Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Engel Mark

Sang Revolusioner

Ayam Jantan dari Timur

OPINI | 15 March 2012 | 00:34 Dibaca: 332   Komentar: 1   0

Banyak orang yang salah mengerti tentang pentingnya kembali ke garis revolusi. Umumnya, mereka berfikir kemerdekaan itu suatu barang yang mati; suatu barang yang statis yang begitu di dapat tidak bisa berubah-rubah lagi. Sehingga, di alam kemerdekaan nasional ini mereka tidak melihat gerak perubahan susunan politik dan ekonomi yang pada hakekatnya mempengaruhi metabolisme kemerdekaan itu sendiri.

Jika, kemerdekaan hanya sebuah kesejahteraan dari satu golongan atau satu daerah saja dan kemudian dengan alasan tersebut mereka mengatakan kemerdekaan sudah mencapai tujuannya.  Hal itu hanya karena mereka adalah bagian dari golongan atau masyarakat tersebut saja. Orang-orang seperti ini telah berfikir dengan sempit, apalagi dengan mendeskriditkan kemiskinan rakyat lain, dengan mengatakan bahwa kemiskinan tersebut, adalah akibat dari kemalasan rakyat itu sendiri.

Kemudian mereka juga mengatakan bahwa Kemajuan ekonomi negara meningkat, dengan PDB yang semakin bertambah, lalu mereka juga menunjukan data-data statistik tentang eksport yang meningkat dan mata uang nasional menguat. Orang-orang seperti ini seperti tidak mengerti, bahwa kemajuan-kemajuan ekonomi tersebut adalah lebih banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing dalam mengeksplotasi kekayaan alam negeri ini; kemajuan-kemajuan kaum kapitalis dalam mengeksploitasi kerja nasional, dan ini berarti, uang PDB tersebut lebih banyak adalah milik pemodal asing, yang setiap saat bisa mereka tarik jika ada krisis di negara mereka atau,  karena ada kepentingan-kepentingan politis lainnya.

Sementara mereka sedang berilusi oleh kebohongan-kebohongan para penguasa yang mereka sembah, hanya karena sering mengisi kantong mereka;  yang mereka puja-puja karena kesopanan-kesopanan tiruan, kita melihat berbondong-bondong rakyat jelata yang bekerja di pabrik-pabrik hidup dengan gaji pas-pasan, bahkan terkadang hanya cukup untuk membayar hutang. Gali lobang tutup lobang.

Apakah mereka buta tentang saudara-saudara kita kaum buruh yang bekerja di proyek-proyek infrastruktur gedung-gedung tinggi dengan kondisi fisik yang kurus, tulang-tulang menonjol, dan mata cekung akibat eksploitasi kerja yang menggila ? Tidakah mereka melihat si tukang becak, si tukang ojek, si buruh tani, si tukang sindang, si pemulung, si pengamen, si pengemis yang semakin membludak, bahkan di kota-kota besar seperti Jakarta ?

Saudara-saudara kita yang oleh “Bung Karno”di sebut sebagai kaum marhaen, yang dalam salah satu pidotonya beliau pernah berpesan seperti ini, ”Hendaknya kemerdekaan nasional itu tidak membuat semakin sulit kaum marhaen, dan oleh karena itu di alam kemerdekaan nasional tersebut maka, kaum marhaen haruslah yang memegang tampuk kekuasaan nasional, harus yang menguasai kekuasaan politik, karena sejatinya kemerdekaan nasional itu adalah untuk kaum marhaen”.

Sekarang kekuasaan nasional macam seperti apa yang sudah dimiliki kaum marhaen;  kemerdekaan macam apa yang dinikmati kaum marhaen, jika ternyata kemakmuran mereka hanya terbatas dari remah-remah sisa para penyembah berhala, kaum komprador.

Sekali lagi, mereka yang memandang kemerdekaan nasional dengan sempit ini, yang hanya melihat ke atas yaitu kaum hedonismo, tanpa pernah melihat ke bawah kaum gembel melarat maka, mereka hanya melihat persoalan kemerdekaan itu dari isi kantong pribadi, tanpa melihat isi kantong saudara-saudara mereka yang lain. Perumpamaan orang-orang seperti ini adalah ibarat “kita menanam padi akan selalu tumbuh rumput, akan tetapi jika kita menanam rumput tidak akan tumbuh padi”. Mereka adalah rumput, dan padi itu adalah jiwa revolusi. Mereka akan selalu ada sebagai ilusi-ilusi revolusi dalam barisan panjang kaum komprador madi rodok, yang jika semakin tumbuh besar akan menjadi benalu bagi jiwa-jiwa revolusi.

Oleh karena hal tersebut, waspadalah kaum revolusioner, karena orang seperti itu bisa ada di sekekeling kita, pun juga kita tidak perlu terlalu khawatir, karena mereka pada akhirnya hanya sebuah ilusi atau fatamorgana di dalam padang revolusi yang pada akhirnya akan hancur lebur, lenyap oleh kekuatan cinta kaum revolusioner yang semakin membara kepada tanah air.
*
Kawan-kawan, kita memang teringgal dengan kaum kapitalis, karena sekarang ini semua bentuk kekuasaan politik dan ekonomi ada ditangan mereka. Tetapi, urusan kekuasan itu bukan sesuatu yang statis atau tidak bisa berubah-rubah. Karena hakekat perjuangan masyarakat memang selalu berubah-rubah, sesuai syarat-syarat materil dan immaterial yang mempengaruhi mereka.

Oleh karena itu, yang terpenting dari semua adalah, semangat revolusi yang berpijak pada kekuatan jiwa, dan yang harus terus dipropagandakan sebelum perjuangan berlanjut kepada bentuk-bentuk kekuasaan ekonomi dan politik. Karena, hanya suara jiwa yang tidak bisa dibungkam; hanya perjuangan jiwa saja yang tidak gampang-gampang dihancurkan. Dan hanya persoalan waktu saja buat kita kaum revolusioner  untuk mempersiapkan lompatan selanjutnya dari seluruh tahapan revolusi sosial dengan kekuatan yang lebih menggeledeg; lebih menggempa, yang akan memporak-porandakan seluruh peradaban Idajil laknatullah yang sedemikian lama bercokol di negeri ini, peradaban kapitalisme.


BANGUNLAH JIWANYA..BANGUNLAH BADANNYA…!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Inilah Reaksi Mahasiswa Australia untuk …

Tjiptadinata Effend... | | 20 October 2014 | 19:16

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

10 Tips untuk Komedian Pemula …

Odios Arminto | | 21 October 2014 | 01:11

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 3 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 9 jam lalu

Indonesia Jadi Tuan Rumah Lagi di Piala AFF …

Djarwopapua | 11 jam lalu

BJ Habibie, Bernard, dan Iriana Bicara …

Opa Jappy | 15 jam lalu

Mie Instan vs Anak Kost (Think Before Eat) …

Drupadi Soeharso | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Mungkinkah? Entah! …

Aisditaniar Rahmawa... | 7 jam lalu

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | 7 jam lalu

Mendayung Di Sungai Ayung …

Aisditaniar Rahmawa... | 8 jam lalu

Apakah Emoticon Benar-benar Mewakili …

Dewi Nurbaiti | 8 jam lalu

Ada Cinta #14 : Bintang Jatuh …

Ryan M. | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: