan oleh para pemimpinnya yang cenderung untuk mensejahterakan dirinya sendiri dahulu daripada mensejahterakan rakyatnya.

Cintailah Produk Indonesia

Slogan “aku cinta Indonesia” mempunyai turunannya yakni slogan “cintailah produk Indonesia”. Maraknya kedua slogan ini memberikan isyarat bahwa saat ini di negeri Indonesia sedang ada serangan asing yang sangat kuat, baik serangan pemikiran, serangan produk asing, maupun serangan-serangan opini asing melalui media yang mendominasi di dunia informasi. Masyarakat jadi kurang peduli rasa nasionalisnya, mereka merasa lebih nyaman jika tinggal di negara asing yang kaya, dan tinggal di negeri sendiri menjadi tidak nyaman karena kesehariannya selalu melihat tayangan-tayangan kasus korupsi di berbagai media. Akibatnya masyarakat Indonesia sudah merasa tidak layak lagi untuk tinggal di negeri koruptor. Apalagi bagi mereka yang mempunyai kemampuan akademik yang baik atau mempunyai keterampilan tinggi dengan ditunjang kemampuan bahasa asing, mereka akan mencari penghidupan yang lebih baik di negeri asing yang kaya dan maju. Sebagian besar masyarakat Indonesia sudah dibalut dengan ajaran yang mementingkan materi dalam hidupnya, sehingga dalam hidup ini harus diperlukan materi yang cukup berlebih agar bisa hidup nyaman.

Ajaran materialistis ini merupakan turunan dari ajaran kapitalis yang bersumber dari negara-negara barat. Melalui berbagai media yang menguasai jaringan internasional, pemahaman ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. Perdagangan bebas telah berlaku di negara Indonesia, sehingga dengan leluasanya produk-produk asing telah masuk ke dalam negeri bahkan sampai mematikan pasar produk dalam negeri. Masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan produk-produk asing ini dengan berbagai argumen, ada yang karena harganya murah, atau karena kualitasnya lebih baik, atau karena hanya gengsi semata. Argumen karena gengsi ini sangat membahayakan jiwa nasionalis dalam diri bangsa, karena merupakan kesalahan yang tidak bersistem, sehingga sulit untuk merubahnya dan diperlukan terapi yang cukup lama untuk menyembuhkannya.

Untuk menumbuhkan kecintaan terhadap produk Indonesia tidaklah segampang membalikkan tangan. Selain dibutuhkan kekuatan dari dalam diri sendiri, juga dibutuhkan sistem infrastruktur yang menunjang, dan ini adalah tugasnya pemerintah. Rakyat Indonesia harus dibuat mudah dalam mendapatkan produk dalam negeri. Saat ini kondisinya tidak ada kesinambungan antara slogan “cintailah produk Indonesia” dengan tingkat kemudahan untuk mendapatkan produk Indonesia.

Pasar dikuasai oleh produk impor, mulai dari bahan pangan sampai ke produk teknologi tinggi. Masyarakat dengan tingkat pendapatannya pas-pasan tentunya akan memilih beras impor karena murah. Buah-buahan impor begitu banyaknya di supermarket terkenal di Indonesia, karena bentuk penampilannya yang menggiurkan atau karena rasanya yang lebih enak dari buah lokal. Baju-baju atau produk sandang dikuasai oleh produk asing baik karena alasan murah maupun alasan gengsi yang harganya lebih mahal. Sebagian masyarakat kaya tentunya lebih memilih yang bergengsi, asalkan bermerk terkenal akan dibeli walaupun harganya selangit.

Barang-barang yang berbasis teknologi tinggi sudah barang tentu dikuasai asing. Produk otomotif sangat deras mengalir masuk ke Indonesia tanpa batas. Mobil dan motor merupakan produk asing yang membanjiri seluruh kota di Indonesia. Seberapa pun mewah dan mahalnya mobil, masyarakat kaya Indonesia mampu membelinya. Seberapa pun miskinnya masyarakat miskin Indonesia tetap mampu membeli motor. Hal ini merupakan gejala yang tidak normal, ibaratnya orang kelaparan apapun makanannya pasti akan dimakan.

Untuk mewujudkan masyarakat yang mencintai produk dalam negeri, pemerintah harus melakukan intervensi dalam membentuk karakter bangsa yang kuat. Salah satunya membuat kebijakan yang membatasi produk-produk impor, meningkatkan produktivitas industri dalam negeri, memanjakan para petani dengan cara menjaga hasil pertaniannya dari aspek kualitas, harga, maupun distribusinya, menerapkan pajak tinggi untuk barang-barang konsumtif, dan seterusnya. Banyak putera bangsa yang ahli dalam bidang perekonomian yang nasionalis atau yang pemikirannya lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan negara Indonesia.

Berhati-hatilah

Banyak sekali orang Indonesia yang sudah lama tinggal di negeri asing, rasa nasionalismenya berkurang karena sifat kelokalannya terasimilasi dengan sifat keliberalannya yang identik dengan negeri barat. Mereka menganggap bahwa negeri baratlah tempat hidup yang paling layak di dunia daripada negeri sendiri.

Seperti mantan menteri keuangan yang memang sudah pernah tinggal lama di Amerika, begitu ada hujan batu di negeri sendiri, langsung mencari hujan emas di negeri Amerika. Pola berpikir dan pola hidupnya pun tentu sudah sedikit sekali kadar kelokalannya, namun begitu ada peluang lagi hujan emas di negeri sendiri, maka dia berusaha untuk kembali ke Indonesia lagi. Apakah harus seperti ini, seseorang warga pribumi Indonesia yang mencintai tanah air Republik Indonesia?

Orang pribumi Indonesia asli, jika ingin dianggap mencintai negeri sendiri, maka dia harus ikhlas dan rela dengan keadaan negeri Indonesia yang serba pas-pasan, tapi mempunyai kekayaan alam yang begitu banyak. Kita dapat hidup tenang jika kita mampu menjaga negeri kita sendiri dari serangan asing terutama bangsa asing yang ingin mengeruk harta kekayaan kita.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan calon pemimpin kita selanjutnya, carilah orang lokal yang bergaya hidup lokal dengan tingkat kesederhanaan yang tinggi, dan tingkat kepedulian terhadap bangsanya sendiri. Susah memang!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Buruk untuk Pengguna APTB, Mulai Hari …

Harris Maulana | | 01 August 2014 | 11:45

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Mendekap Cahaya di Musim Dingin …

Ahmad Syam | | 01 August 2014 | 11:01

Generasi Gadget dan Lazy Parenting …

Umm Mariam | | 01 August 2014 | 07:58

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 5 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 8 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 8 jam lalu

SBY-MEGA Damai Karena Wikileak …

Gunawan | 8 jam lalu

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: