
Mahasiswa Indonesia, Anak Bapak dan Ibu, Putra Ibu pertiwi ,benci kesewenang-wenangan!
Dibaca: 972
Komentar: 10
1 dari 1 Kompasianer menilai menarik
Huru-hara politik di tahun 2012 semakin memanas, kegaduhan politik di tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya, rakyat disajikan berbagai kenyataan pahit tentang sandiwara para tokoh politik di Indonesia. Presiden SBY pun sudah mengingatkan pada elit politik, untuk mengurangi kegaduhan politik di Tahun ini. Tapi entah kadernya ngeyel atau kepemimpinannya yang kurang ngayomi, buktinya kegaduhan politik tetap terjadi. Bahkan Partai Demokrat sebagai partai penguasa , diserang dari segala penjuru. Kasus M.Nazaruddin yang menyeret nama Anas Urbaningrum bisa jadi merupakan puncak dari segala serangan politik, atau bisa jadi merupakan awal dari serangan mematikan lainnya. Tentunya kita tak bisa menolak pendapat bahwa pasti ada pihak yang mengambil keuntungan dari situasi ini.
Dimulai dari Century :Menggoyang kursi SBY
Analisa saya, sebenarnya usaha meruntuhkan kekuatan demokrat sudah dimulai sejak kasus century. Kasus yang tak tanggung-tanggung menyeret Boediono sebagai Wakil Presiden. Posisi Boediono yang tak berpolitik tentu mengundang pertanyaan. Ada motif apa dibalik ini ? Tentunya jika Boediono ditetapkan sebagai tersangka, maka posisi tawar partai koalisi semakin kuat, dan melemahkan posisi partai Demokrat, baik di eksekutif,maupun Pemilu 2014. SBY tak punya jalan lain selain berkompromi dengan partai koalisi, dan tentunya ini membuat kasus century ke laut toh? Wapres Boediono bukanlah targetman, dia hanya bagian dari sebuah strategi besar menggoyang kursi Presiden.
Nazaruddin menyerang Anas
Target berikutnya adalah Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum. Namanya disebut-sebut dalam kesaksian di persidangan Nazaruddin, Jatuhnya Anas akan berpengaruh pada internal Demokrat, konflik dan ketidak kompakan mulai terlihat. Di televisi para elit berbantah-bantah. dan secara logika, pasti ada pihak yang diuntungkan dari hal ini.Terlepas dari bersalah atau tidaknya Anas, saya menganggap para kader Demokrat harusnya bersatu mendukung kepemimpinannya, karena kalaupun ia bersalah, keutuhan dan kekompakan partai tetap terjaga.
Target terakhir : Eddhi Baskoro
“Anak baru” di politik ini jelas akan jadi sasaran empuk untuk di jatuhkan. Pengalaman dan integritas yang kurang , menyebabkan posisinya saat ini sebagai sekretaris jenderal Partai Demokratkurang diperhitungkan. Jelas Anas punya alasan untuk memberikan jabatan itu, tetapi perlu dicatat, bahwa Ibas-panggilan akrabnya- masih sangat hijau di panggung politik, dan para Elite Demokrat harus menjaga masa depan Ibas, jika tak ingin Demokrat benar-benar runtuh. Walaupun masih hijau, posisinya sebagai anak presiden adalah sasaran tembak lawan politik. Kita tentunya masih ingat dengan apa yang terjadi pada Tommy Soeharto. Kasus yang melilitnya menyebabkan simpati masyarakat pada apapun yang berbau Soeharto berkurang
Tentunya ini sekedar analisa, tapi tak ada salahnya untuk dipertimbangkan.
Dalam politik tak ada kawan dan lawan yang abadi , hanya ada kepentingan yang abadi
Semoga ini bisa memperi pelajaran politik pada kita semua!