Artikel

Arif Khunaifi

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Manusia biasa dari bumi Indonesia...Ingin terus belajar untuk bisa bermanfaat bagi alam semesta...Salam Cinta untuk Anda semua....

Daftar jadi Pemimpin, Berarti Daftar Diri ke Neraka?


OPINI | 10 February 2012 | 22:03 Dibaca: 174   Komentar: 9   1 dari 1 Kompasianer menilai aktual

wordpress.com

wordpress.com

Para pemimpin adalah yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah nantinya di akhirat. Oleh karena itulah sungguh sangat berat sebenarnya untuk menjadi seorang pemimpin. Lalu mengapa banyak orang rela mengeluarkan uang milyaran rupiah untuk menjadi seorang pemimpin?. Itulah pertanyaan kita di balik fenomena banyaknya orang yang ancang-ancang menjadi pemimpin di negeri ini.

Inilah yang membedakan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan ajaran agama dengan orang selalu menuruti hawa nafsunya. Orang yang berpegang teguh dengan nilai-nilai keagamaan tidak akan ingin dirinya diunggulkan di antara orang lain, sedangkan orang yang mengikuti hawa nafsu selalu mengutamakan dirinya di atas orang lain dengan memasang namanya lebih besar.

gogle.com

gogle.com

Sungguh sudah banyak para pemimpin mulai lurah, camat, bupati, gubernur, sampai presiden yang hakikatnya mereka telah banyak berdosa kepada rakyat, tetapi toh masih saja ingin memimpin. Saat menjadi pemimpin mereka tidak peduli terhadap rakyatnya, tetapi belum selesai tugasnya untuk menyelesaikan masalah kemiskinan, dia sudah berjanji lagi.

Ini adalah suatu hal yang ironi disuatu negera yang mayoritas beragama. Tidak ada rasa memanusiakan manusia yang muncul saat melihat rakyat kecil antri minyak, tidak ada rasa empati terhadap mereka yang hidup begitu sengsara. Mereka tetap menumpuk harta dan memupuk kekuasaan dengan segala cara. Mereka tetap bersikeras mendaftarkan diri sebagai pemimpin.

Dalam pandangan Islam, mereka itulah yang sebenarnya beramai-ramai mendaftarkan diri masuk ke dalam neraka. Karena dalam Islam, ketika ada satu saja orang tersesat di suatu jalan, maka pemipinlah yang akan bertanggung jawab dihadapan Allah nanti di akhirat. Sehingga tidak akan ada bagi pemimpin sejati yang hidup penuh dengan kemewahan dengan rakyatnya masih ada yang tidur di kolong jembatan. Tidak akan ada pemimpin sejati yang perutnya penuh, sedangkan masih banyak rakyatnya yang kelaparan. Pemimpin sejati tidak akan membiarkan jalan berlubang yang menyebabkan kecelakaan. Apalagi pengguna jalan telah diwajibkan membayar pajak.

gogle.com

gogle.com

Inilah yang dicontohkan para pemimpin sejati seperti Nabi Muhammad saw, Abu Bakar as-Shidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin abi Thalib, Umar bin Abdul Aziz, Imam Khomaeni, dan masih banyak lagi. Mereka sangat peduli dengan orang-orang yang dipimpinnya, sehingga tidak ada jiwa kemewahan yang melekat pada diri mereka.

Sebenarnya, teori kesederhanaan inilah juga digunakan oleh negara-negara di Eropa tempo dahulu pada saat mereka ingin negaranya maju. Saat itu tidak ada pemimpin negara yang menggunakan mobil atau alat tranportasi yang menggunakan bahan bakar sebagai langkah penghematan sekaligus tercipta suasana atau kondisi negara yang tenang tanpa ada kesenjangan sosial yang mencolok.

Tetapi kita lihat di negeri kita sungguh sangat luar biasa kecongkaan dan kesombongan para pemimpin kita yang mereka itu awalnya adalah dipilih oleh rakyat. Mereka lupa ketika sudah naik mobil mewah berplat merah bahwa itu adalah mobil milik rakyat dan bensinnya pun yang membiayai adalah rakyat.

blogspot.com

blogspot.com

Kita sebagai rakyat tidak bisa berpangku tangan melihat kenyataan semacam ini. Selain dengan sekuat tenaga mengingatkan para pemimpin agar berbuat adil, kita juga harus menjadi orang yang bermanfaat bagi orang-orang yang di sekitar kita dengan membantu orang-orang fakir dan miskin. Walaupun kita tidak dicap sebagai pemimpin, tetapi perbuatan kita itu lebih terhormat dari para pemimpin yang hanya bisa mengobral janji-janji syetan, sedangkan mereka tetap menikmati fasilitas yang serba berkecukupan.

Walhasil, dengan cara itulah negara dan masyarakat kita akan lebih makmur, tidak harus jadi pemimpin yang tertulis dan disumpah untuk menjadikan masyarakat berdaya guna. Jangan ada lagi di antara kita yang mengharap balasan dari apa yang kita itu di dunia, tetapi berharaplah balasan dari Allah di akhirat nantinya, pada saat semua pahala disempurnakan oleh-Nya.

Yakinlah!, desa kita, kecamatan kita, kabupaten kita dan negara kita tidak akan makmur jika para calon pemimpinnya masih menghambur-hamburkan uang untuk membuat baliho agar dirinya dipilih, dan ketika sudah memimpin waktunya banyak untuk nglencer ke luar negeri dan mengutamakan kepentingan dirinya sendiri daripada orang yang dipimpinnya.

Lebih dari itu, sebaiknya kita sebagai generasi penerus bangsa tidak boleh mengulangi kesalahan yang telah dilakukan oleh ’orang-orang’ sebelum kita. Sistem kepemimpinan ’korup’ mereka adalah telah terbukti menyengsarakan orang lain. Sistem inilah yang tidak boleh kita tiru untuk menjadi generasi pemimpin masa depan. Satu kuncinya adalah kesederhanaan dalam segala hal untuk mewujudkan hal itu.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: