Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Nikmat Jujur

Anak jalanan tak pernah ngecap Pendidikan…. masih belajar nulis…. sekalpun banyak Cercaan mungkinnya … tapi selengkapnya

Pesan Moral untuk Bangsa

REP | 21 February 2012 | 00:26 Dibaca: 155   Komentar: 0   0

132973697919009803

Kondisi bangsa yang hampir kehilangan kendali, memang harus kita akui, leadership semakin menampakkan wajah asemnya, akibat dimana-mana pada bersuara entahlah dosa apa yang menimpa bangsa ini? tapi patut disyukuri bersama oleh kita, bahwa masih eksisnya seluruh aktivitas pemerintahan saat ini, inilah yang patut kita banggakan, dari pemerintahan saat ini. Karena mengapa dikatakan demikian, karena jika saja kita balik memperhatikan pengalaman dimasa lampau manakala terjadi hal seperti sementara kita alami saat ini, dimasa lampau kala itu langsung saja dapat berimbas pada lemah semua lini aktivitas pembangunan dan pemerintah. Tapi pada kenyataan tidak demikian saat ini, oleh karenanya eksistensi pemerintahan kali ini patutlah diberikan apresiasi tersendiri, yang mana sekalipun harus berjalan berdampingan dengan sejuta tekanan namun tetap mampu menunjukkan eksentuasinya.

Memang terlihat saat ini pemerintah agak sedikit hati-hati, sehingga wajah pelaksanaan roda pemerintahan dan pembangunan seakan melesuh, akan tapi tetap masih menunjukkan performa yang cukup suportif, hanya saja politik menjadi ancaman terberat saat ini, akan tetapi saat ini jika saja pemerintah bijak serta arif, mendudukkan semua permasalahan yang ada sesuai konteks bukan tidak mungkin kita akan melewati fase ini dengan tawakal dan dapat mencapai tujuan dengan sempurna pula.

Politik memang menjadi ancaman terberat saat ini, karenanya pengalaman saat ini hendaknya dapat kita jadikan pelajaran, agar nantinya mau di berdayakan dan dikondisikan seperti apakah, konsep perpolitikan bangsa ini ke depan? Sehingga tidak lagi muncul kendala berarti seperti saat ini. Hal inipun jika saja kita ingin melkukannya maka membutuh kajian mendalam dan intensif, dimana lantas dari hasil tersebutlah, baru boleh dirancang formula baru untuk dunia perpolitikan di tanah air sehingga mampu memberikan nuansa berbeda dimasa akan datang.

Memang pengalaman yang terjadi saat ini, sudah haruslah menjadi input bagi pemerintahan bangsa ini, agar mungkinnya mampu menghadirkan format terbaru dalam bentuk konsep ideal terkait perpolitikan di tanah air ke depan, dan jika tidak entahlah, apa jadinya untuk kemudian waktu nantinya. Tapi sangat diharapkan janganlah sampai semua ini terus berlanjut karena akan bermuara pada bagaimana nasib bangsa ini dikemudian hari.

Kepada para legislator pula saat ini jangan saja jadi penonton dengan tatapan kosong, tapi peraslah otak untuk bagaimana, dapat mensiasati sesuatu yang ideal bagi bangsa ini bukan enak saja nikmati empuknya kursi, tapi jalankan amanat rakyat, dan terus pikirkan keberlangsungan nasib bangsa ini ke depan dengan sejuta ekspeksi, karena motif kehadiran Bapak/Ibu/Saudara saat ini bukan sekedar memikirkan nasib masyarakat lokal atau golongannya semata, yang bersifat pengkotak-kotakan sehingga menjadi pribadi yang kurang ideal bagi bangsa ini, maaf kalau boleh dikata bahwa Bapak/Ibu/Saudara terpilih dan dipilih untuk berbuat bukan untuk sekedar menyandang dasi, tanpa pikiran dan tindakan berdasinya. Mulai saat ini buktikan dong citra berdasi Bapak/Ibu/Saudara!!! Yang adalah wujud tanggung jawab moril yang terikat di leher Bapak/Ibu/Saudara. Sekali lagi segeralah buktikan idealisme masing-masing lewat bagaimana dapat berbuat lebih banyak menyikapi semua fenomena yang ada saat ini, mumpung masih dalam konteks yang belum terlalu kompleks.

Lanjut juga untuk seluruh warga bangsa ini mari kita bersama saling koreksi, ke dalam dan juga keluar, kenapa sih murka ini harus ditimpakan bagi bangsa kita? Siapa sih yang jadi pemicunya? Bagaimana menyikapi dan mencari jalan keluar penyelesaiannya? Jangan lantas terus-terus kita buat aksi tak sepantasnya kita lakukan yang seakan-akan menjadi penghambat kemajuan bangsa, yang sekaligus membahayakan stabilitas bangsa. Mari kita bersama-sama bangkitkan semangat dan kita raih bentuk dan pola terbaru dalam menata bangsa ini menuju bangsa yang penuh kedamaian dan kesejahteraan. Hilangkan segala perbedaan, buang segala sikap egoisme sempit, buatlah wacana yang mengharumkan bangsa, bukan malah buat reseh dan ulah yang aneh-aneh dan sebagai akibat terkontaminasi berbagai hal yang tidak seharusnya menjadi corak dan ciri kehidupan bangsa kita.

Sekali lagi satu padukan langkah, singsingkan lengan bajumu kita bahu membahu bangun bangsa ini dalam konteks keBhinnekaan yang berpatokan pada penghayatan dan pengalaman Pancasila dan UUD 1945 secara baik benar dan tertangung jawab baik secara vertikal dengan YMK maupun horizontal dengan sesama. “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”

“DAMAILAH BANGSAKU - JAYALAH NEGERIKU”

(Goresan Putera Timur Nusantara, 20 Feb 2012)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 17 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 19 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 20 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 21 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: